13 December 2019, 15:53 WIB

Boris Raih Kemenangan di Pemilu Inggris Penentuan Brexit


Melalusa Susthira K | Internasional

Ben STANSALL / AFP
 Ben STANSALL / AFP
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson

PERDANA Menteri Inggris Boris Johnson menyerukan gempa politik telah terjadi setelah berhasil memenangkan pemilihan umum yang digelar Kamis (12/12). Kemenangan Partai Konservatif tersebut memberi jalan lapang bagi Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa (UE) bulan depan, setelah bertahun-tahun mengalami kebuntuan Brexit.

Partai Konservatif yang dipimpin Johnson berhasil mengamankan ambang batas 326 kursi di parlemen untuk menjadi pemerintahan mayoritas. Dari total 650 kursi di parlemen, Konservatif berhasil meraup 362 kursi dalam pemilu Inggris. Kemenangan itu menjadi mayoritas terbesar bagi Konservatif sejak 1987, ketika Margaret Thatcher memimpin Inggris

Sebelumnya, Konservatif memperoleh kemajuan dalam jajak pendapat selama berminggu-minggu. Namun, kemenangan skala besar yang diperoleh Konservatif pada pemilu kali ini tidak terduga. Johnson pun mendeklarasikan bahwa kemenangan tersebut telah memberinya mandat baru yang kuat untuk menyelesaikan Brexit.

"Kita harus mengerti sekarang, gempa apa yang telah kita ciptakan. Cara kita mengubah peta politik di negara ini," ujar Johnson saat pertemuan Partai Konservatif.

Sebaliknya, partai oposisi utama, Partai Buruh, tak berhasil mengamankan mayoritas 326 kursi di parlemen. Partai Buruh yang dipimpin Jeremy Corbyn justru harus kehilangan 59 kursinya di parlemen, karena hanya meraup 203 kursi dalam pemilu Inggris kali ini. Perolehan tersebut menjadi hasil terburuk bagi partai tersebut sejak 1935.

Corbyn pun menyebut pengumuman pemilu itu sebagai malam yang sangat mengecewakan. Kekalahan tersebut juga membuatnya menyatakan mengundurkan diri dari kepemimpinannya di Partai Buruh dan tidak akan memimpin partai itu ke pemilu berikutnya, yang dijadwalkan digelar pada 2024 mendatang.

Adapun Partai Demokrat Liberal yang anti-Brexit mengumumkan mereka akan menggantikan posisi kepemimpinan Jo Swinson, setelah Demokrat Liberal harus kehilangan kursinya di Skotlandia barat yang direbut oleh Partai Nasional Skotlandia (SNP) dengan memperoleh 13 kursi. Liberal Demokrat diperkirakan hanya akan memenangkan 11 kursi, berkurang satu kursi dibandingkan pemilu dua tahun lalu.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengucapkan selamat kepada Johnson atas kemenangan besar yang diperolehnya dalam pemilu Inggris. Ia mengatakan pemerintah AS dan Inggris akan dapat mencapai kesepakatan perdagangan besar yang baru setelah Brexit.

"Kesepakatan ini memiliki potensi untuk menjadi jauh lebih besar dan lebih menguntungkan daripada kesepakatan apa pun yang bisa dibuat dengan EU. Rayakan Boris!" cicit Trump, Jumat (13/12).

Prediksi kemenangan Konservatif juga membuat Poundsterling naik sejak Kamis (12/12) malam. Kenaikan Poundsterling tersebut menandai harapan bahwa Johnson akan menepatkan janjinya untuk membawa Brexit keluar dari kebuntuan, yang membuat masa depan Inggris selama bertahun-tahun berada dalam ketidakpastian.

Dengan mayoritas besar anggota parlemen yang akan dikantongi Konservatif, Johnson akan dapat membawa kesepakatan perceraian dengan Dewan Eropa lolos dari parlemen sesuai atau bahkan sebelum batas waktu Brexit yang telah diperpanjang, yakni pada 31 Januari mendatang.

Meratifikasi kesepakatan Brexit akan mengakhiri hampir lima dekade integrasi Inggris dengan Uni Eropa (UE), meskipun kedua belah pihak masih perlu untuk membicarakan perjanjian perdagangan dan keamanan baru. (afp/OL-4)

BERITA TERKAIT