17 December 2019, 20:53 WIB

Indonesia Resmi Miliki Pusat Produksi Sel Punca


Atalya Puspa | Humaniora

Mi/Andry Widyantoi
 Mi/Andry Widyantoi
menristek Bambang Brodjonegoro saat meresmikan Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional

INDONESIA resmi memiliki pusat produksi sel punca dan produk metabolit nasional. Adapun, pusat produksi tersebut diinisiasi oleh Fakultas Kedokteran Universitas, RSCM dan Kimia Farma.

Dengan dibentuknya pusat produksi sel punca, diharapkan dapat menjadi terobosan dan inovasi bagi Indonesia.

Saat ini, Indonesia menjadi salah satu negara yang telah melakukan terapi sel punca bagi pasien umum di 11 RS. Sementara, di beberapa negara lainnya, pelayanan sel punca masih berada di tahap riset dan belum resmi diberikan untuk pasien umum.

"Hal ini tentu meningkatkan potensi adanya medical tourism karena ke depannya pelayanan sel punca bagi pasien umum ini tidak hanya diperuntukkan bagi pasien dalam negeri, tetapi juga pasien dari mancanegara," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Pusat Produksi Sel Punca dari FKUI, Ismail di Kampus FKUI, Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (17/12).

Adapun, pusat produksi ini diharapkan juga dapat memberikan dampak sosio-ekonomi yang besar. Pasalnya, terapi penyakit degeneratif yang tersedia saat ini umumnya hanya bertujuan mengurangi gejala namun tidak menghentikan proses degeneratif itu sendiri.

Baca juga : Dari Tanaman Obat sampai Sel Punca

Selain penyakit degeneratif, kondisi lain seperti trauma, autoimun, kanker juga banyak yang bersifar terminal atau tidak lagi memberi respon pada pengobatan konvensional.

Sel punca sendiri memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi berbagai jenis sel yang spesifik membentuk berbagai jaringan tubuh. Seperti tulang, sel otot, sel saraf, sel darah merah atau sel otak.

Dengan demikian, pengembangan riset sel punca di Indonesia dapat menjadi solusi untuk pengobatan berbagai penyakit.

"RSCM sudah begitu dipercaya. Bahkan luar negeri sudah melirik kita. Korea sudah menyiapkan 12 atlet yang cedera untuk mendapatkan terapi sel punca di Indonesia," kata Direktur Utama RSCM Lies Dina Liastuti.

Dari penelitian riset sel punca dimulai, yakni pada 2008 silam, sebanyak 300 pasien dari berbagai penyakit telah melakukan terapi sel punca dengan biaya hibah sebesar Rp36 miliar.

Baca juga : Sel Induk Pluripoten Hasil Induksi untuk Pengobatan Regeneratif

Ke depannya, penelitian sel punca akan dikembangkan untuk pengobatan gagal ginjal akut, nerve regeneration, demensia alzheimer, dan sejumlah penyakit yang tidak lagi memberi respon dengan pengobatan konvensional.

"Ini akan makin memberikan kesejahteraan bagi masyarakar terutama individu, pasien yang mengalami berbagai penyakit dan mendpaatkan tratment dari sel punca," tambah Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro.

"Kita harus berkolaborasi dan memberikan keyakinan bahwa dokter di Indonesia terutama RS-nya sanggup memberikan treatement stem cell yang sama baiknya dengan luar negeri, dan tentunya harganya walaupun masih mahal tapi lebih terjanngkau oleh masyarakat," imbuh Bambang. (OL-7)

BERITA TERKAIT