12 December 2019, 22:10 WIB

'Rangga' Ajak Sentuh Kepedulian Lingkungan Masyarakat Lewat Film


Thalatie K Yani Laporan dari Madrid, Spanyol | Humaniora

MI/ARYA MANGGALA
 MI/ARYA MANGGALA
Nicholas Saputra

SIAPA bilang untuk menajak kepedulian akan kondisi lingkungan hanya bisa dilakukan aktivis, peneliti, pemerintah atau koorporasi? Nicholas Saputra ingin menyentuh perasaan orang Indonesia akan krisis lingkungan hidup melalui film.

"Sebenarnya film ini kita buat untuk menyentuh orang indonesia, kita mau berbicara soal lingkungan hidup, kita mau bicara climate change selama ini kita dengarnya dari politisi, scientis, ambasador dari birokrat, tapi saya ingin sentuh dari yang paling dekat dengan masyarakat Indonesia, yaitu agama, kepercayaan, dan budaya. Strateginya begitu mudah-mudahan bisa berkomunikasi lebih personal dengan para penonton," ujar Nicholas kepada wartawan usai menjadi pembicara storytelling to comunicate climate change di Pavilion Indonesia, Ferie de Madrid (IFEMA), Madrid, Spanyol, Kamis (12/12).

Pemeran Rangga dalam Film Ada Apa Dengan Cinta ini mengaku memilih film dokumentari untuk melihat tindakan nyata masyarakat Indonesia yang menerapkan ajaran agama untuk menjaga lingkungan guna menghadapi kriris iklim. Film yang mengambil cerita dari tujuh daerah berbeda di Indonesia ini dibuat tahun 2018/2019 bersama antara Proyek di Ditjen PPI Kementerian lingkungan hidup dan kehutanan dengan dukungan EU- SICRTAC.

"Melalui dokumentari kita bisa memperlihatkan kenyataan, kita bisa memperlihatkan kejadian yang sebenarnya terjadi, untuk memperlihatkan keaslian, kenyataan dan sesuatu yang real, ada perubahan di sana. Perubahan prilaku, mereka harus beradaptasi dengan lingkungan dan iklim mesti ditampilkan secara real, dan dokementary suatu cara terbaik untuk memperlihatkan itu.," ujarnya,

Salah satu tokoh yang diceritakan merupakan keluarga dari Yogyakarta. Keluarga itu, kata Nicholas mengelola tiga hektare (Ha) lahan yang tandus dan berbatu. Secara perlahan mereka berhasil membuat kawasan itu menjadi subur kembali.

"Mereka mempraktekan argoforesty yang semuanya tidak ada waste. Mereka makan dari kebun sendiri, ini sebuah gerakan prinsip yang bisa menjadi contoh praktek argo kultur yang baik, ini berdasarkan iman islamnya beliau," ujarnya.

Nico mengaku beruntung bisa menjadi produser dalam film ini. Apalagi sebelum pengambilan gambar, ia dan timnya melakukan riset literasi. Saat di lapangan pun, ia sempat tidak berhasil menemukan narasumber yang ia inginkan.

"SAya beruntung pergi ke sana langsung, walau kadang-kadang ga dapat, tapi di area yang sama bisa kita ceritakan," celetuknya. (OL-4)

BERITA TERKAIT