15 December 2019, 06:00 WIB

Berjejaring lewat Instagram


Jek/M-1 | Weekend

MESKI kini tegas menyatakan berbeda dengan sulap kartu, para seniman di Indonesian Cardistry Artist mengaku memang awalnya tertarik karena sisi sulap. Namun, setelah kini, sedekade mereka memang sudah sangat fokus menjadikan kartu sebagai medium eksplorasi mencari bentuk.

"Kalau teman-teman di Indonesia awalnya terpengaruh sama seperti di luar. Ketika ada pesulap yang sudah punya nama, tiba-tiba merilis semacam dvd tutorial yang mengajarkan card flourish-nya saja. Awalnya seperti itu. Dari situ kita tahu dari piooner, kita pelajari," terang Dhimas.

Interaksi para seniman kartu ini awalnya terbentuk melalui forum-forum yang ada di internet. Kini interaksi mereka lebih liat lagi ketika semakin banyak platform media sosial. Diakui Legia Aditama, Instagram menjadi platform yang paling efektif untuk menampilkan kemampuan bermain kartu maupun mencari referensi, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

"Misal, posting salah satu gerakan. Lalu, ada yang menanyakan tips bagaimana caranya. Lalu gue rekam ulang dengan ditambah omongan karena kalau di awal hanya gerakan. Jadi ketika diutarakan secara verbal ada satu atau dua kuncian yang menjadi perhatian."

Pola interaksi yang mengikuti perkembangan zaman tersebut tentunya memudahkan para cardistry artist untuk menunjukkan sisi kelebihan masing-masing.

Menurut Dhimas, ia melihat cardistry bukanlah seni yang cocok ditampilkan sebagai performance di panggung. Itu karena menurutnya, menjadikan freestyle kartu terlihat kurang efektif.

Cardistry tampaknya memang lebih cocok bila ditampilkan lewat medium audio visual. "Banyak dari para cardistry juga diajak bermain film kalau ada scene di kasino, jadi dealer, kasih showcase keahlian bermain kartu. Selain itu, teman-teman juga ada yang dilibatkan untuk promosi komersial." (Jek/M-1)

BERITA TERKAIT