18 December 2019, 13:02 WIB

Bisnis Bata Merah di Karawang Terus Menurun


Cikwan Suwandi | Nusantara

MI/Cikwan Suwandi
 MI/Cikwan Suwandi
Buruh harian saat mencetak bata di lio milik Sadi Mulyadi di Desa Mekarmulya Karawang, Jawa Barat. 

SUDAH hampir satu minggu terakhir tumpukan ribuan bata merah di pinggir lio (bangunan tradisional produksi bata merah) milik Sadi Mulyadi, 50, warga Desa Mekarmulaya, Telukjambe Barat, Karawang belum laku terjual. Harga bata merah yang murah saat ini tampaknya sudah jarang diminati pembeli. Sadi bercerita sejak 2014, bata merah telah tersisih oleh bahan bangunan lainnya terutama oleh bata ringan atau dikenal dengan bata hebel.

Menurut masyarakat, membangun dinding bata hebel dinilai lebih praktis dan jauh lebih murah kendati. Kekuatan bata hebel lebih rendah dibandingkan dengan bata merah.

"Saya sudah membuka usaha bata merah sejak 2009. Tetapi tahun 2014, bata merah sudah jarang diminati," kata Sadi kepada Media Indonesia, Rabu (18/12/2019).

Saat ini harga bata merah turun drastis hanya Rp250 per satu buah bata. Berbeda dengan beberapa tahun lalu ketika bata merah menjadi primadona mencapai Rp750 per satu buah bata. Jika dibandingkan dengan bata hebel yang harganya Rp750.000 per kubik atau sekitar 88 buah hingga 110 buah.

Untuk menyiasati kurangnya pesanan batu bata merah, Sadi mengaku rela dihutang terlebih dahulu oleh konsumennya. Itu pun baru laku selama satu minggu untuk produksi 70 ribu buah bata merah.

"Kalau dulu itu bisa omzet Rp25 juta per bulannya. Saat ini hanya mencapai Rp10 juta per bulan. Saat ini kita sistemnya hutang terlebih dahulu," kata dia.

Dengan keuntungan seperti itu, ia harus menggaji sekitar 14 karyawannya. Mereka merupakan buruh harian yang dibayar Rp75.000 setiap harinya.

Desa Mekarmulya dikenal sebagai sentra bata merah di Karawang. Puluhan bangunan lio  terlihat berdiri di sepanjang desa tersebut. Namun kebanyakan bangunan lio tersebut telah ditinggal pemiliknya.

Sekretaris Desa Mekarmulya, Yusuf Tonjiri mengatakan sedikitnya ada 78 bangunan lio di desa tersebut. Namun saat ini yang masih produksi hanya sekitar 20 bangunan lio. Bangunan lio-lio tersebut saat ini lebih banyak ditinggalkan oleh pemiliknya.

baca juga: PT Saipem Karimun Siap Serap 2500 Tenaga Kerja

"Namun sebagian ada juga yang disewakan lahan bekas galian tanah bahan bata merah itu untuk menjadi tempat pembesaran ikan jambal," katanya.

Yusuf mengaku, akibat gulung tikarnya pengusaha bata merah itu berdampak terhadap ratusan warganya yang bekerja sebagai buruh harian pencetak bata menganggur.

"Mereka yang punya lio ini warga asli kita juga. Dampaknya, ratusan buruh harian ini yang menganggur," pungkasnya. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT