17 December 2019, 20:32 WIB

Mantan Presiden Negara Ini Divonis Hukuman Mati


Melalusa Susthira K | Internasional

AFP
 AFP
Pervez Musharraf diambil pada 2004

PENGADILAN Pakistan menjatuhkan hukuman mati kepada mantan presiden sekaligus pemimpin militer Pakistan, Pervez Musharraf, karena tuduhan pengkhianatan atau makar.

 

Vonis yang dibacakan secara in absentia tersebut, merupakan sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya di Pakistan dengan angkatan bersenjata yang kerap dianggap kebal hukum.

"Pengadilan Khusus Islamabad telah menjatuhkan hukuman mati kepada mantan Presiden Pervez Musharraf dalam kasus pengkhianatan tingkat tinggi," terang Radio Pakistan dalam akun Twitternya, Selasa (17/12).

Menurut pengacara Musharraf, Akhtar Shah, vonis hukuman mati tersebut dijatuhi atas keputusan Musharraf menangguhkan konstitusi dan memberlakukan aturan darurat pada 2007.

Langkah kontroversial yang diambil Musharraf tersebut akhirnya memicu protes terhadap Musharraf, yang menyebabkan pengunduran dirinya dalam menghadapi ancaman pemakzulan dari pemerintah koalisi baru.

Musharraf mengasingkan diri dengan menghabiskan sebagian besar waktunya di Dubai dan London, sejak larangan bepergian dicabut pada 2016 yang memungkinkannya mencari perawatan medis di luar negeri.

"Musharraf ingin pernyataannya direkam dan siap untuk mengunjungi Pakistan, namun dia menginginkan jaminan keamanan yang tidak dapat diberikan," ujar pengacara Shah.Dia (Musharraf) masih di Dubai dan sakit,” ujarnya.

 

 

Baca juga: Dibayangi Kebrutalan Polisi, Demonstrasi di India Terus Berlanjut

 


Musharraf yang merupakan seorang moderat, kemudian menjadi sekutu penting Amerika Serikat (AS) dalam perang melawan teror dan lolos dari sedikitnya tiga upaya pembunuhan Al-Qaeda.

Pemerintahannya tak menghadapi tantangan yang serius, hingga ia mencoba untuk memecat ketua pengadilan pada Maret 2007. Tindakannya tersebut lantas menyulut aksi demonstrasi nasional dan kekacauan berbulan-bulan, yang menyebabkan diberlakukannya keadaan darurat.

Setelah insiden pembunuhan mantan Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto pada Desember 2007, suasana nasional Pakistan semakin memburuk. Musharraf pun menderita kekalahan besar dalam pemilu Februari 2008. Ia akhirnya mengundurkan diri pada Agustus 2008 ketika menghadapi proses pemakzulan oleh koalisi pemerintah baru pimpinan Asif Ali Zardari, suami mendiang mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto dan pergi ke pengasingan.

Pada 2013 Musharraf kembali ke Pakistan, dengan maksud bertarung dalam pemilihan umum. Namun, ia dilarang ikut serta dalam pemungutan suara dan dengan terpaksa meninggalkan Pakistan sambil menghadapi rentetan kasus hukum. (OL-8)

BERITA TERKAIT