15 December 2019, 18:20 WIB

Alokasi Anggaran Harus Tepat Demi Pembangunan Olahraga Indonesia


Yakub Pryatama Wijayaatmaja | Olahraga

MI/Panca Syurkani
 MI/Panca Syurkani
Ketua Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia (Apkori), Djoko Pekik Irianto.

INDONESIA mengamankan posisi keempat dan berhasil mencapai target medali setelah mengumpulkan 72 medali emas, 84 perak, dan 110 perunggu dalam gelaran SEA Games 2019 Filipina.

Namun, hasil tersebut belum mampu mencapai target dua besar yang dicanangkan Presiden Joko Widodo saat melepas para kontingen di Istana Bogor, November silam.

Kini Indonesia dihadapkan untuk memersiapkan atlet elite terbaiknya guna bisa melaju ke Olimpiade.

Menurut Ketua Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia (Apkori), Djoko Pekik Irianto, sebaiknya CSR BUMN juga bisa digunakan untuk pembinaan prestasi olahraga yang saat ini alokasi anggaran dari APBN masih kurang dari 1%.


Baca juga: Ukir Prestasi di SEA Games, Perbakin Ingin Sukses di Olimpiade


"Agar pembangunan olahraga Indonesia bisa mengalami percepatan sehingga mampu bersaing dengan negara besar dunia butuh anggaran yang banyak minimal 2% dari APBN apalagi menyongsong 2032 kita ingin menjadi tuan rumah Olimpiade," ujar Djoko, pada Minggu (15/12).

Demi pembangunan olahraga secara masif, Djoko menilai bahwa keterbatasan APBN yang dialokasikan untuk olahraga tak cukup. Maka kehadiran CSR menjadi solusi bijak.

Penambahan anggaran ini diharapkan merata agar peluang cabor Olimpik bisa lebih banyak mengirimkan atletnya ke level Olimpiade.

Saat ini, baru ada cabor angkat besi, panahan, atletik dan menembak yang lolos dari kualifikasi Olimpiade. (OL-1)

BERITA TERKAIT