18 December 2019, 11:17 WIB

Implan Traumatik Buatan Indonesia Siap Bersaing


Atalya Puspa | Humaniora

MENTERI Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto memuji salah satu industri dalam negeri, yang melakukan produksi implan traumatik inovasi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) oleh PT Zenith Allmart Precisindo di Sidoarjo, Jawa Timur.

"Ini produk dalam negeri, kalau bukan kita yang membanggakan produk dalam negeri, lalu siapa?," ujar Terawan, dalam keterangan resmi, Rabu (18/13).

Produk tersebut dinilai Terawan memiliki kualitas tinggi. Karena itu, Menkes menyatakan akan mendorong pemanfaatan produk karya anak bangsa ini agar bisa masuk ke industri farmasi di Tanah Air.

"Saya akan mendorong pemanfaatannya, terutama di dalam wilayah yang menjadi kewenangan Kementerian Kesehatan," tegas Terawan.

Terawan pun kembali memuji produksi implan itu karena dikerjakan secara detail. Ia meyakini bahwa produk implan traumatik inovasi BPPT yang diproduksi PT Zenith Allmart Precisindo itu mampu menjawab tantangan industri farmasi dalam negeri.

"Saya melihat mereka quality controlnya dengan handmade, itu artinya layak, itu artinya dipercaya, bahan-bahannya juga saya lihat bagus," kata Terawan.

Menkes juga menyatakan produk alat kesehatan (alkes) dalam negeri harus didorong investasinya, dan harus mampu meningkatkan profit bisnis di industri farmasi, khususnya alat kesehatan.

Sejalan dengan itu, sebagai lembaga kaji terap teknologi, BPPT terus berkomitmen untuk membantu mewujudkan program pemerintah melalui penerapan inovasi dan teknologi.

Kali ini, BPPT mengambil peran dalam memajukan industri farmasi tanah air agar memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang tinggi.

Bermitra dengan PT Zenith Allmart Precisindo sejak beberapa tahun lalu, BPPT berupaya melakukan hilirisasi teknologi material Biocompatible untuk memproduksi alat kesehatan implan traumatik tipe stainless steel (SS) 316L.

Kepala BPPT Hammam Riza sebelumnya mengatakan bahwa sejak 2013 silam, Pusat Teknologi Material BPPT telah melakukan Inovasi Material Biocompatible untuk industri Alkes.

"Inovasi ini dilakukan melalui pengembangan material bahan baku Stainless Steel 316L (SS 316L) dan teknologi produksi implan orthopedi yang memenuhi standard material medis (medical grade material) ASTM F 138 / ISO 5832-1 dan juga ASTM F 139," kata Hammam.

SS 316L merupakan implan traumatik jenis medical grade yang diyakini memiliki harga yang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan implan yang ditawarkan industrial grade.

"Selama ini Indonesia hanya impor alat kesehatan, itu yang selalu diandalkan. Sehingga BPPT merasa perlu untuk mendorong inovasi diterapkan ke industri farmasi tanah air agar memiliki TKDN yang tinggi," jelas Hammam.

Produk ini diharapkan bisa menekan angka impor alat kesehatan karena selain menghasilkan prototipe produk dengan harga yang relatif murah dari produk impor. Inovasi ini juga setara dengan produk impor dan dapat didesain menyesuaikan anatomi tulang manusia Indonesia.

Pemerintah memang tengah fokus dalam meningkatkan peran ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) untuk menggiring sektor industri di Tanah Air agar bisa berkontribusi besar terhadap kemajuan perekonomian bangsa.

Melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes), inovasi itu diharapkan bisa masuk ke industri alkes di Tanah Air dan digunakan oleh seluruh rumah sakit yang tersebar di Indonesia.

Awal kegiatan hilirisasi di PT. Zenith Allmart Precisindo dilakukan melalui pengembangan teknologi produksi investment castingv untuk pembuatan 3 jenis implan tulang.

Implan yang disebut BPPT sebagai implan traumatik itu merupakan jenis Alkes yang banyak digunakan pada operasi rehabilitasi orthopedi. Penggunaan teknologi investment casting, tentu saja memungkinkan dibuatnya suatu bentuk geometri implan tulang yang kompleks.

Dalam pembuatannya, 1 tangkai pohon investment casting bisa dibagi menjadi 30 hingga 40 implan traumatik. Dengan jumlah ini, tentunya memungkinkan untuk dilakukannya pendekatan produksi massal implan traumatik SS 316L.

Menurut Hammam, uji produksi massal pada 500 hingga 900 keping implan dalam satu operasi pengecoran, dilakukan dalam upaya menguji kehandalan dan konsistensi produksi implan.

Hammam menyampaikan bahwa uji medis terkait material SS 16L pun telah dilakukan.

"Uji medis pada material SS 316L, yang terdiri dari uji sitotoksisitas dan biokompatibilitas telah dilakukan oleh tim dokter dari RSU Dr Soetomo Surabaya dan juga di Fakultas Kedokteran Hewan IPB di Bogor," papar Hammam.

Pengujian ini menggunakan tikus sebagai hewan percobaan dan menunjukkan hasil bahwa material SS 316L tidak memiliki toksik dan tidak menimbulkan reaksi iritasi.

Bahan baku yang tersedia di Indonesia, yakni bahan lokal Ferro-Nickel (Fe-Ni) Pomala di Sulawesi Tenggara pun digunakan sebagai bahan pemadu logam (alloys element) SS 316L, untuk meningkatkan TKDN yang menjadi target pemerintah.

Menurut laporan Asosiasi Pengusaha Alat Kesehatan Indonesia (Apsaki) pada 2014 lalu, Alkes yang digunakan Indonesia masih didominasi produk impor, yakni sebesar 94%.

Sementara itu, data Kemenkes mencatat angka belanja alat kesehatan impor sebesar 92,4 % dan nilainya mencapai US$750 juta. 75 % pembeliannya diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Sementara itu dari produk alat kesehatan lokal yang tersedia saat ini, sebagian besar didominasi industri perakitan yang menggunakan bahan baku impor.

Senada dengan apa yang sebelumnya disampaikan Hammam, Sekretaris Utama BPPT Dadan Moh Nurjaman pun menyampaikan bahwa implan traumatik ini merupakan salah satu inovasi BPPT yang telah di produksi oleh industri dalam negeri dan berhasil dikomersialisasikan.

"Ini merupakan wujud dari peran BPPT, mulai dari perekayasaan, hingga komersialisasi," kata Dadan. (Ata/OL-09)

BERITA TERKAIT