21 December 2019, 21:52 WIB

Obok-Obok HAM Korut, Pyongyang: AS akan Bayar Mahal


Melalusa Susthira K | Internasional

AFP
 AFP
Situasi di Mansu Hill, Pyongyang, pada 17 Desember 2019.

PEMERINTAH Korea Utara (Korut) memperingatkan Pemerintah Amerika Serikat (AS) atas tindakannya yang mengkritik soal hak asasi manusia (HAM) di Pyongyang. Campur tangan AS tersebut hanya akan memperburuk ketegangan dan AS pun harus membayar mahal karena telah melancarkan kritik tersebut.

“Mengkritik catatan HAM Pyongyang hanya akan memperburuk situasi yang sudah tegang di semenanjung Korea, seperti menuangkan minyak di atas api yang membara," terang seorang Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara, seperti dilansir kantor berita resmi Korea Utara (KCNA), Sabtu (21/12).

“AS akan dibuat untuk membayar mahal atas ucapan seperti itu,” sambungnya.

KCNA menyebut, pernyataan Pyongyang tersebut merupakan tanggapan atas keprihatinan yang diungkapkan oleh seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS terkait situasi HAM Korea Utara.

Baca juga:Lima Kapal Selam Nuklir akan Tambah Kekuatan Angkatan Laut Rusia

Menanggapi pernyataan Pyongyang tersebut, pejabat tinggi di departemen Pertahanan AS pun mengaku bahwa militer AS siap untuk menghadapi apapun yang dilancarkan Korut.

Sementara itu pada pekan ini, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mengutuk pelanggaran HAM yang telah berlangsung lama, sistematis, meluas, dan berat di Korut.

Sebelumnya pada awal Desember ini, Korut bahkan menjanjikan akan memberikan "hadiah Natal" jika AS pada akhir tahun nanti tidak datang tawaran konsesi baru bagi perundingan nuklir AS-Korut yang mandek. Dialog antara AS dan Korut menemui kebuntuan sejak runtuhnya pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Hanoi, Vietnam, Februari lalu.

Adapun sejak Agustus lalu, Korut setidaknya telah melakukan empat kali uji coba sistem peluncuran roket ganda super besar. Korut juga menembakkan senjata lain dalam beberapa bulan terakhir karena berupaya meningkatkan tekanan pada Washington, yang memicu kekhawatiran kedua negara tersebut dapat kembali terlibat bentrok. (AFP/Uca/A-5)

BERITA TERKAIT