22 December 2019, 00:30 WIB

Penerbang yang Mendeteksi Lingkungan


Furqon Ulya Himawan | Weekend

MI/Furqon Ulya Himawan
 MI/Furqon Ulya Himawan
Penerbang yang Mendeteksi Lingkungan

SEHELAI daun berwarna kuning jatuh dari pohonnya. Mengambang di atas sungai yang airnya jernih dan tenang. Di atasnya, seekor kinjeng atau capung jarum sungai sumba (Pseudagrion calosomum) berwarna biru langit sedang asyik beristirahat, terlihat dari sayapnya yang me­ngatup menjadi satu. Posisinya tepat di pinggir daun, seolah sedang me­ngaca sehingga bayangannya bisa terlihat jelas di atas permukaan air.

Sementara itu, di sekitarnya, seekor capung nilam emas (Libellago lineata) sedang terbang. Tubuhnya berwarna hijau kekuningan, di sebagian perutnya berwarna dominan hitam. Sayapnya terus bergerak terlihat seperti sebuah helikopter yang sedang terbang rendah.

Saat itu ada banyak capung. Tidak cuma capung yang sedang bertengger di daun dan yang menyerupai helikopter sedang terbang. Mereka sedang berkumpul di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Mereka abadi dalam karya seni fotografi yang terpajang dalam ruang pamer BBY, bertajuk Dragonfly, Pengetahuan dan Citra.

Foto-foto itu merupakan karya Wahyu Sigit Rahadi, pendiri Indonesia Dragonfly Society (IDS). Sebuah kumpulan foto yang Wahyu hasilkan selama menjadi pemerhati capung. “Foto-foto ini karya saya sejak akhir 2009 sampai sekarang,” ujar Wahyu saat ditemui di ruang pamer BBY, Selasa (3/12).

Ada 97 bingkai foto capung yang Wahyu pamerkan. Jenisnya beragam, ada sekitar 87 jenis. Wahyu memamerkan karya fotografinya dalam bentuk horizontal dan vertikal, seperti karya berjudul Capung Jarum Sungai Sumba yang berukuran 40 cm x 30 cm.
Foto itu dicetak Wahyu di atas kertas doff tanpa bingkai. Ada juga foto berjudul Capung Nilam Emas dengan ukuran dan media yang sama dengan Capung Jarum Sungai Sumba.

Di kedua foto itu, Wahyu ingin menjelaskan tentang keragaman capung di Indonesia yang memiliki kekayaan jenis capung mencapai 15% dari 5.680 jenis capung di dunia. Keberagaman capung itu karena kondisi geografis dan iklim tropis di Indonesia sehingga memungkinkan bagi capung hidup di kedua musim yang ada, kemarau dan penghujan.

Keragaman capung bisa terlihat dari kebiasaannya, mulai cara bertengger: bertengger model obelix atau menggantung; bertengger di ujung ranting; bertengger di bidang keras, dan lainnya.

Selain menjelaskan foto keragaman capung, Wahyu juga menunjukkan proses reproduksi capung dan metamorfosisnya. Proses itu terabadikan seperti di karya fotografinya berjudul Capung Megar Biru Langit (Lestes praemorsus). Foto berukuran 120 cm x 90 cm itu, Wahyu cetak di atas kanvas. Mengabadikan dua pasang capung yang sedang melakukan aktivitas bertelur.


Metamorfosis

Di sudut lain, Wahyu memperlihatkan proses metamorfosis seekor capung. Di karya itu, Wahyu beri judul Metamorfosis. Wahyu mence­tak foto di atas kanvas berukuran 166 cm x 60 cm. Ada empat visual yang jika digabungkan bisa menjelaskan proses keluarnya nayat atau calon anak capung dengan melepaskan kulit terakhirnya menjadi capung dewasa.

Menurut Edial Rusli, kurator pamer­an, proses peralihan berlangsung antara 30 menit untuk capung dalam kondisi sempurna dan siap terbang bisa memakan waktu sampai sekitar 2 jam.

Dalam catatan kuratorialnya, Edial Rusli mengatakan, proses perekaman metamorfosis itu diperlukan usaha serius, kejelian, dan kesabaran dalam perekaman citra karena prosesnya biasa berlangsung di malam hari sampai dengan dini hari.

Menilik foto Wahyu berjudul Metamorfosis dan catatan kuratorial Edial Rusli, menunjukkan bahwa insting dan pengetahuan Wahyu tentang capung tidak bisa diremehkan. Dia mengetahui detail waktu dan dapat mengambil sudut pandang yang tepat dalam memotret. Akhirnya, Wahyu bisa mendokumentasikan proses metamorfosis capung tengkes biru pada 2011.

“Penciptaan karya ini butuh kerela­an waktu, memerlukan kematang­an teknis, dan insting yang cermat. Kegagalan dalam merekam suatu imaji visual fotografi tentu akan sangat merugikan karena sebuah peristiwa tidak bisa diulang kembali,” tulis Edial Rusli.

Tak hanya keragaman dan proses metamorfosis capung, Wahyu juga menjelaskan detail-detail bagian tubuh capung, mulai mata, kepala, hingga tubuh. Untuk karya ini, Wahyu memaparkan hasil jepretannya di kisaran 2013-2019 dan mence­taknya di atas kertas doff dengan ukuran variatif antara 40 cm x 30 cm sampai 60 cm x 40 cm.


Pendeteksi lingkungan

Kita mungkin abai dengan hewan bernama capung, tapi tidak bagi Wahyu. Baginya, capung merupakan hewan kecil yang memiliki keistimewaan dan memberikan banyak manfaat.

“Saya itu suka memperhatikan hal kecil yang ada di sekitar kita, seperti capung. Meski kecil, capung memberikan manfaat besar,” jelasnya.

Salah satunya, capung bisa menjadi indikator ekologi karena bisa mendeteksi bahwa kondisi air dan lingkungan masih bersih. “Mencermati capung itu langkah mudah dan murah untuk mendeteksi lingkung­an,” ujar Wahyu.

Capung, kata Wahyu, bisa membantu memonitor kesehatan lingkungan. Alasannya, habitatnya bergantung pada ruang hidup yang memiliki kelembapan tertentu. Misalnya, pada perairan yang masih baik, banyak keragaman vegetasi­nya dan airnya masih sehat serta kondisi udara yang masih bersih.

Makanya, capung jarang ditemukan di ruang permukiman atau di kawasan industri. Jika di sebuah perairan atau sungai tidak ditemukan capung, Wahyu berani mengatakan kalau sungai itu airnya sudah tidak sehat.

“Capung meletakkan telurnya di air, menjadi nayat di perairan yang baik. Kalau di perairan yang kotor nayatnya mati,  dan keberlanjutan mereka terganggu. Tapi kalau udara dan airnya sehat, capung masih bisa bermetamorfosis menjadi dewasa,” katanya.

Sayang, apa yang menjadi perhatian Wahyu masihlah menjadi jalan sunyi. Tak banyak yang melirik. Masyarakat Indonesia lebih dekat dengan laboratorium dan alat-alat mahal untuk memeriksa kebersihan air dan udara.

Keragaman dan peran capung telah Wahyu abadikan dalam bidikan. Dia memamerkannya di BBY yang telah berakhir pada 8 Desember. Pengunjung, selain bisa melihat kelihaian Wahyu dalam mengabadikan momen secara detail dan berbagai teknik, juga bisa belajar pentingnya capung bagi ekologi dan keberlangsungan ekosistem.

Mulailah memperhatikan hal terkecil di sekeliling kita, seperti capung yang ternyata menjadi sahabat petani untuk mengendalikan serangga hama dan sahabat semua orang dalam memonitor kondisi lingkungan apakah masih sehat atau sudah rusak. (M-4)

BERITA TERKAIT