19 December 2019, 10:04 WIB

Brebes Ekspor Perdana Pasta Bawang ke Arab Saudi


Supardji Rasban | Nusantara

MI/Supardji Rasban
 MI/Supardji Rasban
Pemecahan kendi sebagai simbol diberangkatkannya ekspor perdana pasta bawang dari Brebes ke Arab Saudi, Rabu (18/12/2019).

PT Sinergi Brebes Inovatif (SBI), Badan Usaha Milik Petani (BUMP) Desa Sidamulya Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes Jawa Tengah, mengekspor bawang pasta senilai Rp1,2 miliar ke Arab Saudi. Ekspor bawang dalam bentuk pasta ini merupakan yang pertama setelah sebelumnya ekspor dalam bentuk biji bawang. Ekspor pasta bawang
merah tersebut diprakarsai klaster binaan Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tegal yang dikelola anggota Kelompok Tani Sidomakmur, Desa Sidamulya.

Direktur PT SBI, Juwari menyebut ekspor pasta bawang merah merupakan pertama kalinya untuk komoditas bawang merah Brebes. Kontrak ekspornya sebanyak 56 ton sampai Maret 2020 dengan tujuan Arab Saudi. Dari jumlah tersebut, nilai ekspor yang disepakati mencapai Rp1,2 miliar.
     
"Nilai ekspor itu dengan mekanisme pembayaran yaitu DP 30 persen, kemudian setelah pengiriman 30 persen lagi. Baru setelah barang sampai tujuan, pelunasan yang 40 persennya," ujar Juwari, usai soft launching ekspor perdana pasta bawang merah di area pabrik PT SBI, Desa Sidamulya, Rabu (18/12/2019) sore.
     
Juwari bertutur ide memproduksi pasta bawang merah berawal dari kunjungan Presiden Joko Widodo/Jokowi pada 2017. Juwari kemudian melakukan studi banding ke beberapa daerah. Dari hasil studi banding kemudian menemukan adanya pasta cabe. Berawal dari situ, ia kemudian berupaya mengadopsi pasta dengan bahan dari bawang merah, yang bahan bakunya banyak didapat di Kabupaten Brebes yang notabene sentra bawang merah.
     
"Setelah itu kami baru membentuk badan usaha. Namun ternyata untuk memasarkan pasta bawang merah cukup sulit juga. Setelah menempuh berbagai upaya akhirnya dapat perusahaan eksportir dari Surabaya dengan kontrak pertama 56 ton," terang Juwa yang juga Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI).
     
Juwari menerangkan pabrik pasta bawang merah yang dikelola bersama anggota Kelompok Tani Sidomakmur itu, kini mampu menyerap banyak tenaga kerja. Untuk pekerja di dalam pabrik dengan kapasitas 500-600 kg per hari, dibutuhkan 12 orang pekerja.
     
"Itu belum termasuk ratusan ibu rumah tangga untuk memotong dan menyortir bawang hasil panen petani," terangnya
     
Bupati Brebes, Idza Priyanti menyampaikan stok bawang merah di Brebes berlimpah sehingga cukup untuk digunakan sebagai komoditas ekspor. Produksi bawang merah di Brebes mencapai 290.813 ton per tahunnya dari lahan seluas 24.783 hektar. Bawang merah dari Brebes menjadi penyangga kebutuhan bawang merah nasional sebesar 30% dan untuk penyangga Jawa Tengah sebesar 60%.
     
"Kalau untuk konsumsi di Brebes sendiri hanya sekitar 32.000 ton, jadi asih ada surplus sehingga tidak ada kendala untuk pemenuhan kebutuhan ekspor bawang merah," kata Idza.
     
Ia menambahkan ekspor bawang merah yang dilakukan Kelompok Tani Sidomakmur Desa Sidamulya melalui PT SBI, nantinya akan memacu semangat para petani, khususnya saat kemarau karena pada saat kemarau produksi bawang merah selalu menurun.
     
"Kami mendorong agar ekspor ini terus berlanjut termasuk juga untuk komoditas lainnya yang ada di Brebes seperti jahe dan garam. Sehingga ke depan semakin membuka banyak lapangan pekerjaan dan bermanfaat bagi masyarakat," ucap Idza.
     
Kepala Perwakilan Wilayah BI Jawa Tengah Soekowardojo, berharap ekspor perdana pasta bawang merah tersebut dapat dihasilkan lagi produk turunan yang dikembangkan dari produk pasta bawang. Agar bisa memenuhi  permintaan pasar baik lokal maupun luar negeri.
     
"Sehingga semakin dapat menciptakan nilai tambah ekonomi kepada petani dan masyarakat sekitar, baik dalam hal peningkatan pendapatan, penciptaan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan daerah dari produk bawang merah," harapnya.
     
Soekowardojo menjelaskan ekspor bawang merah akan ikut berperan dalam stabilisasi harga karena pada saat panen raya, harga bawang merah di tingkat petani menjadi anjlok. Sehingga nantinya bisa diserap dalam jumlah besar dan disimpan dalam gudang guna pemenuhan ekspor.
     
"Sehingga ketika panen raya, harga bawang merah tidak jatuh terlalu jauh. Di situlah pentingnya peranan menstabilkan harga itu," ujar Soekowardojo.

baca juga: Bandara Ngurah Rai Tambah 367 Penerbangan
     
Menurutnya dengan ekspor bawang merah baik yang bijinya daan juga pastanya akan mengurangi ketergantungan pemakaian cadangan devisa negara yang dipakai untuk impor.
     
"Dengan begitu membantu pemerintah dalam menjaga nilai tukar rupiah," ucap Soekowardojo. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT