15 December 2019, 03:00 WIB

Manipulasi Kartu tanpa Magic


Fathurrozak | Weekend

HANYA dengan satu tangan, ia membagi tumpukan satu set kartu remi itu. Dengan lincah jari-jarinya bergerak sehingga satu tumpukan itu dengan cepat terbagi tiga dan semuanya tetap tergenggam rapi.

Begitulah aksi Legia Aditama yang dipertunjukkan pada Media Indonesia, Minggu (8/12). Bertempat di Lobbyn Sky Terrace, Liberta Hotel, Kemang, Jakarta, Legia bersama rekan-rekannya dari komunitas Indonesian Cardistry Artist (Indocardist) menunjukkan seputar seni bermain kartu tersebut.

Bukan hanya gerakan membagi atau memotong (cutting) tumpukan kartu dengan satu tangan, mereka juga menguasai sederet teknik lainnya. Sebut saja gerakan fanning atau membentuk kipas, aerial atau memainkan kartu dengan dilempar ke udara hingga gerakan display yang mirip dengan cut, tapi dengan ditambahkan gerakan mengambil salah satu secara acak dari tumpukan.

"Kalau gue lebih ke cutting sih. Bukan yang fanning, aerial, yang enggak fancy-lah," jelas Legia dalam bincang-bincang di kafe berkonsep rooftop yang nyaman itu.

Legia yang sudah mengenal komunitas Indocardist, sejak awal mereka berdiri pada 2009 mengungkapkan jika kesulitan, tiap-tiap gerakan justru menjadi daya tarik tersendiri. Mendalaminya membawa kepuasan tersendiri. "Jadi kepuasan pribadi, ngulik-nya tuh kayak main puzzle," ujar pria yang kesehariannya bekerja di bidang komposit konstruksi.

Co-Founder Indonesian Cardistry Artist (Indocardist), Dhimas Bhaskara, mengungkapkan cardistry atau dulunya lebih dikenal dengan card flourish, sesungguhnya merupakan seni yang bebas. Mereka kemudian memilih nama Cardistry untuk lebih menonjolkan sisi fun dan terbuka akan trik.

"Bedanya jelas. card flourish hanya freestyle. Tidak terikat dengan aturan. Jadi lebih terbuka, tidak ada trik, kita move saja dengan kartunya. Ibarat pemain bola, kan ada freestyler juga, dia bisa main bola cuma tidak terikat dengan sepak bolanya sendiri. Kalau sekarang sebutannya cardistry, jadi kita eksplorasi kesenangan melalui kartu bisa diapakan saja sih, tanpa ada rahasia," papar Dhimas.

Lebih lanjut, ia menuturkan jika sisi sulap memang akan kental terlihat karena memang merupakan akar yang mendasari seni kartu itu. Dalam sulap, kartu remi kerap dijadikan sebagai medium untuk memperlihatkan trik ke penonton.

Kartu remi yang digunakan para cardistry artist di Indonesia, disebut masih impor. Hal itu bukan lantaran gengsi, melainkan lantaran produk kartu dengan kualitas kartu kasino belum diproduksi di dalam negeri.

Dhimas menjelaskan, kartu dengan kualitas kasino memiliki kualifikasi tertentu pada aspek handling dan daya tahan. Kartu harus tidak terlalu licin dan juga tidak terlalu kesat. Selain itu, juga tidak terlalu lembek ataupun kasar agar dapat dikontrol dengan baik.

Pada sisi daya tahan, kartu harus tidak lekas bengkok dan mengelupas di bagian pinggir. "Selanjutnya desain, kalau ini sudah selera masing-masing. Kami memilih impor dari luar karena memang yang punya standar kasino, ya tidak ada di sini. Artinya, standar itu mengukur bahwa kartunya memang diproduksi untuk dimainkan berulang kali, termausk berpindah tangan berulang kali," ungkap Dhimas.

Setelah memilih kartu yang tepat, langkah awal pembelajaran para seniman cardistry ialah mengenal teknik memegang. Teknik gripping ini berbeda di tiap genre seni kartu. "Misalnya, mechanical grip, yang menentukan posisi jari-jari," tambah Dhimas.

Gaya hidup

Cardistry kini sudah dianggap sebagai bagian dari gaya hidup bagi mereka yang menekuni. Bermula dari hobi dan kini beragam kartu menemani keseharian. Itu karena tak jarang para cardistry artist punya banyak koleksi. Untuk beberapa koleksi langka, ada yang bernilai pada kisaran Rp5 juta-Rp10 juta.

"Kita memandang cardistry sebagai lifestyle. Banyak pergeseran, dari sekadar hobi sekarang yang menekuni cardistry secara otomatis paling tidak bawa satu pak kartu ke mana-mana. Seperti lifestyle karena memang juga sudah seperti fesyen. Misalnya, hari ini kita mau bawa yang warna apa, yang match sama baju yang kita pakai. Kalau koleksi pribadi, kayaknya sudah enggak terhitung. Tapi mungkin pada kisaran 200-300 pak kartu," terang Dhimas.

Bahkan, menurut penuturan Legia, kini kartu remi juga sudah dipasarkan layaknya streetwear. "Kartu sudah kayak streetwear. Sekarang sudah bukan perusahaan, misalnya, keluarkan hanya kartu. Jadi iklankan produk bareng kaus, misalnya. Sudah bermain ke apparel. Perkembangannya sudah lebih ke streetwear,".

Indocardist yang sudah ada sejak 2009, itu, hadir di beberapa kota, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Pekanbaru, Pontianak, dan Yogyakarta. Pada tahun lalu, dicanangkan National Cardistry Day (NCD) yang berlangsung di Yogyakarta. Ini menjadi ajang perdana para cardistry artist dari seluruh daerah di Indonesia berkumpul. Serupa hajat besar internasionalnya, Cardistry Con, yang penyelenggaraan tiap tahunnya berganti negara.

Posisi Indocardist di dunia pun cukup berbicara. Salah satu Co-Founder Indocardist pernah menjuarai kompetisi cardistry pertama di tingkat internasional pada medio 2011. Pada 2015, cardistry artist dari Indonesia juga menjuarai dalam kompetisi trailer video cardistry. Meski menurut Dhimas Indonesia menjadi negara yang paling banyak memiliki cardistry artist, perkembangan skillnya masih jauh bila dibandingkan dengan negara lain. Belum banyak yang bisa setara dengan internasional. (M-1)

BERITA TERKAIT