17 December 2019, 11:30 WIB

Xi Jinping Tegaskan Dukungan untuk Carrie Lam


Melalusa Susthira K | Internasional

AFP/HANDOUT/Hong Kong Government
 AFP/HANDOUT/Hong Kong Government
Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) dan Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam

PRESIDEN Tiongkok Xi Jinping akhirnya bertemu dengan Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam di Beijing, Senin (16/12).

Pada pertemuan tersebut, Xi menyatakan dukungan yang tidak tergoyahkan kepada Lam untuk memerintah Hong Kong.

Dukungan tersebut diberikan kendati adanya aksi demonstrasi besar lainnya yang meletus awal bulan ini dan pemerintahan Lam menuai kekalahan dalam hasil pemilihan distrik Hong Kong, baru-baru ini.

"Pemerintah pusat sepenuhnya mengakui keberanian dan rasa tanggung jawab yang telah Anda tunjukkan dalam periode yang luar biasa di Hong Kong," ujar Xi kepada Lam, di Balai Agung Rakyat, Beijing, Tiongkok, Senin (16/12).

"Kami akan terus memberikan dukungan yang tidak tergoyahkan bagi Anda untuk memimpin wilayah administrasi khusus Tiongkok (SAR) untuk memerintah sesuai dengan hukum," tambah Xi.

Baca juga: AS-Tiongkok Capai Kesepakatan Dagang

Lam pun pun menyampaikan rasa terima kasih kepada Xi atas dukungan dan kepeduliannya terhadap situasi di Hong Kong saat ini.

"(Terima kasih) atas bimbingannya bagi kami, serta atas kepercayaan dan dukungan bagi pemerintah SAR dan saya untuk menangani krisis sebesar itu,” tutur Lam.

Ada pun saat gelaran konferensi pers setelah pertemuan yang dilangsungkan di Beijing, Lam mengatakan situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Hong Kong saat ini, mengartikan ia harus menghabiskan sedikit lebih banyak waktu untuk menjelaskan kepada para pemimpin Tiongkok terkait situasi tersebut.

“Tahun ini adalah tahun yang agak istimewa karena dalam enam bulan terakhir Hong Kong telah dihantui kerusuhan sosial, gangguan dan tindakan kekerasan. Jadi saya menghabiskan sedikit lebih banyak waktu untuk memberi mereka penjelasan tentang di mana keadaan berada,” ujar Lam.

"Namun, saya merasa terdorong oleh pemahaman Presiden Xi tentang tekanan yang telah saya alami dalam enam bulan terakhir dan pengakuannya terhadap rasa tanggung jawab saya dan tingkat keberanian yang telah saya tunjukkan," tambah Lam.

Sebelum bertemu Xi, Lam lebih dulu bertemu Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang.

Pada pertemuan tersebut, Li mengatakan pemerintahan Lam telah mencoba yang terbaik untuk menjaga stabilitas sosial di tengah situasi keras dan pelik yang belum pernah terjadi sebelumnya di Hong Kong.

Namun, di samping memberikan sanjungan, Li juga menyerukan agar pemerintah Hong Kong meningkatkan studi menyangkut konflik dan masalah yang menghambat pembangunan ekonomi dan sosial Hong Kong guna memulihkan ketenangan kota.

"Hong Kong belum keluar dari kesulitan. Pemerintah SAR harus melanjutkan kerja keras, menghentikan kekerasan, dan mengatasi kekacauan menurut hukum serta memulihkan ketertiban," jelas Li kepada Lam.

Hong Kong merupakan salah satu wilayah administratif khusus Tiongkok (SAR), di samping Makau.

Wilayah itu diperintah berdasarkan prinsip "satu negara, dua sistem", yang memberikan hak-hak khusus yang tidak dimiliki Tiongkok daratan.

Kota pusat keuangan internasional itu telah diwarnai aksi unjuk rasa besar yang telah berlangsung selama enam bulan.

Para pengunjuk rasa yang awalnya memprotes RUU Ekstradisi yang telah ditangguhkan, kini menyerukan agar Lam mundur sebagai pemimpin. Namun, Lam justru memperoleh Xi dukungan dari kepemimpinan Tiongkok untuk memerintah Hong Kong selama kunjungan ke Beijing pada Senin (16/11) kemarin.

Bulan lalu, partai-partai prodemokrasi menang telak dalam pemilihan dewan distrik Hong Kong. Namun, kemarahan publik tetap berkecamuk karena Beijing dan Lam tidak menunjukkan tanda-tanda konsesi lebih lanjut meskipun hasil pemilu menunjukan kemenangan bagi kubu prodemokrasi.

Adapun, minggu lalu, sekitar 800 ribu massa kembali turun ke jalan untuk kembali mendesak pemerintah Hong Kong menanggapi lima tuntutan utama mereka, di antaranya penyelidikan independen terhadap polisi, amnesti bagi pengunjuk rasa yang ditangkap, dan pemilihan yang sepenuhnya bebas.

Pada pekan yang sama, panel ahli internasional yang diangkat untuk memberi nasihat kepada Hong Kong terkait tindakan polisi dalam aksi demonstrasi mengumumkan mengundurkan diri.

Mereka mengatakan tugas pengawas itu tidak cocok bagi tujuan masyarakat Hong Kong yang menghargai hak dan kebebasan. (AFP/OL-2)

BERITA TERKAIT