21 December 2019, 06:20 WIB

Ketika Mata Tuyuloveme Berkelana


Galih Agus Saputra | Weekend

MI/ADAM DWI
 MI/ADAM DWI
Tuyuloveme

Dengan kekuatan mata dalam karya, Tuyuloveme memberi nyawa pada karya grafitinya. Karakter ini semacam alter ego dirinya, melekat dalam karakter bernama Tuyul.

MATA itu tampak tajam. Ia bahkan terlihat cukup mencolok di antara garis dan warna yang saling bertautan. Mata tak pernah bohong dengan apa yang ada di hadapannya, dan oleh karena itu seniman grafiti, Tuyuloveme selalu mengaguminya. Tuyuloveme bahkan selalu menyematkan mata dalam setiap karyanya, termasuk pada grafiti berjudul Be Connected (2019), yang baru-baru ini dibuat olehnya di salah satu kantor penyedia layanan telekomunikasi, di Jalan Merdeka Barat, Jakarta.

Tuyuloveme selanjutnya menjelaskan bahwa mata ialah representasi dari dirinya sendiri. Ia semacam alter ego (aku yang lain) dan melekat pada sebuah karakter bernama Tuyul. Karakter itu ia ciptakan sendiri, yang selanjutnya selalu menjadi bagian dari prosesnya di dunia grafiti, bahkan hingga membentuk nama 'artsy' Tuyuloveme.

"Nama Tuyuloveme saya peroleh ketika suka menulis 'Tuyul' begitu. Terus ada lirik yang kata-katanya Why Do You Love Me, terus aku plesetkan dari situ, jadi seperti gojekan (candaan) saja," ucap dia.

Tuyuloveme sendiri dewasa ini besar dan akrab dikenal di beberapa daerah. Meski begitu, namanya semakin dikenal pesat dalam beberapa tahun terakhir, bahkan hingga dikenal di mancanegara. Karyanya dikenal banyak penikmat maupun seniman grafiti di berbagai belahan dunia.

Skateboard

Ketertarikan Tuyuloveme dalam membuat grafiti dimulai bersamaan dengan minatnya pada skateboard. Pada 2006, ia sudah memulai grafiti namun lebih banyak membuat tanda tangan atau yang dalam dunia grafiti dikenal dengan istilah tagging. Menjelang akhir 2008, Tuyuloveme yang sebelumnya sering menggambar sendiri lantas bertemu dengan teman-teman di Semarang yang juga suka menggambar.

Tuyuloveme pertama kali pameran tunggal di Jakarta pada 2014. Kala itu ia mengiyakan ajakan teman-teman di Garduhouse yang memang menaruh perhatian besar di dunia grafiti dan street art. Setelah itu, pada 2015 awal, ia ditawari pameran di galeri komersial D Galeri dan terus berlanjut hingga 2017 bahkan sampai pameran di salah satu galeri yang terletak di Bali. Pameran tunggal di Bali itu sendiri berlangsung berkat temannya dari Prancis yang mendirikan galeri di sana. Setelah itu, ia kemudian pameran lagi di Melbourne pada 2018.

"Itu pertama kali pameran tunggal di luar Indonesia. Mereka kontak aku sendiri terus ya sudah, aku menggambar dengan gayaku sendiri, dan karakterku itu kan sebenarnya aku sendiri. Aku menciptakan karakter itu tahun 2009. Hanya saja dulu kan basic-nya dari graffiti letter, terus tahun 2009 itu lah saya ciptakan karakter yang merepresentasikan aku, dengan harapan tanpa aku harus menulis nama, orang-orang sudah pada tahu kalau itu aku," tutur Tuyuloveme.

Meski demikian, Tuyuloveme menjelaskan bahwa semakin hari karyanya semakin berevolusi. Perkembangannya karyanya dapat dilihat dari dulu hingga sekarang di www.tuyuloveme.com dan akun Instagram @tuyuloveme. Selain itu, Tuyuloveme juga menjelaskan bahwa ia selalu bertahan dengan karakter Tuyul, sedangkan perubahan hanya terjadi pada estetika dan komposisi maupun beberapa ornamen yang digunakan.

Menariknya, beberapa waktu lalu Tuyuloveme juga dipercaya tim sepak bola Paris Saint Germain (PSG). Kepercayaan itu diberikan saat tim sepak bola asal Prancis itu melakukan tur di Jakarta, atau lebih tepatnya berlangsung pada 9 Februari 2019, di Kemang. "Saat itu aku dikontak mereka yang regional Asia. Jadi mereka itu ada suatu proyek di Asia semacam tur seperti itu, dan bilang ingin berkolaborasi bersama beberapa seniman. Setelah itu, ya sudah, saya jawab kalau saya tidak tahu soal sepak bola, tapi mereka tetap ingin ketemu, hingga akhirnya kita ketemu lalu ngobrol. Sampai akhirnya saya buat satu jersey untuk dikoleksi mereka," tuturnya.

Meski begitu, sejauh ini Tuyuloveme menjelaskan bahwa dirinya belum memiliki rencana lain di masa yang akan datang. Ia mengaku sebagai orang yang enggan sesumbar, karena tidak ingin mengecewakan orang. Ia lebih suka langsung pergi ke suatu tempat, dan membiarkan orang-orang melihat pencapaiannya lewat konten yang dibagikannya melalui media sosial. "Kadang orang sudah kasih tahu, terus orang lain menunggu-nunggu, kan jadi pertanyaan. Jadi biar tahu-tahu surprise saja, biar mereka lihat langsung apa yang aku kerjakan. Intinya, aku tetap menggambar, begitu saja," imbuhnya.

Peran sosial

Banyak seniman street art yang dewasa ini dekat dengan pesan sosial dan segala macam. Tuyuloveme menganggap Hal itu wajar karena setiap orang memiliki ketertarikan masing-masing. Dia tidak menampik jika lebih tertarik dengan dirinya sendiri, terlebih pada prosesnya selama ini di dunia grafiti. Soal perkembangan dunia grafiti dalam negeri, Tuyuloveme mengatakan bahwa selama ini banyak orang yang tidak tahu atau memperhatikan. Perkembangan yang ada sebenarnya sangat besar, bahkan sudah menjadi perhatian kalangan seniman dari berbagai negeri.

"Saya yang seperti ini saja, sudah diundang di beberapa festival street art di berbagai dunia. Berarti sangat berkembang kan kalau sampai dilirik seperti itu. Menurut saya, Indonesia sangat potensial dari dulu sampai sekarang. Hanya saja, dukungannya yang selalu kurang," imbuh Tuyuloveme.

Beruntung, menurut Tuyuloveme, jaringan atau hubungannya dengan penikmat maupun seniman dari berbagai negara selama ini dapat terjalin secara organik. Apalagi, pada era media sosial seperti sekarang, seorang seniman bisa membagikan apa saja yang dia buat lewat berbagai macam kanal. Beruntung pula, menurut Tuyuloveme, selama ini banyak seniman dari luar Indonesia dengan ketertarikan yang sama, yang dari situ pula ia lantas mengenal banyak festival, bahkan kerap tidak tahu bagaimana caranya ia turut diundang. (M-4)

Miko Tuyuloveme

Profesi: Seniman grafiti Indonesia

Tempat tinggal: Yogyakarta

Pendidikan: STM

Moto: Paint and do it happily

Perjalanan karier

2006

Memulai praktik artistik di jalanan dan melukis tembok, mengawali kiprah seninya dengan membuat grafiti tradisional.

2009

Mulai menciptakan karakter yang merepresentasikan alter egonya. Miko berciri khas memakai slayer dan berkupluk.

Karya

. Berbagai hasil karyanya bermunculan di dinding dan sudut-sudut jalan di seluruh kota di Indonesia, Singapura, Manila, Melbourne, Bangkok, dan Moskow.

. Pameran tunggal berskala nasional dan internasional pada 2014, 2015, 2017, dan 2018.

Sumber: Tuyuloveme.com

BERITA TERKAIT