16 December 2019, 00:30 WIB

Literasi dari Perpustakaan Koper


Iin/H-1 | Humaniora

Sumber: Tim MI/Foto: Yosep Rusfendi
 Sumber: Tim MI/Foto: Yosep Rusfendi
Perpustakaan Koper Madiun Membaca.

Berawal dari keikutsertaan di gerakan Madiun Membaca, Yosep Rusfendi, 42, bersama dua rekannya, Bayu Suharta dan (alm) Husnur Alamsyah mendirikan Perpustakaan Koper Madiun Membaca pada 11 Januari 2015, di Kota Madiun. “Idenya sederhana, mengajak masyarakat Madiun membaca sejenak setiap minggu. Minimal menjadi percikan agar masyarakat kangen kembali membaca buku,” terang Yosep ketika dihubungi Media Indonesia pada Minggu (15/12).

Saat itu, Yosep hanya berbekal kurang lebih 300 buku. Tak disangka, ia bertemu temannya yang baru saja menutup usaha persewaan komik dan mempunyai tiga karung buku komik. Sang teman bersedia memberikan komik yang kemudian disortir yang layak baca.

“Ada teman yang menawarkan koper bekas yang rusak gagangnya untuk menyimpan buku. Nah, karena dapat koper, sekalian saja perpustakaan dinamakan Perpustakaan Koper Madiun Membaca,” jelasnya.

Perpustakaan koper mulanya membuka lapak di Alun-Alun Kota Madiun. Buku-buku diletakkan dalam koper yang dibuka di atas tikar. Pengun-jung bebas untuk membaca sambil duduk-duduk di sekitarnya. Karena sering digunakan untuk acara, lokasi perpustakaan berpindah ke Lapangan Gulun, Kota Madi-un. Ternyata, lapangan itu juga sering digunakan untuk acara dan kurang kondusif untuk membaca buku. “Akhirnya kami keliling ngelapak, kadang di tengah kampung sesuai dengan kawan jaringan komunitas yang sedang ada acara, misalnya, penggalang-an dana bencana dan acara donor darah,” imbuhnya.

Yosep mengaku belum menghitung ulang jumlah buku yang dimiliki. “Banyak orang mendonasikan buku, ada buku yang kami  distribusikan ulang,” jelasnya. Ia mencontohkan, ketika mendapat sumbangan koper dan buku dari ICT Watch pada 2018, perpustakaan mendistribusikan buku itu ke taman bacaan masyarakat di sekitar Madiun yang baru dirintis.

Buku yang paling sering dibaca ialah buku cerita, ko-mik, dan novel. “Selain perpustakaan, kami juga menggelar ular tangga internet sehat sebagai bagian kinerja literasi digital. Jadi, kami mengedukasi anak-anak tentang pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang aman dan sehat,” lanjut Yosep.

Firman, 43, salah satu pengun­jung tetap, mengaku sering mengajak ketiga anaknya yang masih sekolah dasar untuk berkunjung ke Perpustakaan Koper. “Ya, ke Alun-Alun, ke Lapangan Gulun, tergantung di mana lokasinya. Anak-anak saya senang membaca di tempat terbuka, tidak jenuh di perpustakaan biasa,” jelasnya. (Iin/H-1)

BERITA TERKAIT