14 December 2019, 08:10 WIB

Partai Konservatif Kuasai Parlemen Inggris


Melalusa Susthira K | Internasional

AFP/Adrian DENNIS
 AFP/Adrian DENNIS
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.

PERDANA Menteri Inggris Boris Johnson gembira karena Partai Konservatif yang dipimpinnya berhasil memenangi pemilihan umum. Kemenangan itu memberi jalan bagi Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa pada bulan depan.

Partai Konservatif berhasil mengamankan ambang batas 326 kursi di parlemen untuk menjadi pemerintahan mayoritas. Dari total 650 kursi, Konservatif menguasai 362 kursi. Ini menjadi kemenangan mayoritas terbesar bagi Konservatif sejak 1987 ketika Margaret Thatcher memimpin Inggris.

Johnson menyatakan kemenangan itu juga telah mem-berinya mandat yang kuat untuk menyelesaikan Brexit.

Sebaliknya, partai oposisi utama, yakni Partai Buruh yang dipimpin Jeremy Corbyn, kehilangan 59 kursi di parlemen dan hanya mendapat 203 kursi. Perolehan itu menjadi hasil terburuk bagi partai tersebut sejak 1935.

Corbyn menyebut hasil pemilu kali ini sangat mengecewakan.

"Saya mungkin akan mundur dari kepemimpinan di Partai Buruh dan tidak akan memimpin partai ini di pemilu berikutnya," kata Corbyn di London, kemarin.

Partai Demokrat Liberal yang anti-Brexit mengumumkan akan menggantikan posisi kepemimpinan ketuanya, Jo Swinson. Demokrat Liberal hanya mendapat 11 kursi  di Skotlandia barat, kalah dari Partai Nasional Skotlandia (SNP) yang memperoleh 13 kursi.

Sumber: AFP

 

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengucapkan selamat kepada Johnson atas kemenangan besar dalam pemilu Inggris. Trump mengatakan pemerintah AS dan Inggris akan dapat mencapai kesepakatan perdagangan besar yang baru setelah Brexit.

"Kesepakatan ini memiliki potensi untuk menjadi jauh lebih besar dan lebih menguntungkan daripada kesepakatan apa pun yang bisa dibuat dengan Uni Eropa. Selamat, Boris!" kicau Trump di Twitter, kemarin.

Kemenangan Konservatif juga membuat nilai mata uang pound sterling naik sejak Kamis (12/12) malam. Kenaik-an itu menandai harapan bahwa Johnson akan menepati janji, yaitu menyelesaikan Brexit yang selama ini buntu akibat terganjal di parlemen.

Setelah kemenangan ini, Johnson akan dapat meloloskan kesepakatan perceraian dengan Uni Eropa itu dari parlemen sesuai atau bahkan sebelum batas waktu Brexit yang telah diperpanjang yakni 31 Januari 2020.

Meratifikasi kesepakatan Brexit akan mengakhiri hampir lima dekade integrasi Inggris dengan Uni Eropa. (AFP/Uca/X-11)

BERITA TERKAIT