17 December 2019, 10:05 WIB

Susi Kecam Menteri Edhy yang Samakan Lobster dengan Nikel


Thomas Harming Suwarta | Humaniora

MENTERI Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyebutkan kebijakan ekspor benih lobster yang jadi polemik saat ini sama halnya dengan ekspor bijih nikel pada 2016 sampai akhir tahun ini.

Kata Edhy, meski akan ditutup pada 2020, keran ekspor nikel dibuka untuk menunggu perusahaan-perusahaan membuka membuat pabrik pengolahan komoditas. Hal itu sama dengan lobster sambil menunggu infrastruktur penangkarannya siap.

Pernyataan Edhy itu langsung direspon pendahulunya Susi Pudjiastuti.

"Nikel adalah SDA yg tidak renewable/ yg bisa habis. Lobster adalah SDA yang renewable, yang bisa terus ada & banyak kalau kita jaga!!!!! Menteri Edhy Samakan Kebijakan Ekspor Benih Lobster dengan Nikel," cicit Susi melalui akun Twitter @susipudjiastuti, Selasa (17/12).

Baca juga:  Tanam Pohon, Pulihkan Ekosistem Kawah Ijen

Ditambahkan Susi, adalah tidak tepat menyederhanakan persoalan lobster dengan kebijakan nikel.

"Nikel itu benda mati tidak bisa beranak pianak diambil akan habis. Lobster itu mahluk hidup bernyawa, berkembang biak/ beranak pianak. Kita jaga habitat dan keberlanjutan bibit-bibitnya di alam pasti Lobster itu akan tetap ada, banyak sepanjang masa untk kita ambil, makan & jual," kata Susi.

Dalam logika Susi, pengelolaan SDA yang renewable secara instant extractive dan masif harus dilarang.

"Apalagi pengambilan plasmanutfahnya. Its A NO NO !! Sebelum tahun 2000-an Lobster ukuran >100 gram di Pangandaran & sekitarnya pada saat musim bisa 3 sd 5 Ton per hari. Sekarang 100 kg/hari saja tidak ada," kata Susi lagi.

Kondisi yang sama, kata dia, juga terjadi di Pelabuhan Ratu, Jogja Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatra Selatan, Sumatra bagian barat dan beberapa tempat lain.

"Dulu, 15 tahunan yang lalu, Lobster masih Min 300 sd 500 Kg bahkan Ton. Satu nelayan pancing bisa dapat 2 kg sd 5 kg/hari. Sekarang mereka hanya dapat 1 atau 2 ekor saja. Lobster telah berkurang banyak," ungkap Susi.

Susi mengambil contoh Australia, India, dan Cuba.

"Mereka yang ada Panulirus Hommarus mereka tidak ambil bibitnya, mereka ambil size tertentu saja. Australia min 1 pound & max size juga diatur. Yang besar bisa jadi indukan yang produktif. Mereka tidak budidayakan bibit, tidak ekspor bibit. Apakah krn mrk lebih bodoh dari kita?" pungkas Susi. (OL-2)

BERITA TERKAIT