14 December 2019, 08:00 WIB

Tanpa UN, Guru Diminta Latih Murid Bernarasi


Indriyani Astuti | Humaniora

MI/ROMMY PUJIANTO
 MI/ROMMY PUJIANTO
Guru Besar UI, Rhenald Kasali.

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mewacanakan akan mengubah metode ujian nasional (UN) yang selama bertahun-tahun sudah dijalankan. UN akan diubah dengan asesmen kompetensi minimum dan survei karakter yang terdiri atas kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter.

Dalam menanggapi itu, akademisi sekaligus praktisi bisnis Rhenald Kasali mengatakan, ketika UN diputuskan diubah, guru harus belajar dengan cara baru untuk meningkatkan kapabilitas murid.

Selama ini, menurut Rhenald, murid hanya menghafal pelajaran. Padahal, yang dibutuhkan ialah kemampuan berpikir dengan level lebih tinggi, yakni menganalisis dan berkreasi. Peran guru menjadi penting dalam penerapannya.

"Tipe guru yang dibutuhkan bukan yang mengajar dengan ceramah di depan kelas, tetapi bagaimana bisa membangun kemampuan anak bernarasi," cetus Rhenald di sela-sela peluncuran buku yang ia tulis bersama istrinya, Elisa Kasali, berjudul Sentra Inspiring School di Jakarta, kemarin.

Ia mencontohkan anak-anak tahu jawaban 4 dikalikan 6 sama dengan 24. Namun, pada kemampuan berpikir yang lebih tinggi, mereka paham bagaimana menarasikan jawaban dan mengkreasikannya menjadi bentuk lain seperti orang yang bertubuh lebih besar bisa mengangkut 4 balok kayu dan hanya perlu bolak-balik mengambilnya selama enam kali. Sebaliknya, orang yang bertubuh kecil hanya bisa mengangkut 2 balok kayu dan harus bolak-balik selama 12 kali.

"Dengan narasi dan kreasi, itu akan mudah dimengerti. Dari tadinya anak menghafal, sampai akhirnya kreasi dan menganalisis. Selama ini, kita beranggapan anak sudah pintar kalau punya kemampuan cepat menghafal," tukasnya.

 

Motivasi guru

Dalam kaitan yang sama, Wakil Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Hetifah Sjaifudian meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memperhatikan faktor motivasi guru setelah keluarnya empat kebijakan pokok pendidikan Merdeka Belajar, termasuk di soal penghapusan ujian nasional.   

ANTARA FOTO/ASEP FATHULRAHMAN

Sejumlah guru mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG).

 

"Tingkat motivasi guru itu berbeda-beda. Ada yang memang idealis dan memiliki semangat mengajar tinggi. Kebijakan ini menjadi semangat untuk berinovasi. Namun, ada juga yang tidak," ujar Hetifah di Jakarta, kemarin.

Hetifah menambahkan perubahan kebijakan itu akan memberikan dampak signifikan dalam proses pembelajaran.

"Saat guru diberikan kebebasan lebih, daya kreativitasnya akan muncul. Mereka akan memikirkan cara-cara bagaimana panduan yang ada dalam Kurikulum 2013 itu dapat diterjemahkan dan diserap lebih baik oleh peserta didik sesuai konteks masing-masing," jelas dia.   

Di lain pihak, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif meminta rencana Mendikbud Nadiem Makarim menghapus UN tidak diputuskan secara tergesa-gesa serta perlu kajian mendalam.

"Jangan serampangan (menghapus UN). (Pendidikan) ini bukan Gojek," cetus Syafii di Yogyakarta, Kamis (12/12).

Menurut Syafii, rencana penghapusan UN tidak bisa direali-sasikan secara instan. Rencana itu, kata dia, harus diputuskan secara hati-hati serta perlu ditinjau dari berbagai perspektif.

"Harus dikaji ulang mendalam dengan melibatkan pakar pendidikan yang mengerti betul," kata dia.

Syafii khawatir, jika akhirnya UN yang selama ini dipandang sebagai penjaga mutu belajar siswa dihapus, para siswa tidak serius lagi belajar. (RF/SJ/RD/AD/Ant/X-6)

BERITA TERKAIT