21 December 2019, 15:27 WIB

Akibat Serangan Rezim Suriah, Ribuan Warga Sipil Mengungsi


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

Abdulazez Ketaz/AFP
 Abdulazez Ketaz/AFP
Asap mengepul dari sebuah gedung setelah serangan udara pasukan pro-pemerintah Suriah ke Kota Maaret al-Numan, Provinsi Idlib, Suriah.

PULUHAN ribu warga sipil telah melarikan diri dari Provinsi Idlib, Suriah, ke wilayah perbatasan Turki, setelah kian gencarnya serangan udara yang dilakukan rezim Bashar al-Assad yang didukung Rusia.

Serangan rezim Presiden Bashar al-Assad telah membuat kondisi kemanusiaan yang memasuki musim dingin semakin memilukan.

Pengamat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, Jumat (20/12), setidaknya 18 rbu orang telah mengungsi dari Idlib hanya dalam 24 jam setelah serangan udara mematikan berlanjut.

Pada Jumat (20/12) pagi, setidaknya tujuh orang lagi dilaporkan tewas, setelah setidaknya 19 warga sipil tewas pada Kamis (19/12).

Dalam lima hari terakhir, setidaknya 80 ribu warga Suriah telah menyelamatan diri di dekat perbatasan Turki, menurut laporan yang mengutip Response Coordination Group Suriah.

Sudah ada sekitar satu juta pengungsi Suriah yang tinggal di dekat perbatasan dengan Turki.

Pada September 2018, Turki dan Rusia telah sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona deeskalasi.

Sejak itu, lebih dari 1.300 warga sipil tewas dalam serangan oleh pasukan pemerintah Suriah di zona deeskalasi, menurut laporan.

Mohammed Adow dari Al Jazeera, melaporkan dari Istanbul, Turki, mengatakan pengeboman pemerintah Suriah yang didukung Rusia termasuk serangan udara, penembakan, dan serangan bom barel di Kota Maarat el-Numan yang berad di wilayah selatan Provinsi Idlib, Suriah.

Warga Suriah yang tinggal di daerah tersebut mengatakan serangan itu tidak pandang bulu terhadap rumah sakit, pasar, dan rumah yang menjadi sasaran.

Pada Jumat (20/12), publik yang merah terhadap serangan itu tumpah ke jalan-jalan, dengan ratusan orang di Idlib turun ke jalan untuk mengecam apa yang mereka sebut pengabaian nasib buruk mereka oleh komunitas internasional. Mereka juga menyerukan penghentian pengeboman dengan segera. (Al Jazeera/Hym/OL-09)

BERITA TERKAIT