22 December 2019, 06:50 WIB

Perempuan Berdaya, Indonesia Maju


MI | Humaniora

Dok. Kemen PPPA
 Dok. Kemen PPPA
Menteri PPPA, Bintang Puspayoga mengapresiasi perjuangan empat perempuan tangguh dalam merebut kemerdekaan Indonesia 

MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga mengajak para perempuan untuk berani mewujudkan mimpi mereka. Dengan mengejar mimpi, kata Menteri PPPA, perempuan mampu berkiprah dengan kemampuan yang lebih baik.

Bintang Puspayoga mengatakan peran dan kiprah perempuan sangat mulia, seperti mendukung karier suami dan membesarkan anak. Namun, katanya, perempuan juga mempunyai keinginan untuk dirinya sendiri.

“Ketika berdialog dengan ibu-ibu di desa, mereka sampaikan ingin anak mereka sekolah tinggi, ingin suami sukses ke depan. Saya ingin memotivasi perempuan di seluruh Indonesia mereka harus punya keinginan untuk dirinya sendiri,” ujarnya dalam acara bakti sosial untuk para pejuang perempuan sebagai rangkaian Peringatan Hari Ibu di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (20/12).

Peringatan Hari Ibu yang dirayakan setiap 22 Desember, tahun ini mengangkat tema Perempuan Berdaya, Indonesia Maju.

Perempuan, menurutnya, harus punya keinginan selaku individu di ranah publik. Oleh karena itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) dalam tahuntahun mendatang akan fokus pada pemberdayaan perempuan.

Untuk itu, kata Menteri Bintang, ia ingin supaya ada pelatihan usaha bagi para perempuan di desa sehingga mereka mandiri. Pada rangkaian Peringatan Hari Ibu (PHI) yang ke-91 pada 2019 di Semarang, Menteri PPPA melakukan bakti sosial yang diberikan pada empat pejuang perempuan dan perempuan disabilitas. Pemberian bantuan dilakukan bertempat di Jalan Kesatrian G 5, Jatingaleh, Semarang, dan Dusun Senggrong, Desa Terban, Suruh, Semarang, Jawa Tengah.

Ia menilai para perempuan tersebut sangat menginspirasi. Empat orang perempuan pejuang yang dikunjungi Menteri Bintang Puspayoga ialah Endang Sarwo Asih Sutopo, Wediniati, Soedarti R, Joelia Soedardjati. Mereka tergabung dalam wadah Wirawati Catur Panca. Para perempuan pejuang tersebut tidak hanya berkiprah di Kota Semarang, tapi juga turun ke medan perang sampai ke daerah sekitarnya, seperti Klaten hingga Boyolali.

“Saya sering menyampaikan dari generasi demi generasi, pasti perempuan itu berubah. Tahun demi tahun pasti ada perubahan pada perempuan, tapi ada satu yang tidak berubah bagi perempuan ialah perempuan pejuang,” paparnya.

Perempuan, imbuhnya, dapat menjadi pejuang dalam bidang apa pun, baik bidang ekonomi, pendidikan, ataupun sosial budaya. Dalam berbangsa dan bernegara, Menteri Bintang Puspayoga menekankan perempuan harus ikut merawat nilai Pancasila.

“Perempuan adalah pendidik pertama dan utama bagi bangsa,” ujarnya.

Menteri PPPA juga memberi perhatian kepada perempuan disabilitas bernama Puji Astuti, 19, yang tinggal di Dusun Senggrong, Desa Terban, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang.

Puji merupakan penyandang disabilitas cerebral palsy dan mikrosefalus. Orangtuanya bekerja sebagai petani. Pada kesempatan itu, Menteri PPPA memberi bantuan berupa kursi roda, tongkat kaki empat, kebutuhan spesifik kaum lansia berupa daster, susu, pamper, dan selimut, ditambah dengan sembako.

Untuk perempuan disabilitas, Kemen PPPA memberikan bantuan dalam bentuk tempat tidur pasien dengan tiga crank dan kursi roda, serta sembako.


Pahlawan ekonomi

Pada kesempatan sebelumnya, Menteri PPPA mengingatkan perempuan Indonesia harus menyadari bahwa mereka mempunyai akses dan memiliki kesempatan yang sama dengan kaum lakilaki.

Bahkan, perempuan bisa menjadi ‘pahwalan’ ekonomi keluarga. Banyak hal yang bisa dilakukan perempuan, misalnya, menjadi pelaku usaha.

“Sudah saatnya perempuan mulai melakukan upaya preventif dengan berwirausaha, yang nantinya akan berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ujar Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga di Karangasem, Bali, beberapa waktu lalu.

Pernyataan Bintang Puspayoga mengemuka saat berdiskusi dengan para pendamping dan nasabah program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera PT Permodalan Nasional Ma dani (Persero) atau dikenal PNM Mekaar.

Menyoroti isu kesejahteraan keluarga, persepsi yang terbentuk di masyarakat ialah suami sebagai tulang punggung keluarga. Sementara itu, peran istri hanya berkaitan dengan urusan domestik.

Bintang Puspayoga menegaskan persepsi itu harus diubah. Menurutnya, seluruh unsur memiliki tanggung jawab dan kewajiban terhadap
kesejahteraan keluarga.

“Setiap keluarga seharusnya mempunyai strategi untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh anggota keluarga. Peran perempuan dalam sebuah rumah tangga layak diperhitungkan dan perlu dikembangkan. Bukan berarti semua ibu harus meninggalkan rumah dan anakanak demi bekerja mencari nafkah. Akan tetapi, harus ada pembagian peran yang setara dalam keluarga,” pungkas Bintang Puspayoga.

Saat ini banyak perempuan yang sukses di bidang wirausaha. Tentunya mereka berperan dalam menopang ekonomi keluarga. “Saya ingin agar kita semua, baik pemerintah, dunia usaha, khususnya BUMN, bisa menjalin kerja sama. Bersinergi demi kepentingan perempuan dan anak di Indonesia. Saya optimis jika kita menyatukan kekuatan, niscaya apa menjadi tujuan akan tercapai dengan lancar,” kembali ditegaskan Bintang Puspayoga.


Tantangan

Di sisi lain, pada Kongres Perempuan I di Semarang, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu, Bintang Puspayoga menyampaikan sejumlah tantangan dalam memajukan perempuan di Indonesia.

“Jumlah perempuan yang mengenyam pendidikan di tingkat perguruan tinggi lebih banyak jika dibandingkan dengan laki-laki. Akan tetapi, angka partisipasi kerja, perempuan masih di bawah laki-laki, sekitar 5 dari 10 laki-laki,” terang Bintang Puspayoga, beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, ada hal yang membanggakan. Indeks pembangunan gender dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada 2019, level indeks tersebut mencapai 90,99. Senada dengan indeks pemberdayaan gender yang tecermin dari partisipasi perempuan di lingkungan legislatif.

“Di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, keterwakilan perempuan sudah mencapai 20,87%. Walau masih di bawah kuota 30%, peningkatan partisipasi
perempuan di legislatif sudah mulai terlihat,” ucap Bintang Puspayoga.

Kepada 750 peserta kongres, Bintang Puspayoga mengajak kaum perempuan untuk bersama-sama memikirkan strategi serta mengembangkan model dan inovasi terkait dengan pemberdayaaan perempuan dan perlindungan anak.

Pemerintah dikatakannya sudah memberikan perlindungan dari aspek perangkat hukum. Namun, ke depan diperlukan kerja sama untuk memperkuat strategi pemberdayaan perempuan, berikut perlindungan anak. “Harus bergerak cepat seperti arahan Presiden Joko Widodo. Saya berharap rumusan kongres dapat menghasilkan inovasi dan solusi,” tukas Bintang Puspayoga.

Menyikapi sejumlah tantangan dan mengikuti arahan Kepala Negara, Kemen PPPA menetapkan lima program prioritas PPPA untuk lima tahun ke depan. Pertama, Peningkatan pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan.

Kedua, Peningkatan peran ibu dan keluarga dalam pendidikan/pengasuhan anak. Ketiga, Penurunan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Keempat, Penurunan pekerja anak. Kelima, Pencegahan perka winan anak. (Ind/Rif/Tes/S1-25)

BERITA TERKAIT