18 December 2019, 08:10 WIB

Imunoterapi Manjur tapi Mahal


Indrastuti | Humaniora

KETIKA didiagnosis bahwa kanker melanoma (kulit) yang dideritanya telah metastatis atau menyebar ke hati dan otak, Presiden ke-39 Amerika Serikat Jimmy Carter merasa hidupnya hanya akan bertahan selama beberapa minggu. Kala itu, kanker yang telah menyebar ke organ lain seperti yang diderita Carter mungkin tidak dapat ditangani.

Namun, dokter menggunakaan teknologi terbaru dalam pengobatan kanker, yakni mengombinasikan radiasi dengan imunoterapi. Pengobatan ini memanfaatkan daya tahan tubuh untuk mengendalikan sel kanker. Berhasil, Carter dinyatakan dokter telah terbebas dari kanker berdasarkan pemeriksaan MRI pada Desember 2015.

Imunuterapi umumnya diterapkan pada kanker stadium lanjut yang telah menyebar ke organ lain. Dokter spesialis paru dr Arif R Hanafi SpP dari RS Kanker Dharmais mengungkapkan pengobatan imunoterapi juga dapat diberikan kepada pasien kanker paru stadium lanjut.

Sebagian besar penderita kanker paru datang berobat sudah dalam keadaan stadium 3B atau stadium lanjut sehingga ketahanan hidup 2-7% dalam 5 tahun. Dengan pengobatan imunoterapi, ketahanan hidup meningkatkan hingga 18%.

"Pengobatan tergantung mutasi gen pada penderita. Lebih dari 50% belum dapat diidentifikasi. Mutasi sel kanker paru sangat tinggi, dan bisa reaktif terhadap imunoterapi," jelas Arif saat pelatihan jurnalis Memahami Imunoterapi Kanker yang diselenggarakan AJI bersama Roche di Jakarta, belum lama ini.

Cerita sukses pengobatan kanker dengan imunoterapi banyak ditemukan di luar negeri. Kini, pengobatan itu bisa diakses pasien kanker paru dan kanker kandung kemih di Indonesia karena imunoterapi atezolizumab telah mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Selama pengobatan, nantinya pasien akan diberi obat imunoterapi setiap 3 minggu sekali dan dievaluasi setiap 3 bulan. Pemberian obat dilakukan selama 20 bulan hingga 2 tahun.

Dari informasi yang didapat Media Indonesia, pemberian obat setiap 3 minggu sekali memerlukan biaya lebih dari Rp30 juta. Dengan begitu, pemberian selama 20 bulan, atau kurang lebih 27 bulan akan membutuhkan lebih dari Rp800 juta. Jumlah yang tidak sedikit, apalagi pengobatan kanker menggunakan imunoterapi di Indonesia tidak ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan).

Dipajaki

Saat dihubungi terpisah, dokter spesialis paru Andika Chandra Putra dari Rumah Sakit St Carolus menyebutkan pengobatan imunoterapi banyak diminati pasien, tapi mereka terbentur pada biaya.

"Jika keuangan negara memungkinkan, tentu akan lebih baik jika imunoterapi ditanggung BPJS Kesehatan," jelas Andhika.

Menurutnya, regulasi rumah sakit juga menjadi kendala karena rumah sakit pemerintah harus mengikuti obat sesuai Formularium Nasional (Fornas). Pasalnya, walaupun sudah memiliki izin edar, obat imunoterapi belum masuk lis obat di Fornas.

"Kendala lain, pemerintah memasukkan obat-obat kanker ini sebagai barang mahal dan dikenai pajak sehingga harga jual semakin mahal," tukasnya.

Ketua Umum Cancer Information and Support Group (CISC) Aryanthi Baramuli menambahkan, akses pengobatan imunoterapi menjadi harapan sekaligus tantangan bagi pasien kanker. "Biaya tentu menjadi kendala. Kami mengharap ke depan pemerintah memberi perhatian kepada pasien dan penyintas kanker. Pasien bukan angka, pasien ialah manusia seutuhnya yang memiliki kesehatan sebagai hak asasinya," tandas Aryanthi. (H-2)

BERITA TERKAIT