21 December 2019, 23:08 WIB

PBNU: Toleransi Jangan Sebatas Ucapan Natal


Abdillah Muhammad Marzuqi | Politik dan Hukum

MI/Sumaryanto Bronto
 MI/Sumaryanto Bronto
Ketua Pengurus Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas

KETUA Pengurus Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas mengungkapkan toleransi dalam Natal tidak hanya sebatas ucapan selamat pada umat Nasrani yang merayakan.

"Akan tetapi tentu tidak sebatas ucapan selamat Natal ya," terangnya di Jakarta, Sabtu (21/12).

Lebih dari Itu, ia mengimbau agar para pemeluk agama untuk membuka ruang dialog antaragama. Ruang dialog itu akan berdampak pada penguatan persatuan bangsa. Sebab menurutnya, semua orang boleh berbeda keyakinan, tapi tetap bersaudara dalam bingkai kemanusiaan.

"Saya lebih setuju dan mengimbau kepada kita semua, jauh lebih bernilai sebenarnya apabila ada kemauan bersama di antara para pemeluk agama yang berbeda untuk membuka ruang dialog antarumat. Ruang-ruang dialogis seperti ini saya kira penting untuk terus menguatkan tali persatuan kita. Meskipun berbeda keyakinan, bukankah kita tetap bersaudara dalam kemanusiaan," tegasnya.

Terkait ucapan selamat Natal, Robikin juga mengemukakan beberapa landasan. Ia menyitir beberapa pandangan ulama. Ada yang melarang karena khawatir mengganggu akidah. Ada pula yang membolehkan dengan pengertian ucapan Natal sebagai bagian dari kesadaran persaudaraan, sekadar hormat kepada kawan, atau berempati kepada sesama warga bangsa. Pendapat kedua masuk dalam dimensi kebangsaan.

"Itu dimensinya ukhuwah wathaniyah. Kalau dalam dimensi itu, menyampaikan ucapan Natal saya kira tidak mengganggu akidah kita," tegasnya.

Ia juga mengungkapkan lebih setuju pada pendapat yang menyatakan ucapan selamat Natal diperbolehkan. Selama diniatkan untuk menghormati atau berempati kepada teman yang Nasrani.

"Dalam konteks ini saya setuju pendapat ulama asal Mesir Pendapat beliau, boleh atau tidaknya ucapan selamat Natal dari Muslim kepada Nasrani itu dikembalikan kepada niatnya. Kalau berniat hanya untuk menghormati atau berempati kepada teman yang Nasrani, tidak masalah. Indonesia kita ini kan negara majemuk. Apalagi ucapan Natal itu dimaksudkan sebagai ungkapan kegembiraan atas kelahiran Nabi Isa sebagai rasul," tegasnya mengutip pendapat ulama asal Mesir Syekh Yusuf Qaradhawi. (X-15)

Baca juga: Mahfud MD tidak Keberatan Ucapkan Selamat Natal

Baca juga: Ucapkan Selamat Natal, Prabowo Disentil Pendukungnya

BERITA TERKAIT