14 December 2019, 07:10 WIB

Erick Sikat Ratusan Anak dan Cucu BUMN


Faustinus Nua | Ekonomi

ANTARA FOTO/Galih Pradipta
 ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Menteri BUMN, Erick Thohir.

AKSI Menteri BUMN Erick Thohir membenahi manajemen dan kinerja perusahaan pelat merah bergulir semakin kencang sejak dipicu kasus pesawat Garuda mengangkut motor Harley Davidson dan sepeda Brompton.

Kemarin, Erick menyoroti jumlah anak dan cucu perusahaan di berbagai BUMN yang dinilainya terlalu banyak. Selain itu, bisnis yang dijalankan tidak berbeda dengan perusahaan induk. Di sektor perhotelan tercatat 85 hotel yang dimiliki BUMN.

"Kalau benar datanya, BUMN punya 85 hotel. Itu bisa jadi salah satu pemain hotel terbesar. Apakah akan digabungkan? Itu di-listing, yang bagus kinerjanya digabungkan agar transparan," kata Erick seusai mengikuti seminar Ikatan Ahli Ekonomi Islam di Jakarta, kemarin.

Erick juga mengamati PT Pertamina (persero) yang juga memiliki ratusan anak dan cucu perusahaan. Menurut dia, anak dan cucu perusahaan minyak negara itu perlu ditinjau agar tidak dimanfaatkan pihak-pihak yang justru merugikan induknya.

"Pertamina memiliki 142 anak usaha. Apa saja dan bagaimana kesehatan usahanya? Saya nggak mau 142 perusahaan itu ternyata hanya oknum yang menggerogoti Pertamina," lanjut Erick.

Ketika menyinggung PT Garuda Indonesia (persero), Erick tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Di maskapai nasional itu ada anak dan cucu perusahaan yang namanya terdengar asing di telinga.

"Saya tergelitik ada cucu perusahaan Garuda namanya Garuda Tauberes Indonesia. Saya baru tahu. Semua kan harus sejalan dengan bisnis induk agar tidak menjadi kendaraan bagi oknum untuk menggerogoti," ujar Erick.

Rasa penasaran Erick terus berlanjut ketika mengetahui mantan Dirut Garuda Ari Askhara menjadi komisaris di enam anak dan cucu perusahaan Garuda, yakni Komisaris Utama PT GMF AeroAsia (anak), Komisaris Utama PT Citilink Indonesia (anak), Komisaris Utama PT Aerofood Indonesia (cucu), Komisaris Utama PT Garuda Energi Logistik & Komersil (cucu), Komisaris Utama PT Garuda Indonesia Air Charter (cucu), dan Komisaris Utama PT Garuda Tauberes Indonesia (cucu).

"Saya kaget. Masa sudah jadi dirut masih jadi komisaris di banyak perusahaan. Saya nggak mau semua berlomba jadi komisaris. Misalnya, di Pertamina ada 142 perusahaan lalu direksinya menjadi komisaris di 142 perusahaan. Itu kan lucu-lucuan. Kami sikat itu nanti," ungkap Erick.

Sumber: BUMN

 

Tidak produktif

Dalam kesempatan terpisah, Wakil Presiden Ma'ruf Amin  juga meminta anak dan cucu BUMN tidak mengambil peran usaha kecil dalam menjalankan bisnis. "Jangan ke mana-mana sampai mengambil peran usaha kecil."

Dalam penilaian pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, Hilda Rosieta, anak dan cucu perusahaan BUMN yang tidak produktif seharusnya diakuisi sesuai ketentuan hukum yang berlaku pada perseroan terbatas (PT).

"Perusahaan yang tidak perform di-take over. Kalau bisnisnya untung, bisa diteruskan. Anak perusahaan seperti hotel-hotel kecil membentuk grup atau anak perusahaan itu menjadi pemasok hotel," tandas Hilda. (X-3)

BERITA TERKAIT