15 December 2019, 10:30 WIB

Daerah Diminta Siaga Bencana


Mitha Meinansi | Nusantara

(ANTARA/Muhammad Hajiji)
 (ANTARA/Muhammad Hajiji)
Gubernur Sulteng Longki Djanggola mendampingi Kepala BNPB Doni Monardo saat meninjau daerah terdampak banjir Sigi di Desa Bolapapu 

GUBERNUR Sulawesi Tengah, Longki Djanggola, dengan berat hati meng akui banjir bandang yang menerjang permukiman warga di Dusun Pangana, Desa Bolapapu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, sudah pernah terjadi sebelumnya dan kini terulang lagi.

"Kalau tidak salah, delapan tahun lalu saya di sini. Saat itu korban enam orang. Jadi, tolong Bapak-Bapak, kejadian ini berulang. Artinya, ke depan mungkin terjadi lagi. Kita harus siaga," kata Longki Djanggola, kemarin.

Gubernur Longki menyampaikan hal itu ketika mendampingi Kepala BNPB Doni Monardo meninjau daerah terdampak banjir bandang di Desa Bolapapu tersebut.

Sekali lagi Gubernur Longki mengingatkan bencana serupa pernah terjadi pada 2011. "Mungkin Bupati sudah ngomong berkali-kali. Saya juga sudah berkali-kali, tetapi tetap tidak didengar."

Banjir bandang yang disertai material kayu, batu, dan lumpur menerjang Desa Bolapapu, Kamis (12/12) petang itu mengakibatkan 57 rumah rusak terdiri atas 7 rusak berat dan 50 rusak ringan. Dua warga meninggal dunia.

Kepala BNPB Doni Monardo mengharapkan korban banjir bandang di Desa Bolapapu tidak putus asa dan senantiasa siaga. "Harus bangkit, harus semangat, bersatu padu, untuk kembali pulih."

Banjir bandang akibat tingginya curah hujan juga terjadi di wilayah Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat, Jumat (13/12) pukul 05.00 WIB. Hingga kemarin air yang meluap di Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh, Kecamatan Sungai Pagu, dan Kecamatan Pauh Duo belum juga surut.

"Banjir bandang terjadi akibat hujan intensitas tinggi. Sebelumnya, pada 20 November 2019, wilayah itu sudah diterjang banjir bandang. Laporan sementara banjir bandang merendam 1.000 rumah dengan ketinggian antara 30 hingga 120 sentimeter dan satu jembatan roboh," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, Agus Wibowo.

BPBD Lebak, Banten, mencatat kerugian Rp16,8 miliar akibat banjir bandang dan longsor di Kecamatan Cibeber dan Bayah, Jumat (6/12) .

Meskipun tidak menimbulkan korban jiwa, banjir bandang dan longsoran tanah yang melanda 11 desa itu mengakibatkan 1.325 jiwa kehilangan rumah, serta sebanyak 261 rumah, jembatan, dan jalan mengalami kerusakan parah.

Daerah rawan

Berdasarkan perkiraan BMKG, awal musim hujan tahun ini mundur hingga Desember 2019 dan puncaknya Januari-Februari 2020. Untuk itu, warga diminta waspada dan siaga menghadapi bencana dimusim pancaroba. Potensi bencana yang mungkin terjadi ialah angin puting beliung dan gelombang tinggi di pesisir. Saat musim hujan ada ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang.

Sejumlah wilayah rawan dilanda banjir bandang dan diterjang tanah longsor, di antaranya selatan Jawa Barat, Solo-Sukoharjo, sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo di Jawa Timur, kawasan Bukit Barisan sepanjang Aceh-Lampung, dan Sulawesi Tengah.

Kepala BNPB Doni Monardo menjelaskan banjir bandang dan tanah longsor dapat dicegah apabila warga masyarakat peduli terhadap alam.

"Saat ini perlu kesadaran kolektif untuk mengubah perilaku tidak peduli lingkungan menjadi serius memperhatikan lingkungan," kata Doni kepada warga korban banjir bandang di Desa Bolapapu.

Doni mengungkapkan, berdasarkan citra satelit dan keterangan sejumlah pihak, ada perubahan vegetasi di hulu Desa Bolapapu yang menyebabkan banjir bandang. "Terjadi penebangan pohon 10 atau 20 tahun lalu." (TB/YH/WB/Ant/X-3)

BERITA TERKAIT