12 December 2019, 22:19 WIB

Pendaki Merah Putih Bersiap Jajal Atap Asia Tenggara nan Ekstrem


Briyan B Hendro | Weekend

MI/Briyan B Hendro
 MI/Briyan B Hendro
Ketua Umum Ekspedisi Mayjen TNI Asrobudhi (tengah), Ketua Pelaksana Ekspedisi Galih Donikara (ketiga dari kanan), bersama para ekspeditor. 

Kamis (12/12) siang, nama-nama elit di dunia pendakian Tanah Air berkumpul di bilangan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Mereka adalah Sofyan Arif Fesa dan Fransisca Dimitri, penyandang gelar World 7 Summiter --pendaki yang sudah menapaki 7 puncak tertinggi di 7 lempeng benua-- dari Mahitala Unpar, Nurhuda, World 7 Summiter dari Wanadri, serta Fandi Achmad, atlet trail running dari Mapala UI.

Mereka mengumumkan sebuah ekspedisi besar yang akan digelar pada Agustus 2020, yakni pendakian ke Gunung Hkakabo Razi (baca: Kakaborazi), di Myanmar.
 
Gunung dengan ketinggian 5.881 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini terkenal dengan medan yang sangat kompleks dan berbahaya, mulai dari hutan hujan yang sangat lebat di kaki gunung, sampai lapisan salju dan gletser pada ketinggian 4.600 mdpl sampai ke puncaknya. Titik tertingginya pun telah diakui sebagai puncak tertinggi di Asia Tenggara. Sebagai pembanding, Carstensz Pyramid atau Puncak Jaya memiliki ketinggian 4.884 mdpl.

Begitu beratnya medan Hkakabo Razi, para seven summiters menjulukinya Anti Everest. Yaitu, kondisi yang sama sekali bertolak belakang dengan Gunung Everest yang sudah sangat mapan jalur pendakian dan infrastrukturnya.

Menurut Galih Donikara, Ketua Pelaksana Ekspedisi, Hkakabo Razi beralaskan hutan hujan yang masih perawan, lembab, gelap, serta penuh binatang berbahaya seperti ular piton, laba-laba, dan nyamuk malaria. Untuk menggapai kaki gunungnya, para pendaki  pun harus trekking membelah hutan hujan tropis sedikitnya 200 km.

Proses pendakian akan relatif berat lantaran, berbeda dengan Everest, tidak tersedia jasa porter di sana. Semua perbekalan harus dibawa sendiri oleh para pendaki.

Sebelumnya, pada 2014, enam pendaki elit dunia seperti Mark Jenkins, Cory Richards, Renan Ozturk, Hilaree O'Neill, Emily Harrington, dan Taylor Rees juga mengadakan ekspedisi bersama National Geographic untuk menggapai puncak Hkakabo Razi.

Naas, setelah berminggu-minggu berjuang di medan yang ekstrem, mereka harus gigit jari lantaran gagal menggapai titik tertingginya. “Saya tahu Renan ozturk, meski dia seorang fotografer, tapi latar belakangnya adalah pendaki. Meru, yang selama ini dianggap gunung tersulit di dunia saja bisa dia capai,” jelas Nurhuda, salah satu ekspeditor.

Kini, persiapan tim sudah disusun dengan matang. Mulai dari survei, perizinan, pelatihan fisik sampai penyesuaian iklim setibanya di sana. Beberapa waktu lalu tim juga sudah berlatih teknik pendakian gunung es dan salju di Mount Cook (Aoraki), Selandia Baru.

Rencananya, pelatihan selanjutnya untuk penjelajahan di hutan tropis akan dilakukan di Gunung Raung di Jawa Timur, Gunung Halimun, dan Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat.

“Tim kemudian akan melakukan simulasi pendakian di Pangrang Razi, gunung tropis lainnya yang berada di Myanmar sebagai adaptasi dan aklimatisasi, sebelum kemudian mengakhiri program latihan di ketinggian Gunung Kangteng Ri di Kierzikstan,” ujar Galih Donikara.

Selain empat pendaki elit di atas, Putri Handayani, petualang Indonesia yang telah menjajal Grandslam (menjelajah Kutub Utara dan Kutub Selatan Bumi) juga bergabung dalam tim pendakian. Selain itu, Iwan ‘Kwecheng’ Irawan, World 7 Summiter dari Wanadri, akan menjadi komandan lapangan saat ekspedisi.

Adapun perjalanan rencananya akan dimulai pada 17 Agustus 2020, karena menurut lembaga pengamatan cuaca Myanmar, cuaca untuk pendakian akan lebih baik pada bulan Agustus-September.

Ekspedisi juga didukung penuh produsen perlengkapan luar ruang terbesar di Indonesia, Eiger. Ekspedisi Hkakabo Razi sekalian menjadi ajang pembuktian kualitas produk Eiger di medan tropis hingga bersalju.
 
“Pendakian nantinya akan menggambarkan semangat juang para pendaki kita, di mana para pendaki dari berbagai latar belakang akan bekerja sama dalam sebuah petualangan pendakian dengan target mengibarkan bendera Merah Putih di puncak Hkakabo Razi sebagai hadiah ulang tahun ke-75 RI. Medan berat ini juga akan jadi tempat yang cocok untuk membuktikan kualitas produk kami,” ujar Harimula Muharam, General Manager Marketing PT Eigerindo MPI yang juga Ketua Harian Ekspedisi Merah Putih Hkakabo Razi 2020 ini.

Rangkaian petualangan Eiger di kawasan tropis sudah dimulai dari kawasan Merabu dan Beriun di jantung hutan hujan tropis Kalimantan lewat ekspedisi Black Borneo pada tahun 2015 dan 2016. Dilanjutkan dengan Ekspedisi 28 Gunung Tropis Indonesia dari Aceh sampai Papua pada 2017.

Tahun 2020, bertepatan dengan HUT ke-75 RI, Eiger mulai memperluas penjelajahan dan petualangannya ke kawasan Asia Tenggara sebelum melanjutkannya ke tingkat Asia dan dunia. (M-2)

BERITA TERKAIT