18 December 2019, 17:43 WIB

UIN Yogyakarta Anugrahi Sinta Nuriyah Doktor Honoris Causa


Ardi | Humaniora

Antara
 Antara
Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid terima gelar doktor honoris causa

NYAI Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid terima gelar doktor honoris causa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Rabu (18/12).

Sosok istri KH Abdurrahman Wahid tersebut dinilai memiliki peran luar biasa dalam pengembangan kebhinekaan dan solidaritas kemanusiaan sehingga layak dianugerahi gelar doktor honoris causa bidang Sosiologi Agama.

Ketua tim Promotor dan Penguji, Ema Marhumah menyampaikan penganugerahan ini merupakan nilai tambah bagi UIN Sunan Kalijaga.

Sinta Nuriyah merupakan salah satu alumni terbaiknya selain memiliki banyak karya dan jasa-jasa akademik dan kemanusiaan, juga pernah menjadi the First Lady di Indonesia.

"Nyai Sinta Nuriyah adalah seorang aktivis hak-hak dan pemberdayaan perempuan, advokasi perempuan korban kekerasan seksual," kata Ema, Rabu (18/12).

Kepedulian dan perjuangannya dituangkan dalam pemikiran progresif dalam buku, tulisan di media massa, maupun diberbagai forum.

Promovenda juga aktif menguatkan wacana gender dan Islam, memegang teguh prinsip kesetaraan dan keadilan antara laki-laki dan perempuan dalam setiap kajian ke-Islaman yang dilakukan, yang berbasis pada turots/kitab kuning/tradisi intelektual pesantren.

Perjuangan Nyai Sinta Nuriyah ditunjukkan secara riil melalui Yayasan Puan Amal Hayati yang didirikannya.

"Oleh karena itu, berdasarkan penilaian tim Promotor dan penguji, Dra. Nyai Sinta Nuriyah, M. Hum, memenuhi persyaratan untuk dianugerahi Gelar Doktor Honoris Causa Bidang Sosiologi Agama," paparnya.

Nyai Sinta Nuriyah menyampaikan Orasi Ilmiahnya berjudul Inklusi dalam Solidaritas Kemanusiaan, Pengalaman Spiritual Perempun Dalam
Kebhinekaan, di hadapan rapat senat terbuka.

Sinta menyampaikan pengalamannya dalam melaksanakan kegiatan di bulan puasa dengan sahur keliling.

Kegiatan ini menyasar kaum dhuafa, kaum marjinal, tukang becak, pengamen, pemulung dan sebagainya yang berada, seperti di kolong jembatan, di dekat terminal atau stasiun, di tengah pasar, di lokasi bencana dan sebagainya.

"Tujuannya adalah untuk mengajak mereka melaksanakan perintah Allah, menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Juga mengingatkan kepada mereka, bahwa di bulan suci Ramadhan Allah melimpahkan rahmat, ampunan (maghfirah) dan dijauhkan dari api neraka," kata dia.

Sinta menyatakan, Sahur bersama telah dilakukan selama 19 tahun (sejak tahun 2000 sampai dengan sekarang) bersama seluruh kerabat Yayasan Puan Amal Hayati dan seluruh teman-teman lintas iman.

Dengan sahur bersama, ibadah puasa tidak hanya menyentuh dimensi peribadatan spiritual, tetapi juga dimensi sosial.

"Puasa juga mengajarkan tentang persaudaraan sejati di atara sesama umat manusia, tanpa memandang latar belakang agama, suku, golongan maupun status sosialnya," pungkas dia. (OL-11)

 

BERITA TERKAIT