17 December 2019, 13:15 WIB

Rusia dan Tiongkok Usulkan Pelonggaran Sanksi Korut


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP/KCNA/KCNA VIA KNS
 AFP/KCNA/KCNA VIA KNS
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (tengah)

RUSIA dan Tiongkok, Senin (16/12) waktu setempat, mengusulkan pelonggaran beberapa sanksi terhadap Korea Utara (Korut) dengan syarat rezim berkomitmen terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai denuklirisasi.

Namun, Amerika Serikat (AS) menyebut langkah dua seterunya itu sebagai prematur.

Proposal itu, dalam rancangan resolusi yang mengejutkan beberapa misi diplomatik, menyarankan DK PBB mencabut larangan Korut mengekspor patung, makanan laut, dan tekstil dan bertujuan mendorong dialog antara Korut dan AS, kata Rusia.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS menolak proposal itu, dan mengatakan DK PBB seharusnya tidak mempertimbangkan 'keringanan sanksi prematur' untuk Pyongyang.

Baca juga: Trump Mengaku Awasi Korut dengan Ketat

Alasannya, negara itu sedang mengancam akan melakukan provokasi dan menolak untuk bertemu untuk membahas denuklirisasi.

Hal itu juga akan membebaskan proyek-proyek kerja sama kereta api dan jalan antar-Korea dari sanksi PBB.

Tidak segera jelas kapan atau apakah rancangan resolusi dapat diajukan ke pemungutan suara di Dewan Keamanan yang beranggotakan 15 negara.

Sebuah resolusi membutuhkan sembilan suara yang mendukung dan tidak ada veto oleh AS, Prancis, Inggris, Rusia, atau Tiongkok untuk lolos.

"Kami tidak terburu-buru," kata Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia menambahkan negosiasi dengan anggota dewan akan dimulai pada Selasa (17/12).

Dia mengatakan sanksi yang mereka usulkan untuk dicabut tidak terkait langsung dengan program nuklir Korut. "Ini menyangkut masalah kemanusiaan."

Negosiasi nuklir sebagian besar terhenti sejak gagalnya KTT Februari di Hanoi antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong Un.

Selain itu, Korut telah mengeluarkan beberapa tindakan yang provokatif dalam upaya mendorong AS untuk membuat konsesi pada pertemuan akhir tahun sebagai syarat untuk melanjutkan pembicaraan.

Yang lebih sensitif Pyongyang juga telah melakukan setidaknya 13 peluncuran rudal balistik sejak Mei.

Figur sanksi

Pyongyang terkenal karena membangun patung-patung besar bergaya sosialis, yang diekspor terutama ke negara-negara Afrika. Beberapa analis memperkirakan Korut telah menghasilkan puluhan juta dolar dengan menjual patung-patung semacam itu.

Rezim 'Dinasti Kim' juga menghasilkan jutaan dolar dari makanan laut. Seorang diplomat AS mengatakan pada 2017 bahwa Pyongyang diperkirakan akan memperoleh sekitar US$295 juta dari ekspor makanan laut tahun itu.

Tekstil adalah ekspor terbesar kedua Korut setelah batubara dan mineral lainnya pada 2016, dengan total US$752 juta, menurut data dari Badan Promosi Perdagangan Investasi Korea. Hampir 80% ekspor tekstil mengalir ke Tiongkok, menurut data bea cukai Beijing.

Upah pekerja yang dikirim ke luar negeri juga menyediakan mata uang asing untuk pemerintah Pyongyang.

Seorang penyelidik HAM AS mengatakan pada 2015 Korut memaksa lebih dari 50.000 orang bekerja di luar negeri, terutama di Rusia dan Tiongkok, menghasilkan antara US$1,2 miliar dan US$2,3 miliar per tahun. (CNBC/Al Jazeera/OL-2)

BERITA TERKAIT