15 December 2019, 17:55 WIB

Terkesan Akomodatif, Wantimpres Harus Buktikan Kinerja


Putri Rosmalia Octaviyani | Politik dan Hukum

PELANTIKAN sembilan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinilai sangat akomodatif dan hanya menguntungkan kalangan konglomerat.

Pengamat politik Indonesia Political Review, Ujang Komarudin, mengatakan, melihat sosok-sosok yang terpilij, sulit untuk tidak menilai bahwa Wantimpres memang hanya menguntungkan partai politik dan konglomerat.

"Ini sangat bisa dikatakan sebagai politik balas budi yang mengakomodasi pihak-pihak yang dulu berjasa ketika pemilihan presiden," ujar Ujang, ketika dihubungi, Minggu, (15/12).

Ujang mengatakan, penunjukkan pengusaha dalam Wantimpres secara langsung akan menguntungkan bagi bisnis mereka. Sebaliknya untuk masyarakat, manfaat kehadiran mereka sebagai Wantimpres masih perlu dipertanyakan.

"Jadi ya tidak salah kalau ada yang menilai pilihan-pilihan Jokowi ini pro konglomerat," ujar Ujang.

Untuk membantah pandangan tersebut, Ujang mengatakan harus dibuktikan dengan kinerja maksimal seluruh Wantimpres. Mereka harus mampu berperan untuk memberikan masukan dan pertimbangan yang berpihak pada rakyat ke presiden.


Baca juga: Satu Brimob Tewas, Satgas Tinombala Perketat Keamanan Wilayah Operasi


"Jadi ya harus buktikan dengan kerja sebaik-baiknya untuk rakyat," ujar Ujang.

Sementara itu, politikus Golkar, Ace Hasan Sadzily, mengatakan, komposisi Wantimpres yang dipilih Jokowi sudah ideal. Terdiri atas beberapa kalangan, termasuk tokoh agama. Ia berharap sembilan sosok tersebut bisa memberi masukan yang konstruktif untuk berbagai persoalan pada presiden.

"Mereka diharapkan dapat memberikan masukan yang konstruktif bagi Presiden Jokowi dalam menjalankan tugasnya," ujar Ace.

Seperti diberitakan, Jokowi melantik sembilan orang sebagai Wantinpres. Dari sembilan orang tersebut, satu orang dari kalangan ulama yakni Habib Luthfi bin Yahya. Sebanyak tiga orang dari kalangan pengusaha, yakni Dato Sri Tahir, Putri Kuswisnu Wardani, dan Arifin Panigoro. Sisanya sebanyak lima orang merupakan tokoh yang sebelumnya aktif di parpol, yakni Wiranto, Sidarto Danusubroto, Sukarwo, Agung Laksono, dan Mardiono. (OL-1)

BERITA TERKAIT