14 December 2019, 18:22 WIB

Eliminasi Malaria di Sumba Alami Banyak Kemajuan


Palce Amalo | Nusantara

MI/PALCE AMALO
 MI/PALCE AMALO
Konsorsium Percepatan Eliminasi Malaria menggelar pertemuan monitoring dan evaluasi pertama di Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT

PROGRAM percepatan eliminasi malaria di empat kabupaten di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami banyak kemajuan sejak terbentuknya konsorsium eliminasi malaria pada 24 Mei 2019.

Konsorsium eliminasi malaria merupakan salah satu upaya Dinas Kesehatan NTT secepatnya membebaskan Sumba dari malaria. Kemajuan yang dicapai itu terlihat dari adanya perbaikan mutu layanan diagnostik malaria, dan penerbitan peraturan bupati (perbub) untuk mendukung percepatan eliminasi malaria.

Dari aspek kualitas layanan, antara lain adanya peningkatan kapasitas petugas laboratorium melalui pelatihan. Saat ini hampir seluruh petugas laboratorium di daerah itu telah mendapatkan pelatihan terakreditasi dan  uji kompetensi. 

Kementerian Kesehatan, Unicef, dan Dinas Kesehatan NTT memberikan apresiasi terhadap kemajuan eliminasi malaria di Sumba tersebut.

"Namun perlu diikuti dengan penyediaan logistik laboratorium yang memadai sesuai standar, mikroskop yang memenuhi syarat dan memastikan adanya standar operasional prosedur (SOP) di setiap layanan kesehatan mulai dari puskesmas sampai rumah sakit," kata Kepala Dinas Kesehatan 
NTT dokter Dominggus Minggu Mere kepada Media Indonesia, Sabtu (14/12).

Selama ini petugas laboratorium di empat kabupaten di Sumba yakni Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Timur termasuk Rumah Sakit WZ Johannes Kupang menjalani pelatihan di Yayasan Sumba Foundation di Waikabubak, Sumba Barat.

Baca juga: Sumba masih Berjuang Keluar dari Status Daerah Endemis Malaria

Sumba Foundation dibangun dokter Claus Bough, ahli entemologi asal Swedia yang bekerja membantu pemerintah pusat dan daerah melakukan eliminasi malaria di Sumba sejak 16 tahun terakhir. Pelatihan dalam rangka peningkatan kapasitas petugas laboratorium juga digelar di Kupang. 

"Kami ingin kerja sama, sinergisitas dan kemitraan dengan lembaga ini perlu ditingkatkan," tambah dokter Dominikus.

Menurutnya upaya percepatan eliminasi malaria harus menjadi gerakan masyarakat, karena itu perlu dibarengi dengan pemberdayaan masyarakat yang nantinya menjadi spirit dan energi utama keberhasilan eliminasi malaria di daerah itu. 

"Masyarakat harus menjadi subyek dari perubahan itu. Kemandirian masyarakat menjadi kunci keberhasilan eliminasi malaria," ujarnya.

Kemajuan lainnya, terlihat dari angka kejadian malaria (Annual Parasite Incident/API) per 1.000 penduduk di setiap kabupaten rata-rata mengalami penurunan. 

Di Sumba Tengah, angka kejadian malaria pada 2019 tercatat turun menjadi 1,95%. Pada 2018, angka kejadian malaria di kabupaten ini masih tinggi yakni 7,7%.

Selanjutnya, di Sumba Barat tercatat angka kejadian malaria masih tinggi yakni 26,7%, dan puskesmas dengan kasus positif malaria tertinggi adalah Puskesmas Gaura sebanyak 323 kasus positif malaria (API 33,7%). 

Angka kejadian malaria di Sumba Barat Daya tahun juga sudah turun menjadi yakni 7,8% per 1.000 penduduk dari posisi 2018 sebesar 21% per 1.000 penduduk. Namun pemerintah daerah setempat bertekad menurunkan angka kejadian malaria menjadi 4% pada 2020 dan nol persen pada 2023.

Untuk Sumba Timur, angka kejadian malaria tertinggi di sejumlah 11 dari 22 puskemas, tertinggi dilaporkan di Puskemas Laiunggi sebesar 15,6%, namun angka itu sudah turun dari posisi 2018 sebesar 20,9%.

Begitu juga Puskesmas Malahar, angka kejadian malaria tahun ini sudah turun menjadi 5,4% dari posisi 2018 sebesar 10,5%. Dua puskemas lainnya yakni Tanaraing, angka kejadian malaria turun menjadi 15,1% dari posisi 2018 24,7%, dan angka kejadian malaria di Puskesmas Rambangaru pada 2018 sebesar 24,2%, pada 2019 turun menjadi 6,9%

Pencegahan Stunting
Sementara itu, Dokter Maria Endang Sumiwi dan dokter Vama Chisnadarmani dari Unicef juga sepakat model strategi percepatan eliminasi malaria di Sumba dapat dipakai dalam program percepatan penurunan stunting.

"Upaya ini harus mendaptkan perhatian khusus dalam enam bulan ke depan," kata dokter Vama Chisnadarmani.

Sementara itu, dokter Maria Endang Sumiwi penyakit malaria menyebabkan anemia  pada ibu hamil menyebabkan berat bayi lahir rendah (BBLR). Pada anak usia bawah dua tahun (baduta), malaria menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan dan akan menyebabkan stunting.

Di Sumba, peran gereja sangat penting. Gereja sangat strategis untuk mengerakan jemaat menuju eliminasi malaria. Selain lembaga agama, pemerintah juga perlu mengandeng lembaga adat dan sekolah seperti usaha kesehatan sekolah (UKS). Setelah kembali ke rumah, para siswa tersebut bisa berperan sebagai agen perubahan di keluarga dan lingkungan di sekitarnya.

Sesuai data Dinas Kesehatan NTT pada 2018, dari 283.326 balita sebanyak 227.985 melakukan pengukuran badan meliputi berat, tinggi, dan umur, terdapat 82.249 orang tercatat sebagai balita stunting terdiri dari balita pendek 34.206 orang dan balita sangat pendek 48.043 orang. (A-4)

BERITA TERKAIT