20 December 2019, 02:05 WIB

Dimakzulkan DPR AS, Trump Justru Bersenang-Senang


Melalusa Susthira K | Internasional

MAYORITAS anggota DPR Amerika Serikat (AS) mendukung Presiden Donald Trump dimakzulkan, menjadikannya presiden ketiga AS yang dimakzulkan dalam sejarah AS.

Dukungan tersebut diperoleh setelah sesi pemungutan suara digelar terhadap masing-masing pasal pemakzulan Trump, yakni menyalahgunakan kekuasaan dan menghalangi Kongres pada Rabu (18/12) malam.

Pemungutan suara yang lebih dulu dilakukan terhadap pasal penyalahgunaan kekuasaan, mengantongi dukungan sebanyak 230 suara, berbanding 197 suara yang menentangnya.

Adapun pada pemungutan suara terkait pasal menghalangi penyelidikan kongres, sebanyak 229 suara menyatakan dukungannya, berbanding 198 suara yang menentangnya.

Trump didakwa atas penyalahgunaan kekuasaan dan tindakan menghalangi penyelidikan Kongres dalam Skandal Ukraina. Ia dituduh telah membekukan US$391 juta bantuan militer Ukraina agar Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky agar bersedia memenuhi permintannya yakni menyelidiki Joe Biden, calon pesaing utamanya di Pilpres AS 2020.

Trump seolah mengacuhkan sesi pemungutan suara digelar DPR AS di Washington. Ia justru melangsungkan kampanye kepada pendukung setianya di Michigan.
“Rasanya tidak benar-benar seperti kita dimakzulkan,” ujar Trump kepada pendukungnya di Battle Creek, Michigan, Rabu (18/12), waktu setempat.

Trump justru berpendapat bahwa pemakzulan akan membantunya untuk memperoleh masa jabatan kedua pada pemilu presiden AS yang digelar tahun depan. “Saya lebih suka berada di sini. Kumpulan ini hebat. Kamu menginspirasi,” tutur Trump


Bergulir ke meja senat

Setelah DPR AS resmi memakzulkan Trump, Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengatakan bahwa DPR masih akan menunggu untuk mengirimkan pasal pemakzulan bergulir ke meja Senat, sampai dia melihat proses persidangan Senat yang ‘adil’.

Demokrat juga belum menentukan manajer pemakzulan dari DPR AS untuk tampil di hadapan Senat selama persidangan yang dijadwalkan akan digelar Januari mendatang.

“Sejauh ini, kami belum melihat apa pun yang terlihat adil bagi kami,” ujar Pelosi sesaat setelah DPR AS menggelar pemungutan suara pada Rabu (18/12) malam.
“Kami tidak akan mengirim (pasal) malam ini karena sulit untuk menentukan siapa yang akan menjadi manajer,” tambahnya.

Presiden Rusia Vladimir Putin angkat suara atas pemakzulan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump oleh DPR AS.

Ia mengatakan bahwa pemakzulan presiden ke-45 AS itu didasarkan pada alasan yang dibuat-buat oleh Partai Demokrat yang menguasai DPR AS.

“Masih harus melalui Senat, di mana Partai Republik memiliki kursi mayoritas,” ujar Putin, Kamis (19/12).

“Dan agaknya sulit mereka akan mencopot perwakilan partai mereka sendiri dari jabatan presiden, dengan dasar yang sepenuhnya dibuat-buat,” tambahnya.

Dua presiden AS sebelumnya, Andrew Johnson pada dan Bill Clinton, pernah dimakzulkan. Adapun Richard Nixon nyaris dimakzulkan, namun ia memilih untuk lebih dulu mengundurkan diri. (AFP/ NBC/CBS/I-1)

 

BERITA TERKAIT