17 December 2019, 18:13 WIB

Kekerasan Terhadap Wartawan Menurun, Pemidanaan Meningkat


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP
 AFP
Jumlah jurnalis yang tewas di Seluruh Dunia sepanjang 2019

SEBANYAK 49 wartawan terbunuh di seluruh dunia pada 2019. Demikian data yang dilansir Reporters Without Borders, pada Selasa (17/12). Angka kematian itu terendah terendah dalam 16 tahun.

"Jumlah yang ‘rendah secara historis’ ini sebagian besar meninggal karena konflik di Yaman, Suriah, dan Afghanistan," kata organisasi pengawas yang berbasis di Prancis itu. Mereka juga memperingatkan bahwa jurnalisme tetap merupakan profesi yang berbahaya.

Setiap tahun, sekitar 80 jurnalis telas selama dua dekade terakhir, kata organisasi itu, yang dikenal dengan inisial Prancis RSF.

Tetapi, Ketua RSF, Christophe Deloire, memperingatkan jumlah jurnalis yang dibunuh di negara-negara yang diperkirakan damai masih sangat tinggi. Dia menyebut contoh Meksiko, di mana 10 orang jurnalis terbunuh.

Deloire mengatakan penurunan jumlah  jurnalis yang terbunuh di zona konflik patut untuk dirayakan. Namun ia mengingatkan kini semakin banyak jurnalis yang dibunuh karena pekerjaan mereka di negara-negara demokratis, yang merupakan tantangan nyata bagi demokrasi.

Di balik menurunnya jumlah wartawan yang dibunuh/terbunuh, di sisi lain ada peningkata jurnalis yang berakhir di balik jeruji besi, menurut RSF.

Sepanjang 2019, sekitar 389 jurnalis dipenjara, naik 12% dibandingkan tahun lalu.

Hampir setengahnya dipenjara di tiga negara--Tiongkok, Mesir, dan Arab Saudi, yang dituduh berada di balik pembunuhan mengerikan kolumnis Jamal Khashoggi di Kedutaan Besar Riyadh di Istanbul tahun lalu.

"Tiongkok, yang telah mengintensifkan penindasannya terhadap minoritas (sebagian besar muslim) Uighur, menahan sepertiga dari wartawan yang dikurung di dunia," kata RSF.

Sementara itu, 57 jurnalis disandera di seluruh dunia, sebagian besar di Suriah, Yaman, Irak, dan Ukraina.

"Tidak ada pembebasan sandera yang penting tahun ini meskipun ada perkembangan besar di Suriah," kata RSF. (AFP/Hym)

BERITA TERKAIT