19 December 2019, 18:06 WIB

Novel Remaja Bertema Kekerasan Seksual Segera jadi Miniseri


Retno Hemawati | Weekend

Indonesia Sinema Persada
 Indonesia Sinema Persada
Sabrina Febrianti

INDONESIA Sinema Persada menyadari pentingnya menegaskan keberadaannya di industri kreatif. Rumah produksi yang didirikan Ichwan Persada dan Irfan Syam itu cermat memilih tema yang diangkat dalam karya audio visual. Tema seperti kawin lari [dalam film bioskop "SILARIANG: Cinta Yang [Tak] Direstui"], poligami [dalam film pendek "Family Room"] hingga lika-liku kehidupan dokter [dalam serial "Cerita Dokter Cinta"] mewarnai filmografinya. Untuk karya terbaru disepakati untuk mengangkat isu kekerasan seksual yang termuat dalam novel remaja berjudul "Asya Story".

Novel yang ditulis Sabrina Febrianti, siswi kelas 11 salah satu sekolah di Jakarta Timur, mengangkat premis yang cukup menarik. Secara garis besar, kisahnya berkisar pada Asya yang hamil setelah diperkosa oleh kakak kelasnya, Alex. "Asya Story" diadaptasi menjadi miniseri oleh Rain Media Pictures/Rain Book Publishing bekerjasama dengan Indonesia Sinema Persada. Ichwan Persada didapuk sebagai sutradara dan penulis muda, Hotasi Mikha, dipercaya menulis skenarionya.

Ichwan mengaku sangat bersemangat menggarap miniseri ini. "Produksi miniseri ini bakal menjadi pengalaman baru bagi kami. Sebagai ayah dari dua anak, saya sadar betul bahwa isu ini penting untuk disuarakan. Begitupun kami harus mengemasnya sedemikian rupa sehingga tetap ramah bagi remaja. Sangat menantang untuk menciptakan dunia rekaan Asya dan trauma yang melingkupinya, " jelas pria yang juga dosen di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajaran, ini.

"Asya Story" sendiri berangkat dari novel Wattpad yang hingga saat ini sudah dibaca hingga 22 juta kali. Penjualan novelnya di toko buku pun mencetak prestasi karena dalam sebulan langsung cetak ulang. Karenanya diharapkan miniseri yang bakal diproduksi ini juga akan menarik perhatian pembaca berjumlah jutaan tersebut.

Rain Media Pictures dan Indonesia Sinema Persada juga menempuh cara unik dalam melakukan skema produksinya. Kali ini para bintang baru akan dijaring melalui program Casting Online. Tercatat ada 16 karakter yang bisa "diperebutkan" para calon bintang sebelum mereka menarik perhatian tim kasting, produser dan sutradara miniseri ini.

Sebagai sutradara yang juga produser, Ichwan mengungkapkan bahwa cara ini bisa jadi efektif dalam menemukan bintang-bintang baru. "Perfilman Indonesia selalu butuh bintang-bintang baru yang segar, berkarakter dan tentunya punya bakat akting. Dan dengan Casting Online, peluang untuk menemukannya terbuka luas karena program ini bisa diikuti siapapun dan darimanapun di seluruh wilayah Indonesia, " tandasnya. Sebelum menutup pembicaraan, Ichwan berujar bahwa miniseri ini akan tayang di salah satu streaming service sekitar Februari tahun depan. (M-4)

BERITA TERKAIT