15 December 2019, 07:45 WIB

Cita Rasa Lokal Tijili Seminyak dari Tangan Chef Artana


(Fat/M-4) | Weekend

  MI/ FATHURROZAK
  MI/ FATHURROZAK
Artana’s noodle


MENIKMATI angin semilir di pelataran Jalan Drupadi, Seminyak, Bali, siang ini terasa istimewa. Berkawan segelas mocktail yang menjadi signature Kakatua Tropic Lounge milik Tijili Seminyak, saya berkesempatan untuk berbincang dengan chef Artana Yasa, tangan terampil di balik sajian-sajian bercita rasa lokal maupun mancanegara di butik hotel ini.

Selain dikenal sebagai butik hotel, Tijili rupanya memiliki resto yang menawarkan sajian dari berbagai belahan dunia untuk para tamu maupun pengunjung restonya. Meski begitu, resto ini tetap mengandalkan menu tradisional yang terinspirasi dari masakan asli Indonesia.

Kali ini, saya mencoba dua menu olahan mi yang ditawarkan resto. Menariknya, resto ini membuat mi berbahan dasar sayuran yang diracik langsung di dapur restoran sebagai kekhasannya.

Setelah berbincang beberapa saat, pramusaji membawakan semangkuk prawn glass noodle curry, salah satu menu tradisional yang paling banyak diminati di resto ini.

"Ingredient-nya ini adalah autentik fresh green noodle. Dibuat dari spinach blends campur tempung terigu, telur, dan garam, lalu ditambah cauliflower dan tofu sebelum disiram bumbu kari kental," jelas chef Artana kepada Media Indonesia, Jumat (6/12).

Chef Artana meracik kari kental itu dengan resep khas Medan yang cukup autentik, lengkap dengan kapulaga, kayu manis, dan santan. Kari ini kemudian ditambah dengan udang sebagai pelengkap rasa. Tentu saja rasanya menjadi semakin kaya. Menurutnya, menu ini sangat digemari tamu hotel yang hingga saat ini masih didominasi wisatawan domestik dengan perbandingan 7:3

jika dibandingkan dengan wisatawan mancanegara. Meski diracik menggunakan mi buatan sendiri, tak jarang tamu domestik memesan jenis karbohidrat lain sebagai teman makannya, seperti nasi dan lontong. "Kalau tamu domestik biasanya juga seleranya lebih ke spicy,  sedangkan bule-bule lebih suka kuat di rempahnya," tambah chef Artana. Untuk mengakomodir cita rasa penikmat Nusantara, kari disajikan lengkap dengan cabai dan kecap serta sambal hijau untuk menambah cita rasa pedas. Bagi saya, kari ini memang sangat kaya rasa dengan tekstur yang beraneka ragam. Mi yang kenyal dipadukan dengan brokoli yang renyah, tahu sutra yang lembut, dan daging udang membuat nuansa rasa dalam sesendok kari menjadi demikian kompleks.

Selain tamu hotel, menurut pihak manajemen, resto kerap dikunjungi wisatawan yang melintas mencari kuliner dan suasana baru. Mereka sengaja datang khusus untuk bersantap, mencari suasana, dan menjajal menu yang baru.

Buatan sendiri Sebagai chef berpengalaman, Artana sudah membuat 'signature dish' sendiri yang ia namai dengan namanya, yakni Artana's Noodle. Masih berbahan dasar mi homemade dari bayam, ia memodifikasi karyanya menjadi sajian bernuansa oriental yang tidak membosankan. Mi yang diolah menggunakan wok itu dipadukan dengan beberapa sayuran, seperti sawi dan tauge, juga telur dan seafood sehingga kaya akan tekstur dalam satu suapan.

Menu itu pun ditaburi dengan krispi ikan dori dan bawang putih goreng di atasnya yang membuat pengalaman memakan mi tidak monoton. Tak ketinggalan, udang sebagai pemanis sekaligus pelengkap rasa. "Idenya memang saya kalau makan mi itu biasanya enek, bosan di tengah-tengah. Jadi saya ingin coba buat mi yang tidak membosankan saat dimakan," jelas chef Artana.

Saat menyuap mi karya chef Astana, masih terasa jelas campur tangan bumbu oriental di lidah saya, yakni oyster, kecap manis, dan minyak wijen. Bumbu oriental itu bersatu dengan sayur-mayur dan seafood yang menjadikannya sajian bernutrisi yang cukup padat lagi mengenyangkan.

Mocktail penyemarak suasana Resto Kakatua didesain cukup artistik dan instagrammable tepat di sisi Jalan Drupadi. Resto ini juga meliputi area kolam renang hotel yang sejauh ini belum dibuka untuk umum, tapi masih bisa menjadi latar pemanis foto-foto Anda di Bali.

Menurut pihak manajemen hotel, tak jarang tamu yang berkunjung untuk sekadar mencari suasana memesan mocktail signature mereka, yakni kakatua splash. Mocktail yang terbuat dari potongan buah tropis segar, seperti semangka, kiwi, jeruk, dan buah naga dipadukan dengan perisa blueberry dan Sprite itu pun menjadi kawan yang cantik saat berswafoto.

Saya juga berkesempatan mencoba berry chee flava yang juga menjadi best seller resto. Berbeda dengan kakatua splash, berry chee memiliki rasa daun mint yang lebih kuat yang dipadukan dengan perasan lemon.

Berbagai varian mocktail dibanderol dengan harga Rp50 ribu, sebelum pajak. Adapun kocek yang harus dirogoh untuk menikmati sajian di Kakatua Tropic Lounge bervariasi dari Rp50 ribu hingga Rp400 ribu.

Tijili seminyak sendiri merupakan hotel butik berkapasitas 120 kamar di kawasan Seminyak yang menawarkan kenyamanan beristirahat dan berwisata kuliner bagi pelancong lokal maupun mancanegara. (Fat/M-4)

BERITA TERKAIT