19 December 2019, 18:36 WIB

Guru Besar FKUI : Stunting Bisa Ancam Ketahanan Bangsa


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

PERMASALAHAN stunting adalah permasalahan yang sangat penting dalam konteks ketahanan bangsa. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Damayanti R Syarif mengatakan, stunting disebabkan oleh asupan nutrisi yang tidak adekuat yang terjadi pada masa kritis perkembangan otak yaitu di 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Stunting akan menurunkan kemampuan kognitif seorang anak dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular misalnya obesitas, diabetes, penyakit jantung koroner, hipertensi dan lainnya dikemudian hari.

Sedangkan dampak jangka panjang, bayi yang mengalami gizi kurang atau gizi buruk memperlihatkan bahwa 65 persen mempunyai IQ dibawah 90 yang berdampak penurunan kemampuan bersekolah menjadi hanya sekitar 7 tahun.

"Prevalensi stunting pada balita di Indonesia yang berkisar pada 37-38% berdasarkan hasil Riskesdas 2007-2013 menyiratkan kemungkinan besar terjadinya tragedi demografi generasi Z, di saat negara lain mendulang bonus demografi di usia produktif," ujarnya dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar di Jakarta, Rabu (18/12).

Windows of opportunity perbaikan kognitif akibat malnutrisi pada seorang anak adalah pada 2 tahun pertama kehidupan dengan kombinasi perbaikan asupan nutrisi dan stimulasi, itupun hanya dapat mengoreksi kognitif maksimal 90 persen.

Baca juga : Sampah Plastik Bisa Memicu Stunting

Oleh karena sulitnya menatalaksana stunting, lanjut Damayanti, maka pencegahan lebih diutamakan.

"Setelah ditelaah melalui pendekatan nutrisional genomik ternyata penanggulangan stunting cukup sederhana, yaitu setelah bayi lahir dapat dicegah dengan penerapan pola ASI dan MPASI yang bergizi lengkap, cukup dan seimbang khususnya perbandingan protein hewani terhadap total energi (protein energy ratio, PER) 10-15 persen dengan memanfaatkan sumber pangan hewani lokal," ujar Damayanti.

Pada uji coba Aksi Cegah Stunting dengan mengaktifkan poros Posyandu-Puskesmas-RSUD di desa Bayumundu, Pandeglang yang melibatkan kader posyandu, Tim PKK desa, Petugas Gizi Lapangan, Bidan Desa, Dokter Puskesmas, dan Dokter Spesialis Anak RSUD, berhasil menurunkan stunting pada balita 8,4% dalam 6 bulan pengamatan, hanya dengan menerapkan konseling MPASI yang mengandung protein hewani setiap hari.

"Angka ini lebih kecil daripada yang diperkirakan oleh Onyango dan kawan-kawan yaitu 17% dalam 6 bulan pertama karena adanya faktor sensitif yang perlu bantuan sektor non-kesehatan, yaitu tidak tersedianya biaya untuk merujuk balita yang berisiko malnutrisi dari posyandu ke puskesmas atau RSUD," ungkapnya.

Baca juga : Sehati TeleCTG Bantu Pemeriksaan Ibu Hamil di Pelosok

Menurutnya masalah yang ditemukan dalam Uji Coba tersebut merupakan masukan untuk Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasiuntuk membuat petunjuk teknis yang memungkinkan pemanfaatan Dana Desa dalam mengatasi stunting.

"Jika hal ini dilakukan dengen serentak diseluruh Indonesia, dengan seizin Allah SWT, penurunan stunting 8,4 persen dalam 6 bulan sudah akan membawa prevalensi stunting di Indonesia di bawah 20 persen dalam setahun," demikian Prof Damayanti.

Sementara itu, Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro mengatakan, kondisi gizi anak berhubungan dengan kemampuan kognitif dan daya saing nasional. Sehingga apabila industri bergerak ke arah yang lebih baik, ada kesulitan untuk mengikuti.

"Jika kita lihat survey PISA, Indonesia menempati ranking 62 dari 70 negara dan tidak bergerak. Saya awalnya berpikir ini adalah masalah pembelajaran, tetapi barangkali ini ada hubungannya dengan stunting. Jadi kita harus menyelesaikan masalah stunting demi daya saing bangsa kita," pungkasnya.

BERITA TERKAIT