19 December 2019, 09:00 WIB

Ma’ruf Batal Hadiri KTT di Malaysia akibat Kelelahan


Media Indonesia | Politik dan Hukum

MI/ADAM DWI
 MI/ADAM DWI
Wapres KH Ma'ruf Amin.

WAKIL Presiden Ma'ruf Amin batal menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kuala Lumpur atau KL Summit 2019 di Kuala Lumpur Convention Center di Malaysia, kemarin. Staf Khusus Bidang Komunikasi dan Informasi Wapres, Masduki Baidlowi, mengatakan ketidakhadiran Wapres disebabkan karena kondisi kesehatan yang mengharuskan dia beristirahat.

"Dengan sangat menyesal, kami mengumumkan bahwa Wakil Presiden tidak bisa hadir ke acara di Kuala Lumpur Summit karena ternyata tim dokter berkesimpulan Wapres harus beristirahat," kata Masduki dalam keterangan persnya, kemarin.

Disebutkan, tim dokter kepresidenan menyarankan agar Wapres beristirahat selama dua hari. Meskipun demikian, Masduki mengatakan kondisi Wapres Ma'ruf dalam keadaan baik dan tidak mengkhawatirkan.

Rencananya, seusai dari KL Summit di Kuala Lumpur, Wapres akan menuju ke Kalimantan Selatan untuk menghadiri Hari Kesetiakawanan Nasional 2019.

"Kondisinya tidak mengkhawatirkan sebenarnya, diharapkan di Kalimantan Selatan bisa hadir," tambahnya.

Masduki menuturkan, rangkaian kerja Ma'ruf memang padat sejak dilantik pada 20 Oktober lalu. Selain acara di Jakarta, Ma'ruf juga sering memenuhi undangan di luar kota.

"Memang rangkaian kerja Wapres ini kan luar biasa nonsetop. Bahkan, malam dan weekend terakhir kemarin ke Banten. Makanya, atas saran dokter Wapres agar istirahat," ucap Masduki.

Kehadiran Indonesia dalam KL Summit tersebut akhirnya diwakilkan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang sudah berada di Malaysia.

KL Summit 2019 disebut sebagai forum pertemuan kepala pemerintahan dari sejumlah negara termasuk Indonesia untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut umat Islam. Malaysia mengundang kepala negara dari 56 negara berpenduduk mayoritas muslim dan semua negara itu akan diwakili utusan dari berbagai level.

KTT KL yang memasuki edisi ke-5 ialah inisiatif organisasi nonpemerintah, yang didukung  pemerintah Malaysia dan tidak dimaksudkan untuk menciptakan blok baru sebagaimana disinggung beberapa kritikusnya. KTT berupaya untuk memicu pendekatan baru dalam kolaborasi umat muslim. KTT ini bukan platform untuk membahas agama atau urusan agama, melainkan secara khusus untuk membahas keadaan urusan umat Islam. (Ant/P-4)

BERITA TERKAIT