15 December 2019, 15:00 WIB

Enam Band dan Penyelamatan Orangutan


Bagus Pradana | Weekend

Dok. MI/Bagus
 Dok. MI/Bagus
Suasana pembukaan Sound for Orangutang 2019, di Jakarta, Sabtu (14/12).

Setelah sempat vakum selama empat tahunan di Jakarta, relawan dari Centre for Orangutan Protection (COP) atau yang biasanya dikenal dengan sebutan Orangufriends kembali mengadakan konser amal bertajuk Sound for Orangutan (SFO) pada Sabtu (14/12) kemarin.

Bertempat di Rossi Musik, Jakarta Selatan, konser Sound for Orangutan (SFO) tahun ini mengangkat tema 'Orangutan Dream' sebagai sebuah harapan tentang kesempatan hidup yang lebih baik bagi Orangutan. Rencanaya seluruh profit yang didapat dari konser SFO 2019 ini seluruhnya akan disumbangkan untuk membantu kegiatan konservasi Orangutan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Ditemui dalam acara tersebut, Aulia Rahma Fadilla selaku ketua penyelenggara dari Sound for Orangutan 2019 menyebutkan bahwa tujuan utama dari konser ini adalah untuk mengajak anak-anak muda di kota-kota besar di Indonesia peduli terhadap Orangutan.

"Ini adalah acara ke 6 yang kita adain, sebelumnya sempat 3 kali diadain di Jakarta dan 2 kali di Yogyakarta. Kita juga sempet vakum di tahun 2016 dan ini adalah acara setelah sekitar 4 tahun vakum di Jakarta. Kita ingin nunjukin kalau kegiatan konservasi itu bisa dilakukan secara kreatif dan menyenangkan nggak melulu harus terjun ke lapangan, atau musti punya gelar biologi, dokter hewan, sarjana kehutanan untuk aware terhadap kelestarian spesies Orangutan ini," terang Aulia kepada Media Indonesia, Sabtu (14/12).

Dalam perhelatan Sound for Orangutan tahun ini, enam grup band tampil secara sukarela sebagai wujud dukungan mereka terhadap upaya pelestarian Orangutan di Indonesia. Mereka adalah Later Just Find, Primata, Dried Cassava, Miskin Porno, Eleventwelfth, Stright Answer, dan The Panturas. Menurut penuturan dari Aulia selaku ketua penyelenggara SFO 2019, pelibatan musisi sangat membantu dalam gerakan perlindungan Orangutan yang dilakukan oleh COP serta lebih signifikan untuk menggaet masa daripada kampanye konvensional.

"Kita mengajak para musisi untuk meng-encorage penonton, jadi mereka juga punya kewajiban untuk menyampaikan materi-materi konservasi pada para penonton, karena biasanya kan suatu informasi itu lebih sampai jika yang meyampaikan adalah idola kita. Biasanya setelah acara ini, kita akan kebanjiran untuk relawan yang berminat gabung," terang Aulia.

"Aku sebenernya juga relawan baru sih di Orangufriends, baru gabung juga awal tahun ini. Aku bahkan belum pernah ke tempat Rehabilitasi COP di Kalimantan Timur, karena memang di Orangufriends sendiri kita pengen nunjukin bahwa kita bisa kok terlibat dalam upaya konservasi spesies-epesies langka di Indonesia, seperti Orangutan ini, bahkan tanpa harus turun ke lapangan. Tapi kalau ada kesempatan ke sana besok juga pengen sih," tambahnya.

Daniek Hendarto selaku Manajer Oprasional Ex-Situ Centre for Orangutan Protection (COP) mengapresiasi inisiasi dari para relawan Orangufriends yang telah bersusah payah menyelenggarakan kegiatan konser Sound for Orangutan 2019 dan membantu COP untuk mengedukasikan tentang konservasi Orangutan dengan cara yang kreatif dan menyenangkan.

"Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada teman-teman relawan Orangufriends yang telah sangat kreatif membuat suatu perhelatan musik untuk mengenalkan konsep konservasi kepada anak-anak muda di kota-kota besar di Indonesia. Teman-teman telah membuktikan bahwa kegiatan konservasi itu bisa dilakukan secara kreatif dan menyenangkan, bahkan tidak harus terjun ke lapangan untuk aware terhadap kelestarian spesies Orangutan ini," terang lelaki yang telah lebih dari dua belas tahun berupaya melakukan konservasi terhadap satwa endemik Indonesia ini.

Tak ketinggalan Daniek juga mengupdate beberapa perkembangan proses rehabilitasi Orangutan yang ada di kantor program konservasi COP di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Ia menyebutkan bahwa hingga saat ini telah ada setidaknya 16 ekor Orangutan hasil sitaan negara yang sedang dalam proses rehabilitasi di COP.

"Orang utan yang ada di tempat konservasi kami saat ini ada 16 ekor, kami sedang mempersiapkan 2 ekor Orangutan untuk masuk di pulau pra pelepas liaran, jadi ketika semua Orangutan tersebut selesai menjalani proses rehabilitasi, mereka akan dimasukan ke satu pulau, yang namanya pulau pra pelepas-liaran. Jadi disitu Orangutan akan dipantau selama tiga sampai enam bulan untuk dipantau perkembangannya, bagaimana dia bersarang, dia mencari makan. Kalau sudah siap untuk dilepas-liarkan kemudian akan kami dipindahkan ke hutan yang sesungguhnya," jelas Daniek menyampaikan update informasi dari COP.

"Namun kami juga membutuhkan bantuan dari teman-teman di Jakarta dan kota-kota lainnya untuk membantu memberikan penyadar-tahuan kepada publik tentang konservasi satwa di Indonesia, khususnya Orangutan. Perlindungan terhadap Orangutan itu sejatinya adalah tanggung jawab anak-anak Indonesia dan sudah sepantasnya kita membuka ruang keterlibatan secara langsung dalam kerja-kerja perlindungan yang nyata, sebisa kita, karena proses konservasi satwa ini sangatlah panjang," pungkas Daniek. (M-2)

BERITA TERKAIT