19 December 2019, 14:22 WIB

Pelaku Usaha Diminta tak Tangkap Ikan Kerapu dan Kakap Masih Anak


Indriyani Astuti | Ekonomi

Istimewa
 Istimewa
Pengetatan sertifikasi ekspor ikan supaya pelaku usaha tidak menangkap ikan yang masih anak. 

PENGELOLAAN perikanan didorong agar dilakukan secara berkelanjutan demi menjaga populasi ikan tidak habis.

Salah satu instrumen yang bisa diterapkan antara lain melalui pengetatan sertifikasi ekspor ikan supaya pelaku usaha tidak menangkap ikan yang masih anak.

The Nature Conservacy (TNC) Indonesia lembaga non-profit yang bergerak di bidang konservasi alam, menyatakan bahwa dari data biologis yang dikumpulkan di sejumlah Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) sejak 2016, menunjukkan kondisi stok kan kerapu laut dan kakap mulai menipis.

"Misalnya kakap merah yang paling lazim ditangkap, ada indikasi penurunan stok, beberapa tahun kemudian bisa habis. Kalau dibiarkan kolaps tidak ada ikannya lagi," ujar Senior Ocean Policy Manager TNC Anka Farita dalam diskusi media terkait Kelautan dan Perikanan di Jakarta, Kamis (18/12).

Ia menjelaskan bahwa selama ini tidak ada data yang cukup mengenai stok ikan. Hal itu menurut Anka, membuat pemerintah kesulitan memutuskan kebijakan manajemen yang tepat untuk perikanan tangkap berkelanjutan.

Oleh karena itu, sejak 2016 TNC bersama Badan Riset Perikanan yang berada di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan mengumpulkan data biologis atau panjang ikan kerapu laut dan kakap.

"Ternyata spesiesnya banyak diperkirakan 50 spesies dengan kondisi berbeda-beda,"ucapnya.

Setelah ketersediaan data bisa dilakukan, terang Anka, pemerintah bisa membuat regulasi seperti pengaturan besar atau ukuran kakap dan kerapu yang diperbolehkan ditangkap.

Kebijakan tersebut, imbuhnya, sudah diterapkan pada tuna. Namun untuk penangkapan kakap dan kerapu sejauh ini belum ada regulasinya.

Pihaknya juga mengajak para perusahaan diantaranya distributor dan eksportir ikan untuk turut berkomitmen tidak menangkap ikan usia muda.

Pasalnya, ungkap Anka, selama ini ada kecenderungan dari pasar ikan ukuran piring (sized plate) lebih diminati. Padahal, ikan seukuran itu masuk kategori anak ikan, belum dewasa dan berkembang biak.

"Nantinya tidak ada ikan dewasa yang tersisa untuk bisa berkembang biak," tegasnya.

Kerja sama dan komitmen dari para pengusaha ekspor ikan itu, kata Anka, dituangkan dalam program Fishery Improvement Project (FIP). Menurut TNC, FIP bisa menjadi salah satu tahapan menuju sertifikasi ekspor ikan yang berkelanjutan.

" Kita perlu juga mengedukasi pasar internasional agar tidak hanya meminta ikan berukuran kecil. Tidak harus ukuran piring, atau diganti ikan yang lebih besar namun dengan bentuk fillet ataupun jenis ikan lain," tukasnya.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Komunikasi Program Kelautan TNC Nugroho Arif Prabowo mengatakan Indonesia merupakan negara maritim dengan kekanekaragaman hayati yang luar biasa. Kekayaan laut, kata Arif, perlu dilestarikan secara bijaksana dan berkelanjutan. (Ind/OL-09)

BERITA TERKAIT