17 December 2019, 19:22 WIB

Bamsoet Dukung Gugatan Pemerintah ke Uni Eropa


Putri Rosmalia Octaviyani | Ekonomi

Antara
 Antara
Ilustrasi: Pekerja menyiram bibit kelapa sawit di kawasan pembibitan di Kecamatan Ranomeeto Barat, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara

KETUA MPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet), mendukung langkah pemerintah Indonesia menggugat Uni Eropa ke organisasi perdagangan dunia (WTO). Gugatan tersebut untuk melawan diskrimisasi produk sawit dan turunannya asal Indonesia yang dilarang masuk Uni Eropa melalui kebijakan Renewable Energy Directive (RED) II dan Delegated Regulation.

"Sebenarnya tidak ada alasan bagi Uni Eropa melarang masuknya produk sawit dan turunannya asal Indonesia. Karena pengelolaannya sudah berkelanjutan, menyelaraskan dengan kelestarian lingkungan," ujar Bamsoet seusai menerima Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Vincent Piket, di Gedung MPR RI, Jakarta, Selasa (17/12).

 

Bac ajuga: Indonesia-Malaysia Sepakat Bawa Persoalan Sawit ke WTO

 

Karena itu, ia berharap WTO sebagai tempat yang akan menilai gugatan Indonesia terhadap Uni Eropa, bisa berlaku fair dan jernih melihat fakta-fakta perkembangan sawit di Indonesia.

Meski demikian, Bamsoet mengatakan pada dasarnya pengajuan gugatan adalah hal yanh biasa dalam sistem perdagangan internasional. Hubungan baik antara Indonesia dengan Uni Eropa harus tetap terjalin dengan baik.

"Sebagaimana Uni Eropa yang juga pernah mengajukan gugatan perdagangan ke WTO terhadap berbagai negara. Terpenting, hubungan baik Indonesia dengan Uni Eropa harus selalu dijaga. Baik Indonesia maupun Uni Eropa punya kepentingan nasional masing-masing," ujar Bamsoet.

Di sisi lain, ia mengapresiasi pasar Uni Eropa yang masih membuka diri terhadap berbagai produk Indonesia. terbukti sejak lima tahun terakhir ini, neraca perdagangan Indonesia-Uni Eropa selalu surplus dari sisi Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, Mr. Vincent Piket menyampaikan bahwa Uni Eropa pada dasarnya tidak melarang ekspor CPO Indonesia ke Eropa. Uni Eropa hanya memastikan bahwa CPO yang masuk ke Eropa merupakan produk yang diproduksi secara bekelanjutan.

Sementara itu, meski menghadapi diskriminasi sawit, neraca perdagangan Indonesia terhadap Uni Eropa masih positif. Badan Pusat Staitistik mencatat, di kuartal I 2019, perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa masih surplus USD587 juta (ekspor USD3,6 miliar dan impor USD3,02 milliar). (OL-8)

BERITA TERKAIT