21 December 2019, 18:00 WIB

LP3ES: Suara Civil Society semakin Lemah


Putri Rosmalia Octaviyani | Politik dan Hukum

SUARA masyarakat sipil atau publik dalam demokrasi di Indonesia saat ini dianggap semakin lemah. Khususnya di DPR yang didominasi oleh partai pemerintah.

"Suara civil society kalau boleh saya sebut di DPR itu suaranya suara negara semua," ujar peneliti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Didik J Rachbini dalam acara Outlook Demokrasi LP3ES, di Jakarta, Sabtu, (21/12).

Didik mengatakan, di parlemen, suara keras oposisi sudah hampir hilang. Fungsi check and balance semakin memudar di parlemen pascakemenangan partai-partai pendukung Jokowi dalam Pemilu 2019.

"Tidak ada suara yang keras menyampaikan kritik. Ini seperti kembali 20 tahun lalu," ujar Didik.

Anggota dewan di parlemen saat ini cenderung merepresentasikan suara Jokowi dan pemerintahannya. "Suara parlemen untuk check and balance hampir mustahil karena semua yang di sana berebut kekuasaan, tidak memahami sistem. Dengan kosongnya check and balance, demokrasi menjadi cacat," ujar Didik.

Ahli media dan demokrasi Universitas Diponegoro Wijayanto menambahkan, demokrasi di Indonesia memang semakin memudar. Tidak hanya bersumber dari pemerintah, tetapi juga masyarakat.

Wijayanto menilai, masyarakat Indonesia cenderung setengah hati dalam menjaga demokrasi. "Publik selama ini juga setengah hati dalam mendukung demokrasi bukan hanya elite yang oligarki," ujar Wijayanto.

Hal itu salah satunya terlihat dari berbagai kejadian yang terus terjadi belakangan ini di berbagai daerah. Mulai dari penolakan terhadap kepala daerah yang berbeda agama, hingga pembubaran kegiatan agama lain. (X-15)

Baca juga: Politisi Gerindra Harap Dewas KPK Dorong Kasus Century

Baca juga: Wapres: Kesetiakawanan Sosial Atasi Intoleransi & Ketimpangan

Baca juga: Sel Mewah Setnov belum Dibongkar

BERITA TERKAIT