15 December 2019, 02:00 WIB

Esperanto (Indonesia)


Suprianto Annaf Redaktur Bahasa Media Indonesia | Weekend

Medcom.id
 Medcom.id
Ilustrasi

BAHASA identik dengan produk warisan. Diterima dan digunakan secara temurun sebagai kewajaran. Lingkungan pun menjadi media penyampai yang dominan. Semakin banyak interaksi bahasa dalam lingkungan itu, semakin kuat pula bahasa itu digunakan. Inilah yang disebut bahasa ibu. Yang menyatu seiring waktu. Dimiliki tanpa disadari.

Karena alasan tertentu, masyarakat pemakai bahasa akan meninggalkan bahasa ibu. Entah permanen, entah tidak. Mereka akan mencari bahasa kedua. Biasanya juga bahasa kedua dipersepsi lebih 'maju' sehingga harus digugu. Bahasa baru.

Dalam konteks milenial, masyarakat yang berbahasa ibu ialah bahasa Indonesia sering kali berkreasi. Mereka terkesan tidak puas dengan bahasa pertamanya itu karena alasan kaku: tidak gaul dan jauh dari kemilenialan. Akhirnya, mereka berkreasi membuat bahasa sendiri. Ini yang kita namakan bahasa slang. Sebagai contoh, belakangan muncul 'sabi' yang diambil dari kata 'bisa'. Ada juga kata 'sabeb' yang berasal dari kata 'bebas'. Seterusnya ada kata 'kuy' (yuk), 'hacep' (pecah), dan 'takis' (sikat). Kreasi ini lucu, unik, dan menggelitik, bukan?

Namun, tahukah Anda bahasa slang seperti itu tidak bertahan lama. Luntur, hilang, dan entah ke mana. Biasa juga hanya dikenang oleh generasi semasanya. Mengapa demikian? Jawabannya, bahasa slang Indonesia tidak berkaidah linguistik yang cukup untuk berdaya.

Kondisi ini sangat berbeda dengan bahasa Esperanto. Tahukah Anda? Esperanto ialah bahasa slang dunia. Kehadirannya muncul karena perbedaan bahasa. Karena berbeda bahasa inilah, masyarakat terpecah. Esperanto pun hadir sebagai penengah.

Jangan tanya negara mana atau di kawasan mana bahasa gaul ini digunakan. Tentu jawabannya bahasa ini sudah ada di banyak negara, termasuk Indonesia (1919). Bahasa artifisial atau bahasa buatan ini dicipta seorang Polandia bernama Dr Ludwig Lazarus Zamenhof (1851-1917). Cukup lama!

Bahasa Esperanto bukan merupakan bahasa ibu siapa pun di dunia ini. Bahasa ini dianggap milik yang setara bagi semua orang, tapi pembelajaran bahasa Esperanto akan lebih mudah jika pembelajar menguasai dengan baik bahasa Inggris, Jerman, dan Prancis. Tentu saja karena kosakata bahasa Esperanto ada kemiripan dengan kosakata bahasa-bahasa itu.

Bahasa Esperanto ini dianggap jauh lebih mudah dipelajari daripada bahasa Inggris, tata bahasanya mudah dipahami. Bahkan bahasa ini dianggap bahasa gaul dunia. Tertarik?

Alasan kemudahan di atas, bukanlah satu-satunya Esperanto bisa bertahan. Namun, secara linguistik, Esperanto memiliki kelengkapan. Mulai kosakata, frasa, klausa, hingga makna, esperanto berkaidah. Dalam hal pronomina, Esperanto memiliki ciri-ciri yang mudah dikenali. Huruf i yang ditempelkan akan menjadi ciri bahasa ini. Untuk kata ganti saya, Esperanto memiliki lema mi, vi untuk kamu, li (dia lelaki), sxi (dia perempuan), ni (kami), vi (kamu), dan ili (mereka).

Di Tanah Air, kreasi bahasa sering ganti-pasang untuk kesekian kali. Lucu, tetapi bahasa itu tidak bisa ditiru secara ilmu. Bahasa slang Indonesia rapuh karena terlahir dari kaidah yang lusuh. Sederhana dan miskin makna. Kata 'sabi' hanya hasil membalik kata 'bisa'. Kondisi seperti tentu sulit berlaku bila bertemu dengan kata 'sayang', 'tradisional', dan lain-lain. Begitu pula bila persona 'dia' menjadi 'aid', tentu lucu. Aneh! Terakhir, bahasa Esperanto bisa mendunia karena terlahir dari terdidik sehingga terstruktur dan sistemis.

BERITA TERKAIT