13 December 2019, 00:00 WIB

Pemilu Inggris akan Tentukan Nasib Brexit


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP
 AFP
Pemilu Inggris akan Tentukan Nasib Brexit

WARGA Inggris kemarin berbondong-bondong datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk memilih anggota parlemen. Hasil pemilu kali ini juga akan menentukan nasib Brexit yaitu rencana Inggris keluar dari Uni Eropa (UE).

Jika menang dengan perolehan suara yang besar, Perdana Menteri Boris Johnson pasti akan meneruskan rencana Brexit dan Inggris akan mengakhiri keterlibatannya dalam 46 tahun terakhir dengan UE.
Setelah itu Inggris bisa memutuskan masa depan yang baru berdasarkan hubungan yang lebih dekat dengan Amerika Serikat atau bahkan Tiongkok.

Namun jika kalah, maka oposisi akan berkuasa dan bisa mengubah rencana Brexit sekaligus menempatkan pemerintahan sayap kiri di bawah pimpinan Jeremy Corbyn.

Corbyn sudah berkomitmen merenasionalisasi industri dan mengeluarkan bujet lebih besar untuk sektor publik.

Sejumlah TPS dibangun di berbagai daerah di Inggris, Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara. Pemilu ini sendiri dipandang sebagai salah satu pemilu terpenting di Inggris dan merupakan pemilu ketiga dalam lima tahun terakhir.

Johnson, yang mengatakan perbedaan suara ini bisa sangat tipis, menjadi pemimpin partai pertama yang memberikan suara. Ia tiba bersama anjingnya, Dilyn, di sebuah TPS di pusat London.

Hasil jajak pendapat, yang sebelumnya memberikan hasil keliru pada pemilu 2017, menyatakan Partai Konservatif pimpinan Johnson akan menang. Namun hasilnya terlalu kecil untuk bisa membentuk pemerintahan mayoritas.

Sedangkan Corbyn, yang sebelumnya dihantui masalah antisemitisme di dalam Partai Buruh yang dipimpinnya maupun masalah sikapnya yang netral soal Brexit, terlihat mengacungkan jempol sebelum memberikan suara di sebuah TPS di London utara.

Sementara pimpinan Partai Liberal Demokrat, Jo Swinson serta pimpinan Partai Nasional Skotlandia, Nicola Sturgeon memberikan suara mereka di TPS di Glasgow.


Perebutan parlemen

Partai-partai politik akan memperebutkan 650 kursi di parlemen Inggris. Sebelumnya terjadi kebuntuan di parlemen sejak terjadinya referendum tahun 2016 soal keanggotaan Inggris di Uni Eropa. Saat itu mayoritas memilih keluar dari UE meski dengan perbedaan suara yang tipis.

Hasil awal pemilu ini akan keluar pada pagi hari ini. Johnson, yang mengambil alih kursi perdana menteri dari Theresa May pada Juli 2019 akibat May tak mampu membujuk parlemen untuk setuju dengan kesepakatan Brexit yang dibuatnya, berharap akan mampu meraih suara mayoritas.

“Bayangkan bagaimana indahnya kalau masalah Brexit sudah bisa selesai pada Natal nanti,” ujarnya.
Sedangkan Corbyn mengusulkan adanya renegosiasi dengan Uni Eropa terkait pasal-pasal Brexit yang lebih lunak dan bahkan mengusulkan adanya referendum terbaru.

Jika Buruh menang, maka bisa saja Inggris akan tetap bertahan di dalam Uni Eropa yang beranggotakan 27 negara.

“Pilihlah perubahan yang nyata. Pilihlah harapan,” tegas Corbyn. (AFP/X-11)

BERITA TERKAIT