18 December 2019, 13:30 WIB

Di Bekasi, Alat Pendeteksi Daging Celeng Dikembangkan


Gana Buana | Megapolitan

MI/Gana Buana
 MI/Gana Buana
Kepala BUTTMKP Wawan Sutian memperlihatkan alat sensor berbasis AI untuk mendeteksi daging di Bekasi.

BALAI Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian (BUTTMKP) mengembangkan alat sensor berbasis artificial intelegent (mesin pintar) untuk mendeteksi daging. Nantinya, produksi daging dengan kandungan tidak halal dan tidak sehat yang beredar di masyarakat dapat terdeteksi langsung secara real-time.

“Alatnya juga sangat simple dan mudah dibawa kemana saja, hanya tinggal tempel sensornya ke daging yang mau kita uji, beberapa saat kemudian bisa ketahuan apakah itu murni daging sapi atau bukan,” ungkap Kepala BUTTMKP Wawan Sutian di Bekasi, Rabu (18/12).

Wawan menjelaskan, pengembangan alat berbasis sensor cahaya tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan eFarming Corpora Communiti dan Lembaga pendidikan Politeknik Bandung.

Dengan menggunakan alat itu, di masa depan, diharapkan bisa mendeteksi daging babi atau daging celeng dalam produk daging yang diklaim sebagai olahan asal daging sapi, yang ada di bakso dan sosis.

Baca juga: Rangkaian KRL Bekasi-Kota Diperpanjang

Ia menjelaskan, daging celeng dan daging sapi sejatinya dapat dibedakan melalui visual spectrum, konsistensi, dan bau secara pancaindera.

Tetapi, ketika sudah bercampur dan dijadikan produk olahan siap konsumsi, daging sapi dan daging celeng sulit dibedakan dan membutuhkan teknik tertentu seperti uji laboratorium atau melalui alat analisis spektrum cahaya

"Beberapa kasus bakso sapi yang ternyata dicampur dengan daging celeng sering ditemukan oleh kami. Hanya dengan menggunakan alat sensor ini, bakso terduga asal daging babi tersebut dapat mudah terdeteksi,” jelas dia.

Melalui alat ini, Wawan berharap pemerintah bisa memberikan kepastian produk olahan daging berbasis halal untuk dikonsumsi masyarakat muslim Indonesia.

Selain itu, pengembangan alat ini di masa depan diyakini menjadi rujukan utama yang bisa diterapkan dengan mudah oleh siapa pun. Tertutama, lanjut dia, dalam melakukan pemeriksaan operasional Karantina Hewan.

“Alat ini juga bisa meningkatkan kualitas ekpor,” tambah dia.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Syamsul Maarif menambahkan, selama ini, pengujian jenis daging sampelnya akan dibawa ke laboratorium penguji untuk memastikan jenisnya. Sehingga, butuh waktu lama untuk memastikan kualitas daging sapi.

“Biasanya minimal butuh tiga hari. Kalau sekarang hanya dalam hitungan menit kita sudah bisa memastikan apakah ini daging sapi asli atau sudah dioplos dengan daging lain seperti daging celeng,” tandas dia. (OL-2)

BERITA TERKAIT