22 December 2019, 04:55 WIB

Batik Adiluhung dalam Gaya Kekinian


Suryani Wandari | Weekend

MI/Andri Widiyanto
 MI/Andri Widiyanto
Batik Adiluhung dalam Gaya Kekinian

SHORT suit, yakni setelan jas atau blazer dengan celana pendek masih bertahan di tren mode. Gaya busana ini kali pertama dipopulerkan musikus Amerika Serikat, Pharrell Williams, pada 2014 dan kemudian dikeluarkan pula oleh banyak rumah mode dunia.

Kini, short suit dengan nuansa adati hadir dalam koleksi terbaru Iwan Tirta Private Collection. Diperagakan pada Kamis (28/11), di Fairmont Hotel, Jakarta, koleksi bertajuk Mataguru itu salah satunya menampilkan set busana berupa celana bermuda dan jas dalam warna abu-abu gelap yang dipadankan dengan kemeja batik yang menonjolkan warga sogan.

Paduan short suit dengan batik lengan panjang ini terlebih dengan motif klasik, bisa dikatakan cukup baru. Paduan ini pun bentuk dari perkawinan gaya yang sangat kontras, yakni potongan kasual dengan motif yang klasik dan formal.

Widiyana Sudirman, CEO Iwan Tirta Private Collection, mengungkapkan koleksi tersebut memang terinspirasi dari perjalanan karier dan desain Iwan Tirta. Berikut tentang langkah sang maestro, yang berpulang pada 2010 di usia 75 tahun dalam menyatukan batik dan tren mode dunia.

“Ini memperlihatkan bagaimana Iwan Tirta mengadaptasi paparannya terhadap fesyen internasional ke dalam batik tradisional,” ujar Widiyana.

Bukan hanya pada busana pria, label batik premium ini juga melakukannya pada busana perempuan. Kesan klasik berpadu dengan gaya lady like yang romantis lewat gaun batik a-line yang berlapis bahan tile di bagian luarnya. Busana itu makin terkesan kuat dengan outer selutut.


Motif pewayangan dan keraton

Bukan hanya dari sisi paduan gaya, koleksi kali ini memiliki daya tarik dari sisi motif. Kesan batik yang mewah khas label tersebut kali ini disuguhkan dengan motif pohon hayat dan gunungan kekayon.

Dua motif ini biasa digunakan sebagai simbol pembuka pada pertunjukan wayang. Motif-motif berukuran besar, tapi memiliki detail yang rumit, itu, tampil pada sekuens pertama. Palet warna yang mendominasi ialah abu-abu, cokelat, dan juga warna-warna lembut sehingga mengimbangi kesan kuat dan tegas dari motif adilihung tersebut.

Pada sekuens berikutnya, Iwan Tirta Private Collection menampilkan  motif-motif keraton.

“Pada bagian ini sebagai simbol bagaimana perjalanan Iwan Tirta dalam mempelajari batik dari balik tembok Keraton Jawa,” jelas Widiyana.

Ia juga menuturkan, koleksi ini memang dibuat sebagaimana pergelaran wayang yang memiliki babak-babak seperti halnya perjalanan Iwan Titra. Oleh karena itu pula tajuk Mataguru dipilih untuk menunjukkan dedikasi kepada sosok Iwan yang terus menjadi inspirasi mereka.

Pada sekuens ini pula terlihat motif parang, mangkuto (mahkota), dan gurdo sebagaimana banyak ditemukan dalam simbol-simbol pada Keraton Jawa. Motif-motif ini tidak berdiri sendiri, tetapi berpadu dengan motif lainnya seperti halnya kotak-kotak.

Pada babak akhir, ditampilkan busana dengan motif bunga dan burung dengan warna cerah. Budaya Tionghoa yang memang menjadi akar munculnya motif itu makin dipertegas kehadirannya lewat siluet busana, di antaranya ialah kerah tinggi dan jubah panjang.

Lewat busana-busana ini, label Iwan Tirta tidak saja terus melestarikan kekayaan motif batik Tanah Air, tetapi juga mendekatkannya pada pencinta mode muda. Mereka memperlihatkan jika batik bisa terus menjadi bagian mode kapan pun zamannya. (M-1)

BERITA TERKAIT