16 December 2019, 04:00 WIB

Surplus, Stok Pangan Aman sampai Maret 2020


LN/Pra/E-2 | Ekonomi

MI/Lina Herlina
 MI/Lina Herlina
Mentan Syahrul Yasin Limpo menjamin ketersediaan pangan nasional aman hingga Maret 2020 dengan adanya surplus 4 juta ton beras.

MENTERI Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menjamin ketersediaan pangan nasional aman hingga Maret 2020 dengan adanya surplus 4 juta ton beras.

Hal itu dikemukakan Mentan Syahrul Yasin Limpo di sela pencanangan Gerakan Agripreneur dan Tiga Kali Lipat Ekspor di Monumen Mandala, Makassar, Sulawesi Selatan, kemarin.

Mentan mengatakan amannya ketersediaan pangan itu berdasarkan hasil pengecekan di lapangan dan sudah dilaporkan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Kami menjamin makan kita sampai Maret aman. Memang kemarau panjang November hingga awal Desember ada minus, namun masuk Desember hingga Maret kita akan over stock 4 juta ton,” kata Syahrul.

Begitu pula jika terjadi banjir yang diperkirakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bakal terjadi pada Januari-Februari 2020, Mentan yang juga mantan Gubernur Sulawesi Utara itu meyakinkan pangan nasional dalam kendali.

Kendati demikian, lanjut dia, dari 34 provinsi ada 10 provinsi yang di antaranya masuk kategori rawan pangan.

“Ada 10 provinsi rawan dalam pangan, terutama Papua. Perintah Presiden untuk mengangkut pakai heli ke lokasi itu,” ujarnya.

Kategori rawan pangan itu terjadi akibat pengaruh musim atau kendala distribusi medannya yang cukup sulit dijangkau seperti di Papua yang alamnya bergunung-gunung.

Terkait dengan Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks), Kementerian Pertanian dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meneken nota kesepaham-an peningkatan populasi dan produksi dalam rangka percepatan ekspor komoditas peternakan.

Menurut Syahrul Yasin Limpo, kesepakatan itu didasari adanya keinginan bersama untuk memajukan sektor peternakan dengan menyinergikan potensi, tugas, fungsi dan kewenangan, serta prog­ram yang ada.

“Kita sepakat bekerja sama untuk mewujudkan peningkatan populasi dan produksi dalam rangka ekspor komoditas peternakan. Apalagi NTT merupakan salah satu lumbung ternak sapi nasional, penyuplai terbesar kebutuhan protein hewani,” ujar Syahrul.

Ia mengatakan upaya tersebut tidak sebatas pada kemampuan dalam menyediakan pangan yang cukup bagi masyarakatnya, tetapi juga harus disertai dengan peningkatan kualitas konsumsi pangan masyarakat.

“Kita perlu menggerakkan seluruh sumber daya yang dimiliki, termasuk kontribusi daerah dalam pembangunan peternakan,” ungkapnya. (LN/Pra/E-2)

BERITA TERKAIT