14 December 2019, 13:55 WIB

Kasus DBD di Jakarta Mulai Meningkat


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
 ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Petugas melakukan "fogging" atau pengasapan di kawasan Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (3/12/2019)

JUMLAH kasus DBD di Jakarta mulai meningkat. Pada Oktober, kasus DBD sebanyak 73. Sementara November, jumlah kasus mencapai 102 atau naik sebanyak 39,7%.

Kenaikan ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama. Oktober 2018, jumlah kasus DBD sebanyak 110 dan di bulan berikutnya naik menjadi 136 kasus. Pada tahun lalu, jumlah kenaikannya mencapai 23,6%.

Meski demikian, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia Handayani mengatakan angka kasus DBD di awal musim penghujan ini relatif lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Ia pun menegaskan upaya-upaya pencegahan terus dilakukan sejak awal musim hujan.

"Sebetulnya kasus DBD itu ada terus sepanjang tahun. Hanya saja peningkatan akan meninggi memasuki musim hujan karena kondis cuaca yang mendukung nyamuk untuk berkembang biak. Sehingga kita sudah mulai giatkan pencegahan di awal musim hujan," kata Dwi saat dihubungi Media Indonesia, Sabtu (14/12).

Jumlah kasus diprediksi akan meningkat di bulan-bulan yang menjadi puncak musim hujan seperti Januari hingga Maret 2020. Meski demikian, tindak pencegahan harus dimulai sejak sekarang.

Baca juga: Tim FKUI Ciptakan Aplikasi Healthpoint untuk Pantau Kasus DBD

Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) menjadi tindak pencegahan utama yang bisa dilakukan di rumah masing-masing. Masyarakat diimbau bisa mandiri melakukan PSN. Jika belum memahami cara-cara PSN, petugas Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di setiap kelurahan siap membantu mengedukasi masyarakat.

"Setiap rumah diharapkan bisa memantau jentik dan melakukan pemberantasan sarang nyamuk sendiri. Karena warga pemilik rumah lah yang paling memahami sudut-sudut tempat tinggalnya yang rawan digenangi air sehingga menjadi sarang nyamuk. Juga perhatikan hal-hal kecil seperti penampung dispenser, daun-daunan, sampah gelas plastik maupun kemasan lainnya yang bisa menjadi tempat air menggenang," pungkasnya.

Sementara itu, pada puncak musim hujan di triwulan pertama 2019 sejak Januari hingga 13 Maret tercatat ada 2.883 kasus DBD di Jakarta.

Pada Januari 2019 terdapat 989 kasus, Februari 1.564 kasus dan Maret hingga tanggal 13 terdapat 330 kasus. Jumlah ini meningkat dibanding tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2018 jumlah DBD sebanyak 2.963 kasus dengan dua kematian.(OL-5)

BERITA TERKAIT