18 December 2019, 13:30 WIB

Pemakzulan Trump: Ribuan Orang Berdemo Jelang Pemungutan Suara


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

Robyn Beck /AFP
 Robyn Beck /AFP
Sejumlah warga berunjuk rasa yang mendukung pemakzulan terhadap Presiden AS Donald Trump di Los Angeles, California, AS, Selasa (17/12).

RIBUAN orang bersatu di seluruh Amerika Serikat (AS) pada malam pemungutan suara bersejarah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tentang apakah akan memakzulkan Presiden Donald Trump karena penyalahgunaan kekuasaan dan obstruksi Kongres.

Demonstrasi digelar di Washington, DC, New York City, St Paul, Minnesota, Phoenix, dan Arizona, AS. Para pemrotes menuntut Trump dimakzulkan karena keterkaitannya dalam skandal Ukraina.

"Tidak ada yag berada di atas hukum," bunyi tulisan di salah satu plakat yang diusung oleh pemrotes di Salt Lake City, Utah. “Keluar dari Gedung Putih,” bunyi di spanduk lain.

Unjuk rasa tersebut dilakukan ketika DPR bersiap untuk melakukan pemungutan suara, Rabu (18/12) waktu setempat, atas dua pasal pemakzulan, yaitu penyalahgunaan kekuasaan dan upaya merintangi penyelidikan Kongres, terhadap Trump.

Hasil pemungutan suara diprediksi akan segaris dengan arah partai di DPR yang dikuasai Demokrat. Pemakzulan di Dewan yang beranggotakan 435 orang harus disetujui dengan mayoritas sederhana.

Demokrat menuduh Trump menekan Ukraina untuk membuka penyelidikan saingan politik potensilanya, Joe Biden, yang juga merupakan pelopor dalam kandidat pemilu presiden Partai Demokrat pada 2020.

Mereka juga menuduh presiden menghalangi penyelidikan dengan menolak untuk mematuhi panggilan pengadilan dan memerintahkan anggota pemerintahannya untuk melakukan hal yang sama.

Trump telah membantah melakukan kesalahan dan ia menuduh Ketua DPR Nancy Pelosi merusak demokrasi Amerika Serikat.

Dalam surat yang bernada begitu marah setebal lebih dari lima halaman, Trump mengatakan kepada Pelosi, “Sejarah akan mengadili Anda dengan kejam."

"Saya tidak ragu rakyat Amerika akan menuntut Anda dan Demokrat sepenuhnya bertanggung jawab dalam pemilu 2020 mendatang," kata Trump.

"Mereka tidak akan segera memaafkan penyimpanganmu atas keadilan dan penyalahgunaan kekuasaan," ujarnya. (AFP/Al- Jazeera/Hym/OL-09)

BERITA TERKAIT