22 December 2019, 03:35 WIB

Mualamat yang Menakzimkan Alam Semesta


Fetry Wuryasti | Weekend

MI/Adam Dwi
 MI/Adam Dwi
Dra. Premana Wardayanti Premadi Ph.D

MANUSIA ialah setitik debu atau bahkan lebih kecil lagi  di alam semesta. Begitu masifnya jagat raya, sejak dahulu, tak henti manusia mencoba menyingkap misterinya, silih berganti.

Di Indonesia, ialah Dra. Premana Wardayanti Premadi Ph.D sebagai salah satu sosok tersebut. Puluhan tahun Premana yang kini menjabat Kepala Observatorium Bosscha Lembang itu menekuni dunia astronomi. Bahkan, ia menjadi perempuan astronom pertama dari Indonesia yang namanya disematkan pada asteroid di angkasa luar, pada 2017.

Kendati fisiknya mulai terkendala ALS (amyotrophic lateral sclerosis) yang ia sandang sejak 2010, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) itu tak henti menyebarkan kecintaannya kepada astronomi, baik lewat mengajar maupun dengan menginisiasi UNAWE (Universe Awareness for Children) Indonesia.
Ditemui di forum GE Indonesia Recogni­tion for Inspiring Women in Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), Jakarta, akhir November silam, Premana menyempatkan berbincang dengan Media Indonesia perihal dunia astronomi di Tanah Air, juga ALS. Berikut petikannya:

Nama Anda diabadikan pada salah satu asteroid. Bisa diceritakan?
Asteroid itu ditemukan beberapa astro­nom Belanda, pada 1960-an. Saya sama sekali tidak terlibat. Pemberian nama asteroid itu diputuskan salah satu badan di Astronomical International Union. Mereka ada pertimbangan untuk saya, mungkin karena kontribusi ke astronomi dan pendidikan astronomi, terutama untuk anak-anak.
Sebelumnya juga sudah beberapa nama orang Indonesia yang mendapatkan kehormatan menjadi nama asteroid karena mereka dulunya kepala Observatorium Bosscha.

Apa urgensi kita mempelajari astronomi?
Astronomi ialah bagian dari ilmu pengetahuan dasar. Kita dahulu belajar fisika, kimia, dan biologi. Tapi, lingkungan kita yang lebih besar adalah alam semesta itu sendiri. Tata surya, Bumi, pertanyaan-pertanyaan air datang dari mana.

Kita akan lebih bisa mengapresiasi sumber hidup kita, seperti air, energi itu datang dari mana? Lalu, kok bisa ada tanaman yang hanya buka daunnya, mendapatkan energi dengan fotosintesis? Kok manusia tidak bisa berpanas-panas untuk mendapat energi, tetapi harus makan?

Nah, itu sebenarnya energi dari matahari juga. Hanya, datangnya ke rumput. Rumputnya dimakan sapi, sapinya dimakan manusia. Tapi, energi asalnya matahari juga.

Dengan belajar astronomi, kita mempela­jari lingkungan alam kita yang lebih luas sehingga kita tahu dengan lebih reflektif bahwa hidup kita sangat bergantung pada environment alami kita. Akibatnya, kita akan lebih mengapresiasi, misalnya air.

Boleh dijelaskan soal air ini?
Bisa ada air tawar di Bumi, sampai sekarang orang belum tahu (kenapa). Bisa dari meteor, komet, dan asteroid. Yang jelas, (air tawar) bukan sesuatu yang ada terus-menerus. Butuh miliaran tahun untuk membentuk air tawar di Bumi.

Tidak sesederhana dibawa turun air hujan, itu siklus air. Air laut menguap, menjadi awan, dan turun lagi, ya itu-itu saja. Tetapi, sumber air awalnya dari mana, itu tidak bertambah.

Sekarang ada pemanasan global, es mencair ke laut menjadi air asin. Akibatnya, air tawar berkurang. Padahal, ketika dia es, dia air tawar. Jadi, sumber air tawar kita yang selama ini tersimpan di es-es abadi, jumlahnya menurun. Lihat saja tinggal berapa glacier di Puncak Jayawijaya.

Jadi, manfaat belajar astronomi itu ialah mengerti bagaimana alam bekerja, bagaimana Bumi bergantung kepada alam, dan bagaimana manusia dan makhluk hidup lain bergantung.

Bagaimana minat generasi muda kini terhadap astronomi?
Sebetulnya, minat selalu tinggi. Di prog­ram studi astronomi, dari hanya berapa belas orang untuk S-1 per tahun, sekarang 50 anak per tahun. Ketika awal 2000 saya bikin rekapitulasi alumni astronomi, dari tahun 1950-an sampai 2000, jumlahnya lebih sedikit daripada jurusan sipil per angkatan. Sekarang juga sudah ada S-1, S-2, dan S-3. Artinya minat itu banyak. Kami pun menerima mahasiswa pascasarjana dari latar belakang berbeda.

Astronomi sebenarnya sangat menarik. Perkaranya adalah lapangan kerja untuk lulusan astronomi di Indonesia belum banyak. Kita harus kerja bukan hanya untuk menambah lapangan kerja bagi teman-teman astronomi yang masih muda, melainkan juga memperluas jaringan.

Apa peran jaringan itu?
Langit hanya ini-ini saja. Ketika kita melihat galaksi yang jauh-jauh, itu juga yang dilihat astronom di Amerika, Jepang, Afrika, Antartika, dan lainnya sehingga dalam astronomi, jaringan internasional itu adalah modal utama yang besar sekali.

Bahkan, kita tidak harus investasi untuk observatorium besar, cukup berteman dengan teman di tempat lain, nanti tahun depan bisa dapat datanya. Lapangan pekerjaan bisa diperluas seperti itu.

Sekarang, anak-anak S-1 sudah terlibat berbagai penelitian di luar negeri. Anak S-2 sudah bisa ikut conference dan mempresentasikan penelitiannya. Mereka sudah terekspose ke dunia penelitian yang betul-betul real, bukan lagi mendengar dari profesornya saja. Itu satu kesempatan eksposur yang besar dan cepat. Kita bisa melihatnya, kalau mau memajukan science, dalam hal ini astrofisika, dunia internasional adalah the name of the game.

Jadi, fokusnya lebih ke global?
Tentu saja kita perlu mengingat dunia itu (astronomi) di Indonesia bagaimana, Indonesia perannya apa. Kita harus bersama-sama bekerja sehingga leverage pada sisi internasional jalan, tetapi juga membangkitkan lapangan pekerjaan, research project, di Indonesia.

Tentu kita harus punya prioritas juga. Misalnya, kita tidak bikin observatorium besar sebab selain dananya tidak ada, meletakkan teleskop optik di khatulistiwa juga tidak bijaksana.

Yang bisa kita lakukan ialah mengaitkan diri di konsorsium sehingga punya jalur data langsung dari obervatorium besar. Hal-hal itu yang kita perlukan sehingga aktivitas memajukan sains lewat astronomi tetap bisa dilakukan.

Astronomi itu satu pintu untuk masuk ke ilmu STEM lain. Banyak sekali produk yang awalnya dikerjakan orang astronomi untuk kebutuhan astronomi, berdampak ke industri lain pakai, misalnya, tomografi di dunia kedokteran. Wi-fi juga dikembangkan orang astronomi karena kebutuhan internal di observatorium.

Apa kontribusi Indonesia bagi astronomi global?
Bermacam. Untuk Bosscha utamanya teori evolusi bintang. Bagaimana bintang berevolusi dengan cara mengamati bintang ganda. Itu dipelopori oleh astronom Belanda pada 1920-an.

Jadi kita mengamati bintang ganda banyak sekali kemudian kita analisis orbitnya agar bisa dihitung massanya. Massa bintang menjadi parameter utama seberapa cepat bintang itu berevolusi.

Kontribusi yang lain adalah pada fisika matahari, mempelajari perilaku matahari sebagai bintang induk kita dengan sangat detail supaya kita tahu hal-hal yang sifatnya berdampak kepada Bumi, misalnya cuaca antariksa.  Perilaku musiman matahari, kapan matahari aktif, lalu El Nino, La Nina, dampak pada musim, gangguan-gangguan atmosferik, gangguan-gangguan yang berpengaruh pada elektromagnetik, yang bisa membuat listrik mati semua, itu namanya space weather, cuaca antariksa. Itu bisa dipelajari ketika kita bisa mengenali matahari dengan amat teliti.

Selain keterbatasan lapangan kerja, faktor apa lagi yang memengaruhi minat ke jurusan astronomi?
Lebih kepada prioritas menurut saya. Kalau kita lihat, secara umum undangan proposal riset semuanya adalah dampaknya kepada pembangunan nasional, harus ada produk. Astronomi, hasil produknya ialah knowledge. Untuk negara-negara berkembang, itu terkadang belum cukup. Keluaran produk haruslah yang bisa dipakai, meningkatkan ekonomi. Ya susah kita bertanding dengan itu.

Sudah berapa lama Anda menekuni astronomi?
Saya lulus (sarjana) 1988, menjadi dosen. Lalu, saya sekolah lagi dan lulus doktor pada 1996. Saya menjadi dosen penuh pada 1997. Saya di Bosscha dari awal 2000 dan menjadi kepala pada tahun lalu.

Apa yang membuat Anda loyal dengan dunia ini?
Saya tidak pernah bosan karena ilmu pengetahuan berkembang terus. Walau topiknya sama, cara kerjanya akan berbeda. Kemampuan komputasi sekarang dan 20 tahun lalu sangat berbeda. Itu membuat objek-objek (dulu) tidak terlihat, menjadi terlihat. Teleskop yang dari 60 cm, sekarang sekian belas meter. Dulu juga tidak ada teleskop X-Ray.

Jadi selalu ada hal yang perlu kita pelajari karena yang tadinya tidak terlihat, sekarang terlihat.
Yang benar-benar baru dalam astrofisika itu gelombang gravitasi, pertama kali dideteksi pada 2015. Orang menduga itu sejak zaman Einstein, tapi bahkan Einstein dulu tidak yakin ini benar ada atau tidak.

Orang mengembangkan detektornya selama puluhan tahun dan juga mengembangkan cara memprediksi fitur gelombangnya seperti apa. Kita tidak bisa mengamati hanya dengan pasang dan sedapatnya karena alatnya mahal sekali. Jadi apa yang kita desain harus benar-benar sebisa mungkin menangkap sesuatu dan diarahkan ke tempat yang benar.

Apa dampak gelombang gravitasi ini?
Sebenarnya, dampak ke manusia tidak ada karena lemah sekali. Tetapi, yang jelas, selama ini kita mengetahui eksistensi sesuatu karena ada cahaya datang ke kita, foton namanya. Selama ini, foton menjadi kurir informasi. Kurir informasi yang lain, orang belum tahu. Baru kemudian gelombang gravitasi ini.

Jadi, kita bisa tahu ada black hole atau bukan di angkasa luar, walaupun dia tidak kelihatan karena tidak ada cahaya karena gelombang gravitasi sudah datang duluan.

Seperti gunung berapi meletus. Saking jauh, kita tidak bisa melihat gunungnya, tapi kita merasakan getarannya. Kurang lebih seperti itu. Tetapi dengan getaran bagaimana kita bisa mengira gunung berapinya sekian jauh, meletusnya besar atau tidak. Begitu analoginya.

Anda mendirikan Yayasan ALS Indonesia pada 2015. Apa motivasinya?
Penyakit ALS ini jarang sekali dan lumayan tidak lucu karena dia progresif. Ketika saya didiagnosis pada 2010 itu, saya tidak menemukan informasi tentang ALS dalam bahasa Indonesia.

Jadi, saya cari (info) di mana-mana dalam bahasa Inggris. Setelah itu, saya menemukan bahwa statistiknya, walaupun dia langka, sebenarnya tidak juga, 2 per 100 ribu-200 ribu orang.

Orang di Indonesia 260 juta. Katakanlah yang rentan ALS rata-rata berusia di atas 50 tahun, katakanlah 50 juta. Lalu, sebanyak dua per 100 ribu, ada 1.000 kira-kira. Pada ke mana ini orang-orang? Kok tidak ada catatan di dunia kedokteran sama sekali.

Jadi, Anda lalu mewadahi mereka?
Saya beranikan diri saja. Saya baca-baca, terjemahkan. Saya bukan dokter, tapi minimal mengerti (bahasa Inggris). Terjemahan saya tulis di blog. Saya bukan orang yang akrab dengan media sosial sama sekali, tapi saya ingin menemukan teman-teman ALS lain, dan dokter-dokternya yang tahu. Ternyata, banyak dibaca orang.

Akhirnya terkumpul sekian orang yang sama-sama mengalami ALS di Indonesia. Supaya efektif kita bikin yayasan agar nanti ada informasi-informasi tepercaya, saya bisa libatkan dokter saraf yang kemudian akan diperlukan di perawatan selanjutnya.

Saya masih bisa berjalan dan lainnya, tetapi ada teman-teman lain yang sudah susah bernapas, makan tidak bisa, dan lainnya. Artinya stage-nya juga macam-macam. Keperluannya juga bermacam untuk medis dan fisiknya.

Menjadi support system juga?
Yayasan ini membantu bila penderita ALS masih bekerja itu bagaimana. Jadi legal aspects, asuransi, dan advokasi di tempat kerja. Kita mendorong support system. Lalu, kepada mereka yang merawat, terkadang tidak tahu progres dan prognosisnya bagaimana. Jadi banyak di dunia ini yang masih gelap sekali beberapa tahun yang lalu. Sekarang, dengan adanya yayasan ini, minimal kita ada akses informasi.

Kami sekarang ada 70-an anggota. Yang menyedihkan ialah jumlah teman ALS baru lajunya kurang lebih sama dengan yang meninggal tiap tahunnya. Jadi, kami terima 7-10 orang baru per tahun, tapi juga jumlah yang sama meninggal tiap tahun. (M-2)

BERITA TERKAIT