13 December 2019, 23:29 WIB

Menko PMK Ajak Anak Muda Teladani Pemikiran Syafii Maarif


Syarief Oebaidillah | Humaniora

MENJADI Pemikir yang baik dan unggul seperti Tokoh Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif harus diiringi dengan kemampuan menulis dan keterampilan berbicara yang baik

Semua itu dapat diasah dengan mulai membiasakan diri lewat banyak membaca aneka macam literatur serta penguasaan bahasa asing.

Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Pembukaan Sekolah Kemanusiaan dan Kebudayaan Ahmad Syafii Maarif (SKK-ASM) yang digagas oleh Maarif Institute di Ciputat, Tangerang Selatan, Jmat (13/12).

“Butuh jalan panjang untuk dapat menjadi seorang Pemikir seperti Buya (Ahmad Syafii Maarif). Saya coba memahami pemikiran Beliau itu dengan membaca tesisnya lalu berhubungan baik. Dari Buya, Saya belajar banyak tentang kemanusiaan, toleransi, keberagaman, keislaman secara utuh, dan sebagainya. Anak-anak muda memang sudah seharusnya juga dapat mempelajari semua pemikiran Buya,” ujar Muhadjir.

Muhadjir menegaskan, berbagai pemikiran Buya Syafii Maarif merupakan khazanah intelektual yang sangat berharga.

Baca juga : Buya Syafii Ucapkan Selamat Untuk Kardinal Baru

“Buya punya cita-cita yang besar dan terus-menerus gelisah terhadap krisis yang menerpa bangsanya. Karena itu, Saya berharap sikap intelektual, kebersahajaan, dan keteladanan yang ada pada diri Buya bisa menjadi virus positif bagi segenap Masyarakat di Indonesia, terutama di kalangan generasi muda. Sebagaimana ini menjadi salah satu tujuan diselenggarakannya Sekolah Kemanusiaan dan Kebudayaan Ahmad Syafii Maarif yang tahun ini sudah memasuki periode ketiga.”
 
Pada kesempatan itu, Muhadjir juga menjajaki kerjasama dengan lembaga pendidikan tinggi semacam ITB Ahmad Dahlan dalam pengembangan pembangunan manusia yang unggul.

SKK-ASM tahun ini merupakan penyelengaraan yang ketigakalinya dan tercatat 25 Peserta berhasil lolos setelah menyingkirkan 120 pelamar yaitu merupakan mahasiswa yang tengah menempuh studi S1,S2, ataupun doktoral di berbagai kampus di tanah air.

Ke-25 Peserta SKK-ASM Periode III ini tercatat berasal dari Papua, Bima, Ambon, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, dan Madura.  
 
SKK-ASM diselenggarakan dengan tujuan untuk merawat pemikiran dan berbagai ide pemikiran Buya Syafii Maarif terutama tentang keislaman, kebangsaan, kemanusiaan, dan kebhinekaan.

Baca juga : Soekarno tidak Beriman? Buya Syafii: Salah Besar

SKK-ASM juga jadi ajang kaderisasi intelektual sekaligus melembagakan gagasan dan cita-cita sosial Buya.

Melalui sekolah itu, diharapkan generasi muda Indonesia mendatang dapat mewarisi pemikiran Buya atau setidaknya memiliki perspektif dan sikap intelektual yang relatif sama dalam memotret dinamika, perubahan, dan perkembangan kehidupan keberagaman di Indonesia.
 
Seminar Pembukaan Jumat pagi ini dihadiri oleh Direktur Eksekutif Maarif Institute Abd Rohim Ghazali, Rektor ITB-AD Mukhaer Pakkana, jajaran Pengurus Maarif Institute, dan Perwakilan Asia Foundation.

BERITA TERKAIT