14 December 2019, 08:15 WIB

BWI Terima Wakaf Paten Konstruksi Sarang Laba-Laba


Antara | Humaniora

MI/Susanto
 MI/Susanto
Ketua BWI, M Nuh

BADAN Wakaf Indonesia (BWI) menerima wakaf berupa paten konstruksi sarang laba-laba untuk nantinya dapat dipergunakan untuk pembangunan yang menggunakan dana wakaf.

"Wakaf berupa paten seperti ini merupakan bentuk lain dari pemahaman tentang wakaf yang ada di masyarakat," kata Ketua BWI, M Nuh, di Jakarta, Jumat (13/12).

Menurut mantan Menteri Pendidikan itu, selama ini masyarakat beranggapan wakaf hanya terbatas pada benda tidak bergerak seperti tanah, dan biasanya diwakafkan untuk masjid, musala, makam, dan tempat ibadah lain.

"Padahal kini berkembang pengertian tentang wakaf, salah satunya bahwa kepemilikan paten pun bisa diwakafkan dengan akad yang jelas,” katanya.

Nuh berharap dengan pemahaman yang kini berkembang di masyarakat tentang wakaf, maka ke depan potensi wakaf diharapkan akan terus berkembang dan bisa dimanfaatkan untuk pembangunan umat.

BWI untuk pertama kali dalam sejarah perjalanannya menerima wakaf dalam bentuk hak paten dari pemilik paten Konstruksi Sarang Laba-Laba (KSLL), fondasi ramah gempa.

 

Baca juga: Tanpa UN, Guru Diminta Latih Murid Bernarasi

 

Penyerahan hak paten atas nama PT Katama Suryabumi secara resmi diterima oleh Ketua BWI dalam rangkaian acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BWI yang dibuka Wakil Presiden Ma'ruf Amin pada Selasa, 10 Desember 2019.

Presiden Direktur PT Katama Suryabumi, Kris Suyanto, dalam akadnya sebagai wakif, menyatakan, paten yang diwakafnya ialah 70% setiap biaya pemakaian paten KSLL yang digunakan untuk keperluan pembangunan proyek-proyek wakaf. Sedang sisanya 30% digunakan untuk operasional pendampingan.

“Kami tergerak untuk mewakafkan paten ini karena Indonesia berada di wilayah rawan gempa, karena itu bangunan atau gedung-gedung yang dibangun sebaiknya harus dilindungi dari kemungkinan musibah gempa,” katanya.

Kris merasa perlu untuk mewakafkan paten itu, karena selama ini penggunaan desain paten tahan gempa dengan KSLL, masih dianggap cukup mahal.

“Dengan wakaf sebanyak 70% dari setiap biaya pemakaian paten KSLL, kami berharap makin banyak bangunan-bangunan terutama yang dibiayai dari wakaf memanfaatkan desain tahan gempa,” katanya.

Disinggung kenapa tidak 100% wakaf yang diberikan, Kris mengatakan, biaya 30% disiapkan untuk fasilitasi pendampingan teknis di lapangan dari PT Katama Suryabumi.

“Kami berkepentingan untuk melakukan pendampingan teknis agar tidak terjadi kesalahan dalam desain dan pemakaian KSLL,” katanya. (OL-1)

 

BERITA TERKAIT