19 December 2019, 08:38 WIB

DPR AS Gelar Debat Akhir Jelang Pemungutan Suara Pemakzulan Trump


Melalusa Susthira K | Internasional

DPR Amerika Serikat (AS) melangsungkan debat formal akhir terkait pasal-pasal pemakzulan Presiden Donald Trump. Sesi debat tersebut digelar DPR AS, Rabu (18/12) pagi waktu setempat, sebelum dilakukannya pemungutan suara resmi atas tuduhan Trump yang telah menyalahgunakan kekuasaan dan menghalangi Kongres.

"Hari ini, sebagai Ketua DPR AS, saya dengan resmi dan sedih membuka debat tentang pemakzulan presiden AS," ujar Ketua DPR AS Nancy Pelosi, Rabu (18/12).

Pelosi menyebut tindakan nekat Trump yang meminta bantuan politik dari Ukraina untuk menyelidiki pesaing utamanya dari Demokrat, Joe Biden, membuatnya layak dimakzulkan.

"Dia tidak memberi kita pilihan. Presiden adalah ancaman berkelanjutan bagi keamanan nasional kita, dan integritas pemilihan kita, dasar demokrasi kita," ujar Pelosi di hadapan para anggota parlemen.

Baca juga: Hasil Voting Tentukan Nasib Trump

Setelah enam jam sesi debat atas dua pasal pemakzulan Trump selesai, pada Rabu (18/12) malam waktu setempat, DPR AS akan melangsungkan pemungutan suara secara terpisah terhadap masing-masing pasal tersebut.

Menghadapi hari penentuannya, Trump mengungkapkan kemarahan lewat akun Twitter pribadinya. Ia menyebut pemungutan suara atas pemakzulan dirinya yang digelar DPR AS yang dikuasai Demokrat, merupakan sebuah serangan bagi AS maupun Partai Republik.

"Bisakah kau percaya bahwa saya akan dimakzulkan hari ini oleh Radikal Kiri (Demokrat), Jangan lakukan apa pun Demokrat, dan saya tidak melakukan kesalahan apapun!," cicit Trump, Rabu (18/12).

Juru Bicara Gedung Putih Stephanie Grisham mengatakan  bahwa selama sesi pemungutan suara pemakzulan dirinya digelar, Trump akan bekerja sepanjang hari di Gedung Putih.

Namun belakangan diketahui, Trump terbang ke negara bagian Michigan untuk berkumpul dengan ribuan pendukung setianya yang diperkirakan akan dilakukan bersamaan dengan digelarnya sesi pemungutan suara di DPR AS untuk memakzulkannya.

Sebelumnya, sejumlah massa yang mendukung pemakzulan Trump turun ke jalan di beberapa kota termasuk New York, Boston, New Orleans dan Los Angeles.

Adapun ketika debat pasal pemakzulan Trump berlangsung di DPR AS, massa pendukung bersatu di luar gedung dengan latar belakang tulisan merah besar “MAKZUL”.

Trump diperkirakan akan dimakzulkan DPR AS, dengan Demokrat yang memegang 233 kursi mayoritas di DPR AS bersiap untuk bersatu memberikan suara memakzulkan Trump.

Saat ini, hanya dua anggota parlemen Demokrat yang diperkirakan akan memilih menentang pemakzulan Trump. Sementara Partai Republik yang bersatu mendukung Trump, hanya memiliki 197 kursi di tubuh parlemen.

Pasal pertama pemakzulan Trump menuduhnya menyalahgunakan kekuasaan karena membekukan US$391 juta bantuan militer Ukraina. Demokrat menyebut Trump pembekuan bantuan militer tersebut terkait dengan permintannya terhadap Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky agar bersedia menyelidiki Joe Biden, calon rivalnya di Pilpres AS 2020. Sementara pasal kedua, menuduhnya menghalang-halangi Kongres karena menolak untuk bekerja sama dengan penyelidikan.

Trump akan menjadi presiden AS ketiga dalam sejarah yang dimakzulkan setelah Andrew Johnson pada 1868 dan Bill Clinton pada 1998. Jika Trump berhasil dimakzulkan DPR AS, ia selanjutnya akan diadili oleh Senat AS yang dikuasai Partai Republik. (AFP/OL-2)

BERITA TERKAIT